LOGINMalam sebelum keberangkatan, Marcel me-mention namaku di grup. [Coba cek tiket pesawatmu, deh.] Aku membuka detail pesanan. Statusnya menunjukkan tiket sudah dibatalkan. Waktu pembatalannya tiga hari yang lalu. Belum sempat aku mengetik balasan, pesan-pesan di grup langsung bermunculan satu demi satu. Vania: [Aku taruhan sama Marcel, kamu bakal cek tiket sebelum berangkat atau nggak. Aku yakin kamu nggak bakal cek. Eh, dia malah nyuruh kamu cek sendiri. Curang!] Marcel: [Udah, deh. Toh, kamu tetap kalah. Buktinya, dia baru sadar sekarang. Buruan pesan ulang sana. Cuma nggak bisa duduk bareng lagi aja.] Mereka mengobrol dengan begitu riangnya. Sama persis seperti taruhan yang mereka buat waktu itu. Tentang berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menyadari bahwa kamar hotel kami yang awalnya twin room telah diubah menjadi kamar bertiga, sampai-sampai aku harus tidur di folding bed. Begitu juga dengan taruhan-taruhan mereka sebelumnya. Apa aku akan menyadari bahwa satu-satunya galeri seni di dalam itinerary sengaja diganti menjadi escape room. Setiap kali aku bilang keberatan, jawaban mereka selalu sama. “Kalau kamu nggak bilang, gimana kita tahu kamu keberatan?” Padahal, mereka tak pernah sekalipun bertanya. Aku tak memesan ulang tiket itu. Sebaliknya, aku membuka aplikasi lain dan mencari penerbangan menuju Islavia. Melihat aurora di suhu minus lima belas derajat. Sendirian. Mungkin, justru itu yang terbaik.
View MoreTiga tahun kemudian, di tengah musim dingin, aku kembali ke tanah air untuk mengurus hak kepemilikan rumah lama yang ditinggalkan orang tuaku.Raka ikut pulang bersamaku.Setelah semua urusan selesai dan kami keluar dari lobi, salju turun semakin lebat.Dia membantuku menaikkan syal yang melilit leherku.“Dingin?”“Lumayan.”“Mobilnya ada di seberang. Aku ambil dulu. Kamu tunggu di sini, ya?”Aku menggeleng.“Kita jalan bersama saja.”Saat tiba di persimpangan, aku melihat seorang pria yang sedang berjongkok di tepi jalan.Mantel tuanya sudah lusuh. Tubuhnya pun kurus. Di dalam pelukannya, dia melindungi sebuah kue stroberi murah.Marcel.Dia tak mengenaliku.Atau lebih tepatnya, tatapannya hanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.Di sana terpampang foto profil Whatsapp yang sudah lama dinonaktifkan.Dia berbicara lirih, seolah takut membangunkan seseorang.“Alya, hari ini ulang tahunmu. Aku nggak salah beli. Kamu nggak alergi stroberi.”Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan denga
Marcel tampak kurus hingga hampir tak bisa dikenali. Mantel hitam yang dikenakannya pun menggantung longgar di tubuhnya.Vania juga tak lagi terlihat cerah seperti dulu. Rambutnya hanya diikat asal, dengan lingkaran hitam yang jelas terlihat di bawah matanya.Mereka jelas datang terburu-buru.Marcel menerobos kerumunan dan berjalan ke arahku.Matanya memerah. Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.“Alya.”Aku tak menjawab.Dia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya, lalu berlutut dengan satu kaki.Para tamu di sekitar kami pun terdiam.“Aku nggak bertaruh dengan siapa pun. Aku juga nggak bercanda.”Dia mendongak menatapku. Suaranya bergetar.“Aku benar-benar datang untuk memintamu menikah denganku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku seumur hidup. Mau, ya? Kumohon.”Vania mendekat sambil menangis. Tangannya terulur hendak meraih ujung lengan bajuku.“Alya, aku benar-benar sudah tahu apa artinya menjaga batas dengan orang lain. Aku dipecat karena sembarangan bercand
Angin di Ravenvik begitu menusuk, menerpa wajah seperti butiran-butiran es kecil.Saat menjemputku di bandara, hal pertama yang dilihat dosen pembimbingku adalah perban yang membalut tubuhku.Dia tak bertanya apa-apa. Hanya melepas syalnya dan menyampirkannya di bahuku.“Pemanas di studio cukup hangat. Tidurlah dulu.”Aku mengangguk.Di sini, tak ada seorang pun yang menjadikan diamku sebagai bahan taruhan.Tak ada juga yang menganggap batasanku sebagai sesuatu yang membuat suasanan menjadi canggung.Aku mulai menata kembali kumpulan karyaku.Laptop yang rusak sudah dikirim untuk diperbaiki, sementara hard disk cadangan berhasil menyelamatkan sebagian besar berkas.Lapisan gambar yang hilang kugambar ulang satu per satu.Terkadang, saat masih melukis hingga larut malam, luka di lenganku terasa gatal.Dosen pembimbingku akan mengetuk pintu, lalu meletakkan semangkuk sup hangat di tepi meja.“Nggak perlu terburu-buru, Alya. Sebuah karya seni nggak seharusnya dibayar dengan nyawa.”Pada m
Saat terbangun, lenganku sudah terpasang penyangga di sisi ranjang rumah sakit.Seorang perawat sedang menunduk mengganti perban lukaku. Begitu melihatku membuka mata, dia segera merendahkan suaranya.“Lengan bawah Ibu dijahit tujuh jahitan. Darah yang keluar juga cukup banyak. Sekuriti kompleks mendengar suara kaca pecah, lalu mendobrak pintu dan membawa Ibu ke sini.”Aku menatap langit-langit dalam diam. Beberapa detik kemudian, barulah kurasakan tenggorokanku kering dan perih.Perawat menyerahkan ponselku.“Baru saja selesai di-charge. Dari tadi terus berdering.”Di layar, ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab.Semuanya berasal dari Marcel.Vania juga mengirim banyak pesan suara.Aku tak membukanya.Seorang teman yang kami kenal bersama lebih dulu mengirimiku sebuah video.Dalam video itu, Marcel duduk santai di sofa sambil memegang segelas minuman.“Alya memang sudah terlalu dimanja. Dikunci beberapa jam saja, nanti dia akan tahu siapa yang benar-benar memperlakukannya deng
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.