Short
Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat

Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat

By:  JanCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Malam sebelum keberangkatan, Marcel me-mention namaku di grup. [Coba cek tiket pesawatmu, deh.] Aku membuka detail pesanan. Statusnya menunjukkan tiket sudah dibatalkan. Waktu pembatalannya tiga hari yang lalu. Belum sempat aku mengetik balasan, pesan-pesan di grup langsung bermunculan satu demi satu. Vania: [Aku taruhan sama Marcel, kamu bakal cek tiket sebelum berangkat atau nggak. Aku yakin kamu nggak bakal cek. Eh, dia malah nyuruh kamu cek sendiri. Curang!] Marcel: [Udah, deh. Toh, kamu tetap kalah. Buktinya, dia baru sadar sekarang. Buruan pesan ulang sana. Cuma nggak bisa duduk bareng lagi aja.] Mereka mengobrol dengan begitu riangnya. Sama persis seperti taruhan yang mereka buat waktu itu. Tentang berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menyadari bahwa kamar hotel kami yang awalnya twin room telah diubah menjadi kamar bertiga, sampai-sampai aku harus tidur di folding bed. Begitu juga dengan taruhan-taruhan mereka sebelumnya. Apa aku akan menyadari bahwa satu-satunya galeri seni di dalam itinerary sengaja diganti menjadi escape room. Setiap kali aku bilang keberatan, jawaban mereka selalu sama. “Kalau kamu nggak bilang, gimana kita tahu kamu keberatan?” Padahal, mereka tak pernah sekalipun bertanya. Aku tak memesan ulang tiket itu. Sebaliknya, aku membuka aplikasi lain dan mencari penerbangan menuju Islavia. Melihat aurora di suhu minus lima belas derajat. Sendirian. Mungkin, justru itu yang terbaik.

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat bunyi kunci terdengar dari pintu, aku sedang memasukkan sepasang kaus kaki wol terakhir ke dalam koper.

Marcel dan Vania membuka pintu lalu masuk. Di tangan mereka ada kacamata snorkeling, baju pelindung matahari, serta sekantong stiker pelampung warna-warni.

Vania lebih dulu melihat mantel tebal di sofa.

Dia tertegun selama dua detik.

Lalu tertawa sampai tubuhnya membungkuk.

“Marcel, transfer uangnya.”

Dia menunjuk koperku sambil tertawa hingga hampir menitikkan air mata.

“Sudah kubilang dia pasti marah. Dia malah sengaja membereskan baju musim dingin buat menakut-nakuti kita.”

Marcel bersandar di dekat pintu masuk. Sambil menunduk, dia mentransfer uang kepada Vania dengan senyum tak berdaya di sudut bibirnya.

“Baiklah, kamu menang.”

Setelah menyimpan ponselnya, dia berjalan menghampiriku. Tangannya terangkat, hendak mengusap rambutku.

“Alya, tiket pesawatnya sudah kubeli lagi. Kali ini kami memang sudah keterlaluan. Jangan marah lagi, ya. Cepat keluarkan baju-baju tebal ini. Di Sanara nggak bakal kepakai.”

Aku bergeser ke samping, menghindari tangannya.

Tangan Marcel berhenti di udara. Alisnya sedikit berkerut.

“Kenapa jadi benar-benar marah begini?”

Aku menutup koper, lalu menarik gagangnya.

“Aku nggak jadi ke Sanara. Selamat bersenang-senang.”

Senyum di wajah Vania membeku sesaat. Namun, dia segera mendekat dan mengulurkan tangan, hendak merangkulku.

“Jangan begitu, dong. Tiketnya ‘kan sudah dibeli lagi. Kalau kamu nggak mau duduk sendirian, aku bisa minta Marcel bertukar tempat duduk denganmu. Aku duduk di belakang saja, gimana?”

Aku menunduk, menatap tangannya yang hendak menyentuhku.

“Jangan sentuh aku.”

Vania tertegun.

Wajah Marcel pun sedikit menggelap.

“Alya, cuma gara-gara lelucon soal tiket dibatalkan, apa perlu sampai begini?”

Aku menatapnya.

“Kalian membatalkan tiketku, menjadikan perjalananku sebagai bahan taruhan, lalu masih bertanya apa perlu aku sampai begini?”

Marcel menekan lidahnya ke bagian dalam pipi, berusaha menahan rasa tak sabar.

“Bukankah sudah kami perbaiki? Aku sudah membeli tiket baru semalam. Nggak mungkin aku membiarkanmu benar-benar batal pergi.”

Vania ikut mengangguk. Nada bicaranya berubah menjadi merasa dizalimi.

“Iya. Kami juga nggak berniat meninggalkanmu. Kami cuma ingin menggodamu sedikit. Dulu kamu nggak pernah seperti ini.”

Dia terdiam sejenak, seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Matanya langsung berbinar.

“Oh, iya! Aku punya kabar baik. Tadinya mau kuberitahu di perjalanan buat membujukmu supaya senang.”

Hatiku seketika tenggelam.

Vania mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka sebuah tangkapan layar, lalu menyodorkannya kepadaku.

“Kumpulan karya tahap final Anugerah Seni Citra-mu, sudah aku bantu submit dua hari lalu. Kamu belakangan ini selalu begadang, ‘kan? Aku kasihan melihatnya, jadi aku bantu klik submit.”

Ujung jariku mencengkeram erat gagang koper.

“Kamu mengotak-atik berkas lombaku?”

“Jangan tegang begitu, dong, Alya.”

Vania mengerucutkan bibir, seolah aku merusak kesenangannya.

“Aku juga menambahkan sedikit kejutan. Di sudut gambar utama yang paling kamu suka, aku kasih watermark katak yang sedang memutar bola mata. Lucu banget.”

Dia mengedipkan mata ke arah Marcel.

“Aku dan Marcel juga taruhan apa kamu bakal menyadarinya. Tadinya kami mau menunggu sampai kamu memenangkan penghargaan baru memberitahumu. Pasti bakal jadi kejutan yang luar biasa.”

Telingaku seketika berdenging.

Anugerah Seni Citra mengharuskan seluruh proses penilaian dilakukan secara anonim. Berkas perlombaan tak boleh mengandung layer yang tak berkaitan dengan karya, apalagi simbol-simbol bernada mengejek.

Itu adalah kumpulan karya tahap final yang berhasil kuselesaikan setelah setengah bulan nyaris tak pernah tidur dengan nyenyak.

Dan itu juga satu-satunya kuota rekomendasi dari kampus.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status