Compartilhar

Bab 2

Autor: Jan
Aku meraih ponsel, lalu membuka email.

Pesan terbaru berasal dari panitia.

[Karena karya Anda mengandung unsur yang tidak termasuk dalam ketentuan kompetisi, sehingga merusak keutuhan visual dan melanggar aturan penilaian anonim, maka kualifikasi Anda untuk mengikuti kompetisi tahun ini dibatalkan.]

Aku mengangkat layar ponsel tepat di depan wajah Vania.

Senyumnya perlahan membeku.

Tak lama kemudian, matanya memerah.

“Jurinya benar-benar nggak punya selera humor, ya? Mana aku tahu mereka bakal sekaku itu.”

Dia mengendus, suaranya semakin terdengar lirih dan penuh rasa bersalah.

“Aku cuma ingin membuatmu sedikit lebih santai. Setiap hari kamu tegang terus gara-gara lomba ini. Siapa yang tahan? Alya, jangan menatapku seperti itu, dong? Kalau begitu, aku ganti biaya pendaftarannya.”

Marcel menarik Vania ke belakang.

Gerakannya begitu alami.

Seolah setiap kali Vania menangis, aku secara otomatis menjadi pihak yang mengalah.

“Alya.” Nada suara Marcel merendah.

“Vania nggak sengaja. Memang dia sudah melakukan kesalahan, tapi niat awalnya baik.”

Aku menatapnya.

“Kualifikasiku untuk ikut lomba sudah dicabut.”

“Kalau tahun ini nggak bisa, masih ada tahun depan.” Marcel mengerutkan keningnya.

“Kamu punya kemampuan. Memangnya nggak bisa menunggu setahun? Harus sekarang juga sampai membuat semua orang serba salah?”

Vania bersembunyi di balik punggungnya dan ikut menyahut dengan suara pelan.

“Aku ‘kan sudah bilang mau mengganti uangnya.”

Tiba-tiba aku merasa ruangan ini begitu sempit.

Sempit hingga tak mampu menampung sikap mereka yang menganggap semuanya wajar, bahkan tak mampu menampung sedikit harga diriku yang masih tersisa.

Aku menunduk, lalu mengambil satu per satu tangkapan layar bukti pembatalan tiket, riwayat obrolan grup, serta email pemberitahuan pembatalan dari panitia.

Melihat apa yang kulakukan, wajah Marcel semakin suram.

“Buat apa kamu melakukan itu? Mau mengumpulkan bukti untuk menghakimi kami?”

Aku menyimpan ponsel, lalu berjalan menuju pintu depan.

Tanganku meraih kunci cadangan yang tergantung di gantungan kunci milik Marcel.

Tangannya refleks menahan gantungan itu.

“Alya.”

Aku menariknya kuat-kuat hingga kunci itu jatuh ke telapak tanganku.

“Kalian benar-benar membuatku muak.”

Air mata masih menggantung di wajah Vania. Ekspresinya seperti baru saja ditampar.

Kesabaran Marcel akhirnya habis.

“Kalau hari ini kamu keluar dari pintu ini, jangan harap aku akan datang membujukmu lagi.”

Aku membuka pintu dan menyeret koper keluar.

Sebelum pintu tertutup, aku mendengar suara Vania yang tercekat menahan tangis.

“Bukankah dia sudah keterlaluan?”

Marcel tak langsung menjawab.

Tepat ketika pintu lift tertutup, sebuah pesan darinya muncul di layar ponselku.

[Kalau sudah cukup tenang, pulanglah sendiri.]

Taksi berhenti tepat di depan terminal bandara.

Aku menurunkan koper.

Sopir taksi bertanya apakah aku membutuhkan bantuan.

Aku menggeleng, lalu menempelkan ponsel ke telinga dan mendengarkan pesan suara dari mentorku.

“Alya, kuota untuk mengikuti program residensi di Islavia masih tersedia. Kalau kamu sudah yakin, malam ini juga akan kusuruh pihak studio mengirimkan surat undangan kepadamu.”

Aku menekan tombol rekam suara.

“Prof, saya sudah yakin.”

Setelah pesan itu terkirim, aku meneruskan email pembatalan dari Anugerah Seni Citra kepadanya.

Tak lama kemudian, balasannya masuk.

[Datanglah ke sini dulu. Karya yang dihancurkan bukanlah akhir. Selama dirimu masih ada, semuanya belum berakhir.]

Aku menatap kalimat itu.

Tenggorokanku terasa tercekat.

Saat kuliah dulu, orang tuaku sering bertengkar hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai. Mereka meninggalkan utang sekaligus meninggalkanku. Saat itu, Vania membagi uang sakunya denganku dan menemaniku melewati bulan-bulan tersulit.

Kemudian, aku pernah mengalami serangan panik dan hampir tak bisa bernapas di atap gedung. Marcel menggendongku dan berlari membawaku ke rumah sakit, lalu berjaga di samping ranjangku sepanjang malam.

Aku bukan orang yang tak tahu berterima kasih.

Karena itu, berkali-kali aku meyakinkan diriku sendiri bahwa mereka sebenarnya tak bermaksud menyakitiku.

Hanya saja, karena kami terlalu dekat, mereka tak pernah merasa perlu menjaga batas.

Namun hari ini, akhirnya aku mengerti.

Kebaikan yang pernah mereka berikan bukanlah kartu bebas hukuman yang membuat mereka berhak menginjak-injakku setelahnya.

Saat mengantre untuk check-in, aku memutus tautan pembayaran bersama dengan Marcel, lalu menonaktifkan fitur berbagi lokasi.

Marcel langsung menelepon.

Kuangkat telepon itu.

“Kamu memutus tautan pembayaran bersama?”

Suaranya terdengar dingin.

“Alya, sekarang uang sekecil ini pun kamu perhitungan denganku?”

“Ya.”

Ujung telepon hening selama dua detik.

Suara Vania menyelip masuk.

“Alya, kamu benaran pergi ke bandara? Jangan menakut-nakuti orang, dong. Marcel saja sudah nggak mempermasalahkannya.”

Marcel sepertinya menjauhkan ponselnya sesaat, lalu kembali menempelkannya ke telinga.

“Kamu di gate berapa? Aku jemput. Soal kumpulan karya itu, akan kutanyakan pada seseorang. Siapa tahu masih bisa diajukan keberatan.”

“Nggak perlu.”

“Apa maksudmu nggak perlu?” Nada suara Marcel mulai terdengar tak sabar.

“Hotel di Sanara nggak bisa dibatalkan. Kalau kamu nggak ikut, kami berdua saja nggak akan seru.”

Vania kembali bersuara pelan dari sampingnya.

“Bukan berarti benar-benar nggak seru, sih. Cuma kurang satu orang untuk memotret.”

Aku menyerahkan pasporku kepada petugas di konter.

Setelah memeriksa dokumenku, petugas itu menyerahkan boarding pass kepadaku.

“Semoga perjalanan Anda lancar.”

Aku menerima boarding pass itu, lalu berkata kepada Marcel di ujung telepon.

“Aku masih ada urusan. Aku tutup.”

Marcel akhirnya benar-benar marah.

“Alya, apa kamu harus membuat semua orang terus berputar mengikuti emosimu? Vania sudah menangis, kamu masih mau apa?”

Aku menunduk, menatap tujuan yang tertera di boarding pass.

“Aku cuma ingin pergi sejauh mungkin dari kalian.”

Setelah menutup telepon, aku membuka story Instagram.

Sepuluh menit yang lalu, Vania mengunggah foto selfie. Matanya memerah, sementara sepasang kacamata snorkeling berada dalam pelukannya.

[Aku sudah begitu bersemangat ingin memberinya kejutan, tapi niat baikku malah nggak dihargai. Orang yang nggak bisa diajak bercanda memang benar-benar sulit diajak bergaul.]

Di bawah unggahan itu, sudah ada beberapa orang yang menghiburnya.

Namun, balasan Marcel terlihat paling mencolok.

[Jangan menangis. Pergi saja ke Sanara dan nikmati laut. Dia memang keras kepala. Tunggu beberapa hari, nanti dia akan kembali dan minta maaf.]

Aku tak memberikan tanda like ataupun meninggalkan komentar.

Aku hanya memilih untuk tak lagi melihat story mereka.

Sebelum layar ponselku padam, sebuah pemberitahuan dari maskapai muncul.

[Penerbangan menuju Ravenvík mengalami keterlambatan akibat arus udara kutub. Waktu boarding diperkirakan mundur selama empat jam.]

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 8

    Tiga tahun kemudian, di tengah musim dingin, aku kembali ke tanah air untuk mengurus hak kepemilikan rumah lama yang ditinggalkan orang tuaku.Raka ikut pulang bersamaku.Setelah semua urusan selesai dan kami keluar dari lobi, salju turun semakin lebat.Dia membantuku menaikkan syal yang melilit leherku.“Dingin?”“Lumayan.”“Mobilnya ada di seberang. Aku ambil dulu. Kamu tunggu di sini, ya?”Aku menggeleng.“Kita jalan bersama saja.”Saat tiba di persimpangan, aku melihat seorang pria yang sedang berjongkok di tepi jalan.Mantel tuanya sudah lusuh. Tubuhnya pun kurus. Di dalam pelukannya, dia melindungi sebuah kue stroberi murah.Marcel.Dia tak mengenaliku.Atau lebih tepatnya, tatapannya hanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.Di sana terpampang foto profil Whatsapp yang sudah lama dinonaktifkan.Dia berbicara lirih, seolah takut membangunkan seseorang.“Alya, hari ini ulang tahunmu. Aku nggak salah beli. Kamu nggak alergi stroberi.”Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan denga

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 7

    Marcel tampak kurus hingga hampir tak bisa dikenali. Mantel hitam yang dikenakannya pun menggantung longgar di tubuhnya.Vania juga tak lagi terlihat cerah seperti dulu. Rambutnya hanya diikat asal, dengan lingkaran hitam yang jelas terlihat di bawah matanya.Mereka jelas datang terburu-buru.Marcel menerobos kerumunan dan berjalan ke arahku.Matanya memerah. Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.“Alya.”Aku tak menjawab.Dia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya, lalu berlutut dengan satu kaki.Para tamu di sekitar kami pun terdiam.“Aku nggak bertaruh dengan siapa pun. Aku juga nggak bercanda.”Dia mendongak menatapku. Suaranya bergetar.“Aku benar-benar datang untuk memintamu menikah denganku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku seumur hidup. Mau, ya? Kumohon.”Vania mendekat sambil menangis. Tangannya terulur hendak meraih ujung lengan bajuku.“Alya, aku benar-benar sudah tahu apa artinya menjaga batas dengan orang lain. Aku dipecat karena sembarangan bercand

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 6

    Angin di Ravenvik begitu menusuk, menerpa wajah seperti butiran-butiran es kecil.Saat menjemputku di bandara, hal pertama yang dilihat dosen pembimbingku adalah perban yang membalut tubuhku.Dia tak bertanya apa-apa. Hanya melepas syalnya dan menyampirkannya di bahuku.“Pemanas di studio cukup hangat. Tidurlah dulu.”Aku mengangguk.Di sini, tak ada seorang pun yang menjadikan diamku sebagai bahan taruhan.Tak ada juga yang menganggap batasanku sebagai sesuatu yang membuat suasanan menjadi canggung.Aku mulai menata kembali kumpulan karyaku.Laptop yang rusak sudah dikirim untuk diperbaiki, sementara hard disk cadangan berhasil menyelamatkan sebagian besar berkas.Lapisan gambar yang hilang kugambar ulang satu per satu.Terkadang, saat masih melukis hingga larut malam, luka di lenganku terasa gatal.Dosen pembimbingku akan mengetuk pintu, lalu meletakkan semangkuk sup hangat di tepi meja.“Nggak perlu terburu-buru, Alya. Sebuah karya seni nggak seharusnya dibayar dengan nyawa.”Pada m

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 5

    Saat terbangun, lenganku sudah terpasang penyangga di sisi ranjang rumah sakit.Seorang perawat sedang menunduk mengganti perban lukaku. Begitu melihatku membuka mata, dia segera merendahkan suaranya.“Lengan bawah Ibu dijahit tujuh jahitan. Darah yang keluar juga cukup banyak. Sekuriti kompleks mendengar suara kaca pecah, lalu mendobrak pintu dan membawa Ibu ke sini.”Aku menatap langit-langit dalam diam. Beberapa detik kemudian, barulah kurasakan tenggorokanku kering dan perih.Perawat menyerahkan ponselku.“Baru saja selesai di-charge. Dari tadi terus berdering.”Di layar, ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab.Semuanya berasal dari Marcel.Vania juga mengirim banyak pesan suara.Aku tak membukanya.Seorang teman yang kami kenal bersama lebih dulu mengirimiku sebuah video.Dalam video itu, Marcel duduk santai di sofa sambil memegang segelas minuman.“Alya memang sudah terlalu dimanja. Dikunci beberapa jam saja, nanti dia akan tahu siapa yang benar-benar memperlakukannya deng

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 4

    Aku pulang ke apartemen seorang diri dengan taksi.Bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, rasa sesak yang datang bergelombang, disertai denging di telingaku, akhirnya perlahan mereda.Sesampainya di apartemen, sopir membantuku menurunkan koper ke lantai bawah, lalu bertanya apakah aku ingin diantarkan sampai depan pintu lift.Aku menolak.Tangan kiriku memeluk laptop yang retak, sementara tangan kanan menyeret koper masuk ke dalam gedung.Begitu masuk, aku langsung menuju ruang kerja untuk mencari hard disk cadangan.Untungnya, hard disk itu masih tersimpan di laci paling dalam.Aku menghela napas lega, lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil botol obat.Namun, baru saja botol itu berada di tanganku, terdengar suara kunci pintu diputar.Marcel berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.“Kamu benar-benar pulang.”Aku memasukkan hard disk ke kantong bagian dalam koper.“Keluar.”Dia tak bergeming. Tatapannya justru tertuju pada botol obat di tanganku

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 3

    Aku membeli segelas kopi panas di area tunggu bandara.Baru saja menutup gelasnya, seseorang menepuk bahuku keras-keras.Sedikit kopi tumpah dan mengenai ruas jariku. Panasnya seketika menyengat kulit.Aku menoleh.Marcel dan Vania berdiri di belakangku.Salah satu kancing mantel Marcel terpasang tak pada tempatnya, sementara pelipisnya dipenuhi keringat.Vania masih menggenggam boarding pass penerbangan menuju Sanara. Napasnya terengah-engah, sampai tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh.“Sudahlah.”Marcel mengambil kopiku, menyentuh sisi gelasnya, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.“Masih tahu beli yang panas. Nggak kedinginan, ‘kan?”Nada bicaranya terdengar seperti sedang menenangkanku, sekaligus seperti ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.“Kita nggak jadi ke Sanara. Demi mencarimu, penerbangan sampai terlewat. Sekarang impas, ‘kan? Ayo, ikut aku pulang.”Vania akhirnya berhasil mengatur napasnya. Sambil bertumpu pada lutut, dia mendongak menatapku.“Alya, ngapain k

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status