Share

Bab 4

Author: Jan
Aku pulang ke apartemen seorang diri dengan taksi.

Bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, rasa sesak yang datang bergelombang, disertai denging di telingaku, akhirnya perlahan mereda.

Sesampainya di apartemen, sopir membantuku menurunkan koper ke lantai bawah, lalu bertanya apakah aku ingin diantarkan sampai depan pintu lift.

Aku menolak.

Tangan kiriku memeluk laptop yang retak, sementara tangan kanan menyeret koper masuk ke dalam gedung.

Begitu masuk, aku langsung menuju ruang kerja untuk mencari hard disk cadangan.

Untungnya, hard disk itu masih tersimpan di laci paling dalam.

Aku menghela napas lega, lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil botol obat.

Namun, baru saja botol itu berada di tanganku, terdengar suara kunci pintu diputar.

Marcel berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.

“Kamu benar-benar pulang.”

Aku memasukkan hard disk ke kantong bagian dalam koper.

“Keluar.”

Dia tak bergeming. Tatapannya justru tertuju pada botol obat di tanganku.

Detik berikutnya, dia melangkah maju dan merebut botol itu dariku.

“Alya, belum puas kamu bikin ulah? Sudah kubilang aku akan membelikanmu laptop baru dan menyuruh Vania minta maaf kepadamu. Sampai kapan kamu mau terus menyiksa kami dengan sikap dingin seperti ini?”

Aku mengulurkan tangan.

“Kembalikan.”

Marcel mengangkat tangannya lebih tinggi. Sorot matanya dipenuhi amarah yang ditahan-tahan.

“Vania menangis sesenggukan di bawah, tapi kamu bahkan nggak sedikit pun peduli. Sejak kapan kamu jadi sedingin ini?”

“Sejak kalian menjadikan hidupku sebagai taruhan.”

“Jangan membesar-besarkan masalah.”

Dia menggertakkan gigi.

“Cuma gara-gara satu kompetisi, satu laptop dan satu perjalanan. Kamu benar-benar tega menghapus semua yang sudah kita lalui selama bertahun-tahun?”

Aku menatapnya.

“Marcel, kita putus.”

Dia tertegun sejenak.

Lalu tertawa.

Namun, tawa itu sama sekali tak memancarkan kebahagiaan. Hanya ada ketidakpercayaan dan rasa tersinggung di dalamnya.

“Putus? Kamu mau menakut-nakutiku dengan kata putus?”

“Nggak. Aku serius.”

Aku tak ingin membuang waktu untuk berdebat dengannya lagi. Aku menarik koper dan kembali mengulurkan tangan untuk merebut botol obat yang masih berada di tangannya.

Namun, Marcel lebih dulu menghindar ke samping dan menggenggam botol itu erat-erat.

“Oke. Kalau kamu mau menenangkan diri, akan kukabulkan.”

Dia mundur ke luar pintu.

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang.

“Marcel, kamu mau melakukan apa?”

Pintu keamanan menutup tepat di depan mataku.

Kunci pintu kembali berputar.

Aku buru-buru maju dan memutar gagang pintu, tapi pintu itu sama sekali tak bergeming.

Suara Marcel terdengar dari balik pintu.

“Aku dan Vania membuat taruhan terakhir. Empat jam. Setelah kamu berada di dalam selama empat jam, kamu akan sadar betapa keterlaluannya sikapmu hari ini.”

Aku menggedor pintu.

“Buka pintunya.”

“Obatnya aku bawa dulu. Biar kamu nggak bisa lagi memakai penyakitmu untuk mengancamku.”

Suaranya terdengar dingin dan tegas.

“Kapan pun kamu sudah siap bicara baik-baik, hubungi aku.”

Suara langkah kakinya perlahan menjauh.

Pintu lift berdenting dan menutup

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Aku berdiri di dekat pintu masuk, telapak tanganku menempel pada permukaannya. Napasku tiba-tiba menjadi pendek.

Lorong masuk yang sempit.

Pintu yang terkunci.

Dan obat yang sudah tak bisa kudapatkan kembali.

Semuanya menumpuk menjadi satu, seperti sepasang tangan tak kasatmata yang mencengkeram paru-paruku dari dalam dada.

Aku berbalik dan mulai mengobrak-abrik laci.

Tak ada obat cadangan.

Barang-barang di dalam tas juga berantakan setelah terjatuh di bandara tadi.

Ponselku terselip di celah lapisan dalam tas yang robek. Dengan tangan gemetar, aku mengoreknya keluar. Namun pemindaian sidik jariku terus gagal.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu sebuah pesan dari Vania muncul di layar.

[Alya, tenangkan dirimu dulu. Marcel juga melakukan semua ini demi kebaikanmu.]

Aku menatap kalimat itu.

Tiba-tiba, aku bahkan tak sanggup tersenyum.

Mereka benar-benar mengira mengurungku adalah bentuk kebaikan.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Pandangan di sudut mataku mulai menghitam.

Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, aku menabrak rak pajangan di dekat pintu hingga jatuh.

Aku meraih sebuah pajangan berbahan kuningan yang terjatuh ke lantai.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menghantamkannya sekuat tenaga ke arah jendela besar di ruang tamu.

“Pyar!”

Suara pecahan kaca menggema begitu keras.

Serpihan-serpihan kaca berhamburan dan menancap dalam di lengan bawahku.

Darah langsung mengucur deras.

Layar ponsel kembali menyala.

Sebuah pesan dari Marcel masuk.

Pada jendela pratinjau yang muncul di layar terkunci, terpampang satu baris kalimat.

[Cuma empat jam. Jangan pura-pura menyedihkan.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 8

    Tiga tahun kemudian, di tengah musim dingin, aku kembali ke tanah air untuk mengurus hak kepemilikan rumah lama yang ditinggalkan orang tuaku.Raka ikut pulang bersamaku.Setelah semua urusan selesai dan kami keluar dari lobi, salju turun semakin lebat.Dia membantuku menaikkan syal yang melilit leherku.“Dingin?”“Lumayan.”“Mobilnya ada di seberang. Aku ambil dulu. Kamu tunggu di sini, ya?”Aku menggeleng.“Kita jalan bersama saja.”Saat tiba di persimpangan, aku melihat seorang pria yang sedang berjongkok di tepi jalan.Mantel tuanya sudah lusuh. Tubuhnya pun kurus. Di dalam pelukannya, dia melindungi sebuah kue stroberi murah.Marcel.Dia tak mengenaliku.Atau lebih tepatnya, tatapannya hanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.Di sana terpampang foto profil Whatsapp yang sudah lama dinonaktifkan.Dia berbicara lirih, seolah takut membangunkan seseorang.“Alya, hari ini ulang tahunmu. Aku nggak salah beli. Kamu nggak alergi stroberi.”Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan denga

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 7

    Marcel tampak kurus hingga hampir tak bisa dikenali. Mantel hitam yang dikenakannya pun menggantung longgar di tubuhnya.Vania juga tak lagi terlihat cerah seperti dulu. Rambutnya hanya diikat asal, dengan lingkaran hitam yang jelas terlihat di bawah matanya.Mereka jelas datang terburu-buru.Marcel menerobos kerumunan dan berjalan ke arahku.Matanya memerah. Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.“Alya.”Aku tak menjawab.Dia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya, lalu berlutut dengan satu kaki.Para tamu di sekitar kami pun terdiam.“Aku nggak bertaruh dengan siapa pun. Aku juga nggak bercanda.”Dia mendongak menatapku. Suaranya bergetar.“Aku benar-benar datang untuk memintamu menikah denganku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku seumur hidup. Mau, ya? Kumohon.”Vania mendekat sambil menangis. Tangannya terulur hendak meraih ujung lengan bajuku.“Alya, aku benar-benar sudah tahu apa artinya menjaga batas dengan orang lain. Aku dipecat karena sembarangan bercand

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 6

    Angin di Ravenvik begitu menusuk, menerpa wajah seperti butiran-butiran es kecil.Saat menjemputku di bandara, hal pertama yang dilihat dosen pembimbingku adalah perban yang membalut tubuhku.Dia tak bertanya apa-apa. Hanya melepas syalnya dan menyampirkannya di bahuku.“Pemanas di studio cukup hangat. Tidurlah dulu.”Aku mengangguk.Di sini, tak ada seorang pun yang menjadikan diamku sebagai bahan taruhan.Tak ada juga yang menganggap batasanku sebagai sesuatu yang membuat suasanan menjadi canggung.Aku mulai menata kembali kumpulan karyaku.Laptop yang rusak sudah dikirim untuk diperbaiki, sementara hard disk cadangan berhasil menyelamatkan sebagian besar berkas.Lapisan gambar yang hilang kugambar ulang satu per satu.Terkadang, saat masih melukis hingga larut malam, luka di lenganku terasa gatal.Dosen pembimbingku akan mengetuk pintu, lalu meletakkan semangkuk sup hangat di tepi meja.“Nggak perlu terburu-buru, Alya. Sebuah karya seni nggak seharusnya dibayar dengan nyawa.”Pada m

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 5

    Saat terbangun, lenganku sudah terpasang penyangga di sisi ranjang rumah sakit.Seorang perawat sedang menunduk mengganti perban lukaku. Begitu melihatku membuka mata, dia segera merendahkan suaranya.“Lengan bawah Ibu dijahit tujuh jahitan. Darah yang keluar juga cukup banyak. Sekuriti kompleks mendengar suara kaca pecah, lalu mendobrak pintu dan membawa Ibu ke sini.”Aku menatap langit-langit dalam diam. Beberapa detik kemudian, barulah kurasakan tenggorokanku kering dan perih.Perawat menyerahkan ponselku.“Baru saja selesai di-charge. Dari tadi terus berdering.”Di layar, ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab.Semuanya berasal dari Marcel.Vania juga mengirim banyak pesan suara.Aku tak membukanya.Seorang teman yang kami kenal bersama lebih dulu mengirimiku sebuah video.Dalam video itu, Marcel duduk santai di sofa sambil memegang segelas minuman.“Alya memang sudah terlalu dimanja. Dikunci beberapa jam saja, nanti dia akan tahu siapa yang benar-benar memperlakukannya deng

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 4

    Aku pulang ke apartemen seorang diri dengan taksi.Bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, rasa sesak yang datang bergelombang, disertai denging di telingaku, akhirnya perlahan mereda.Sesampainya di apartemen, sopir membantuku menurunkan koper ke lantai bawah, lalu bertanya apakah aku ingin diantarkan sampai depan pintu lift.Aku menolak.Tangan kiriku memeluk laptop yang retak, sementara tangan kanan menyeret koper masuk ke dalam gedung.Begitu masuk, aku langsung menuju ruang kerja untuk mencari hard disk cadangan.Untungnya, hard disk itu masih tersimpan di laci paling dalam.Aku menghela napas lega, lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil botol obat.Namun, baru saja botol itu berada di tanganku, terdengar suara kunci pintu diputar.Marcel berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.“Kamu benar-benar pulang.”Aku memasukkan hard disk ke kantong bagian dalam koper.“Keluar.”Dia tak bergeming. Tatapannya justru tertuju pada botol obat di tanganku

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 3

    Aku membeli segelas kopi panas di area tunggu bandara.Baru saja menutup gelasnya, seseorang menepuk bahuku keras-keras.Sedikit kopi tumpah dan mengenai ruas jariku. Panasnya seketika menyengat kulit.Aku menoleh.Marcel dan Vania berdiri di belakangku.Salah satu kancing mantel Marcel terpasang tak pada tempatnya, sementara pelipisnya dipenuhi keringat.Vania masih menggenggam boarding pass penerbangan menuju Sanara. Napasnya terengah-engah, sampai tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh.“Sudahlah.”Marcel mengambil kopiku, menyentuh sisi gelasnya, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.“Masih tahu beli yang panas. Nggak kedinginan, ‘kan?”Nada bicaranya terdengar seperti sedang menenangkanku, sekaligus seperti ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.“Kita nggak jadi ke Sanara. Demi mencarimu, penerbangan sampai terlewat. Sekarang impas, ‘kan? Ayo, ikut aku pulang.”Vania akhirnya berhasil mengatur napasnya. Sambil bertumpu pada lutut, dia mendongak menatapku.“Alya, ngapain k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status