Share

Bab 3

Author: Jan
Aku membeli segelas kopi panas di area tunggu bandara.

Baru saja menutup gelasnya, seseorang menepuk bahuku keras-keras.

Sedikit kopi tumpah dan mengenai ruas jariku. Panasnya seketika menyengat kulit.

Aku menoleh.

Marcel dan Vania berdiri di belakangku.

Salah satu kancing mantel Marcel terpasang tak pada tempatnya, sementara pelipisnya dipenuhi keringat.

Vania masih menggenggam boarding pass penerbangan menuju Sanara. Napasnya terengah-engah, sampai tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh.

“Sudahlah.”

Marcel mengambil kopiku, menyentuh sisi gelasnya, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.

“Masih tahu beli yang panas. Nggak kedinginan, ‘kan?”

Nada bicaranya terdengar seperti sedang menenangkanku, sekaligus seperti ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.

“Kita nggak jadi ke Sanara. Demi mencarimu, penerbangan sampai terlewat. Sekarang impas, ‘kan? Ayo, ikut aku pulang.”

Vania akhirnya berhasil mengatur napasnya. Sambil bertumpu pada lutut, dia mendongak menatapku.

“Alya, ngapain kamu di terminal internasional? Jangan-jangan kamu benaran mau kabur dari rumah seperti di film?”

Aku menatap Marcel.

“Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?”

Tatapannya berkedip sejenak.

“Notifikasi pelepasan tautan pembayaran bersama terlambat masuk. Begitu transaksi kopimu muncul, aku langsung tahu.”

“Jadi kamu melacak pengeluaranku?”

“Itu karena aku khawatir.”

Marcel mengernyit.

“Jangan membuat perhatian yang wajar terdengar begitu buruk.”

Vania mengulurkan tangan hendak mengambil tasku.

“Ayo, sini. Biar aku yang bawakan. Tasmu sampai menggembung begitu. Jangan-jangan isinya baju musim dingin semua?”

Aku menahan tali tas itu.

“Jangan sentuh.”

Vania tertegun.

Senyum yang tadi berusaha membujukku langsung menghilang dari wajahnya.

“Kenapa kamu galak banget hari ini? Aku ‘kan bukan orang asing.”

Marcel merendahkan suaranya.

“Alya, di bandara ramai orang. Jangan bikin keributan yang memalukan.”

Aku mengangkat kepala dan menatapnya.

“Oh, jadi aku yang bikin keributan?”

Tiba-tiba Vania menarik tali tasku.

“Aku justru mau lihat. Tadi di jalan aku taruhan sama Marcel. Aku bilang isi tasmu pasti cuma barang-barang kosong buat gaya-gayaan.”

Dia menariknya dengan kuat.

Tanpa sadar, aku menariknya kembali ke arahku.

Tali tas tertarik begitu kuat hingga menekan pangkal ibu jariku. Resletingnya pun terbuka akibatk tarikan itu.

Detik berikutnya, tas itu terlepas dan jatuh membentur lantai.

Tas pelindung laptop terlempar keluar.

Laptop di dalamnya menghantam lantai marmer.

Brak!

Suara benturan tumpul itu terdengar begitu keras.

Layarnya retak.

Salah satu sudut bodinya bahkan terangkat.

Suara di sekelilingku seolah lenyap.

Aku berjongkok.

Jari-jariku menyentuh layar yang retak. Pecahan kaca kecil justru menusuk ujung jariku.

Dengungan keras memenuhi telingaku.

Jantungku mulai berdetak liar dan tak terkendali.

Rasa sesak yang begitu familier kembali menyerang, berkali-kali.

Tanpa sadar, tanganku meraba saku.

Dua butir obat anticemas cadangan yang selalu kubawa entah terjatuh ke mana saat kami tadi berebut tas.

Vania mundur setengah langkah. Suaranya mulai bergetar.

“Aku nggak sengaja. Siapa suruh kamu menariknya sekuat itu tadi? Lagi pula, kalau laptop memang sepenting itu, kenapa kamu nggak menyimpannya dengan baik?”

Marcel berjongkok di sampingku dan menekan bahuku.

“Alya, jangan panik. Kalau rusak, kita perbaiki. Pusat pemulihan data ada banyak, kok. Kalau memang nggak bisa, nanti aku ganti dengan yang baru.”

Aku menahan rasa tak nyaman, lalu mendongak menatapnya.

“Kamu tahu apa yang ada di dalamnya?”

Marcel terdiam.

“Sketsa-sketsamu. Aku tahu itu penting.”

“Nggak. Kamu nggak tahu.”

Di dalamnya bukan sekadar sketsa.

Ada file asli berlapis yang belum sempat kusinkronkan ke cloud, draf awal yang masih bisa kususun kembali setelah karya untuk Anugerah Seni Citra dihancurkan, serta rancangan pertama yang harus kuserahkan kepada mentor untuk program residensi seniku di Islavia.

Vania mulai menangis.

“Alya, jangan menatapku seperti itu, kumohon. Aku takut.”

Marcel menariknya ke belakang. Wajahnya langsung berubah muram.

“Laptop sudah rusak. Menakut-nakutinya sekarang juga nggak ada gunanya. Vania itu penakut. Apa kamu harus memaksanya sampai benar-benar kehilangan kendali di sini?”

Pengumuman bandara terdengar, memberitahukan bahwa proses check-in ulang untuk penerbangan yang tertunda mulai terbuka kembali.

Aku memeluk laptop yang sudah penyok dan berubah bentuk itu. Setelah menarik napas sejenak, lalu berdiri.

Tanganku masih gemetar, tapi suaraku tetap tenang.

“Minggir.”

Marcel melihatku berjalan menuju konter perubahan jadwal penerbangan, wajahnya langsung berubah.

“Kamu masih mau pergi? Laptopmu sudah rusak separah itu. Sekarang seharusnya kamu pulang untuk mengurus datanya.”

“Aku pulang mengambil hard disk cadangan.”

Vania langsung mendongak.

“Kalau begitu, kami ikut pulang bersamamu.”

Aku menatapnya.

“Kamu nggak pantas menyentuh pintu rumahku.”

Wajah Vania seketika memucat. Air matanya mengalir semakin deras.

Tatapan Marcel pun berubah dingin.

“Alya, ucapanmu hari ini begitu menyakitkan.”

Aku tak menjawab.

Kupeluk erat laptop yang pecah itu, lalu perlahan berjalan menuju konter perubahan jadwal penerbangan.

Sebuah pesan dari mentorku muncul di layar.

[Perlu aku menghubungi kurator di Ravenvik untuk menjemputmu? Namanya Raka, dia sedang berada di sekitar bandara.]

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Lalu akhirnya hanya membalas.

[Nggak perlu. Laptop saya rusak, jadi saya akan pulang dulu untuk mengambil cadangannya.]

Setelah pesan terkirim, aku memasukkan ponsel ke saku.

Marcel berdiri di belakangku, suaranya sangat pelan.

“Dia nggak akan tega pergi.”

Entah kalimat itu ditujukan kepada Vania, atau untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 8

    Tiga tahun kemudian, di tengah musim dingin, aku kembali ke tanah air untuk mengurus hak kepemilikan rumah lama yang ditinggalkan orang tuaku.Raka ikut pulang bersamaku.Setelah semua urusan selesai dan kami keluar dari lobi, salju turun semakin lebat.Dia membantuku menaikkan syal yang melilit leherku.“Dingin?”“Lumayan.”“Mobilnya ada di seberang. Aku ambil dulu. Kamu tunggu di sini, ya?”Aku menggeleng.“Kita jalan bersama saja.”Saat tiba di persimpangan, aku melihat seorang pria yang sedang berjongkok di tepi jalan.Mantel tuanya sudah lusuh. Tubuhnya pun kurus. Di dalam pelukannya, dia melindungi sebuah kue stroberi murah.Marcel.Dia tak mengenaliku.Atau lebih tepatnya, tatapannya hanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.Di sana terpampang foto profil Whatsapp yang sudah lama dinonaktifkan.Dia berbicara lirih, seolah takut membangunkan seseorang.“Alya, hari ini ulang tahunmu. Aku nggak salah beli. Kamu nggak alergi stroberi.”Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan denga

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 7

    Marcel tampak kurus hingga hampir tak bisa dikenali. Mantel hitam yang dikenakannya pun menggantung longgar di tubuhnya.Vania juga tak lagi terlihat cerah seperti dulu. Rambutnya hanya diikat asal, dengan lingkaran hitam yang jelas terlihat di bawah matanya.Mereka jelas datang terburu-buru.Marcel menerobos kerumunan dan berjalan ke arahku.Matanya memerah. Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.“Alya.”Aku tak menjawab.Dia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya, lalu berlutut dengan satu kaki.Para tamu di sekitar kami pun terdiam.“Aku nggak bertaruh dengan siapa pun. Aku juga nggak bercanda.”Dia mendongak menatapku. Suaranya bergetar.“Aku benar-benar datang untuk memintamu menikah denganku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku seumur hidup. Mau, ya? Kumohon.”Vania mendekat sambil menangis. Tangannya terulur hendak meraih ujung lengan bajuku.“Alya, aku benar-benar sudah tahu apa artinya menjaga batas dengan orang lain. Aku dipecat karena sembarangan bercand

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 6

    Angin di Ravenvik begitu menusuk, menerpa wajah seperti butiran-butiran es kecil.Saat menjemputku di bandara, hal pertama yang dilihat dosen pembimbingku adalah perban yang membalut tubuhku.Dia tak bertanya apa-apa. Hanya melepas syalnya dan menyampirkannya di bahuku.“Pemanas di studio cukup hangat. Tidurlah dulu.”Aku mengangguk.Di sini, tak ada seorang pun yang menjadikan diamku sebagai bahan taruhan.Tak ada juga yang menganggap batasanku sebagai sesuatu yang membuat suasanan menjadi canggung.Aku mulai menata kembali kumpulan karyaku.Laptop yang rusak sudah dikirim untuk diperbaiki, sementara hard disk cadangan berhasil menyelamatkan sebagian besar berkas.Lapisan gambar yang hilang kugambar ulang satu per satu.Terkadang, saat masih melukis hingga larut malam, luka di lenganku terasa gatal.Dosen pembimbingku akan mengetuk pintu, lalu meletakkan semangkuk sup hangat di tepi meja.“Nggak perlu terburu-buru, Alya. Sebuah karya seni nggak seharusnya dibayar dengan nyawa.”Pada m

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 5

    Saat terbangun, lenganku sudah terpasang penyangga di sisi ranjang rumah sakit.Seorang perawat sedang menunduk mengganti perban lukaku. Begitu melihatku membuka mata, dia segera merendahkan suaranya.“Lengan bawah Ibu dijahit tujuh jahitan. Darah yang keluar juga cukup banyak. Sekuriti kompleks mendengar suara kaca pecah, lalu mendobrak pintu dan membawa Ibu ke sini.”Aku menatap langit-langit dalam diam. Beberapa detik kemudian, barulah kurasakan tenggorokanku kering dan perih.Perawat menyerahkan ponselku.“Baru saja selesai di-charge. Dari tadi terus berdering.”Di layar, ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab.Semuanya berasal dari Marcel.Vania juga mengirim banyak pesan suara.Aku tak membukanya.Seorang teman yang kami kenal bersama lebih dulu mengirimiku sebuah video.Dalam video itu, Marcel duduk santai di sofa sambil memegang segelas minuman.“Alya memang sudah terlalu dimanja. Dikunci beberapa jam saja, nanti dia akan tahu siapa yang benar-benar memperlakukannya deng

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 4

    Aku pulang ke apartemen seorang diri dengan taksi.Bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, rasa sesak yang datang bergelombang, disertai denging di telingaku, akhirnya perlahan mereda.Sesampainya di apartemen, sopir membantuku menurunkan koper ke lantai bawah, lalu bertanya apakah aku ingin diantarkan sampai depan pintu lift.Aku menolak.Tangan kiriku memeluk laptop yang retak, sementara tangan kanan menyeret koper masuk ke dalam gedung.Begitu masuk, aku langsung menuju ruang kerja untuk mencari hard disk cadangan.Untungnya, hard disk itu masih tersimpan di laci paling dalam.Aku menghela napas lega, lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil botol obat.Namun, baru saja botol itu berada di tanganku, terdengar suara kunci pintu diputar.Marcel berdiri di ambang pintu dengan wajah muram.“Kamu benar-benar pulang.”Aku memasukkan hard disk ke kantong bagian dalam koper.“Keluar.”Dia tak bergeming. Tatapannya justru tertuju pada botol obat di tanganku

  • Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat   Bab 3

    Aku membeli segelas kopi panas di area tunggu bandara.Baru saja menutup gelasnya, seseorang menepuk bahuku keras-keras.Sedikit kopi tumpah dan mengenai ruas jariku. Panasnya seketika menyengat kulit.Aku menoleh.Marcel dan Vania berdiri di belakangku.Salah satu kancing mantel Marcel terpasang tak pada tempatnya, sementara pelipisnya dipenuhi keringat.Vania masih menggenggam boarding pass penerbangan menuju Sanara. Napasnya terengah-engah, sampai tak mampu mengucapkan satu kalimat utuh.“Sudahlah.”Marcel mengambil kopiku, menyentuh sisi gelasnya, lalu menyodorkannya kembali kepadaku.“Masih tahu beli yang panas. Nggak kedinginan, ‘kan?”Nada bicaranya terdengar seperti sedang menenangkanku, sekaligus seperti ingin mengatakan bahwa semuanya sudah selesai.“Kita nggak jadi ke Sanara. Demi mencarimu, penerbangan sampai terlewat. Sekarang impas, ‘kan? Ayo, ikut aku pulang.”Vania akhirnya berhasil mengatur napasnya. Sambil bertumpu pada lutut, dia mendongak menatapku.“Alya, ngapain k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status