Melihat aku diam saja, Karlos menghampiriku dan mencoba membujukku, “Anisa, jangan ngambek. Kalau aku memang nggak menyukaimu, mana mungkin mempertahankanmu selama bertahun-tahun?”Nada bicaranya begitu yakin.Seolah-olah penghinaan yang diberikannya kepadaku juga merupakan sebuah bentuk kemurahan hati.Aku pun mengeluarkan surat ke-100 dari dalam tas.Begitu melihat amplop itu, Karlos dengan santai mengulurkan tangan untuk menerimanya.“Akhirnya, kamu rela memberikannya padaku?”Aku menatapnya, lalu tiba-tiba tersenyum.Kemudian, aku merobek surat itu menjadi dua di depan semua orang.“Karlos, kamu nggak perlu membacanya.”“Aku juga nggak akan menulisnya lagi.”Sobekan kertas itu jatuh di atas celana panjang hitam Karlos.Dia menunduk, menatapnya selama dua detik, lalu mengangkat alisnya.“Anisa, apa yang kamu lakukan?”Seketika, ruangan itu menjadi hening.Tak lama kemudian, seseorang terkekeh pelan.“Aduh, benar-benar marah?”“Kak Karlos, cepat bujuk! Hati bucinnya sudah hampir han
Leer más