공유

Bab 4

작가: Hes
Pintu ruang istirahat di belakang panggung ditutup dengan keras.

Jessy mengikuti dari belakang. Matanya berkaca-kaca, bahkan suaranya terdengar gemetaran,

“Karlos, aku benar-benar nggak tahu layar besar itu akan menayangkan semua itu. Aku juga nggak tahu kenapa Anisa melakukan ini padaku…”

Karlos melepaskan tanganku, lalu berbalik menopang Jessy. Wajahnya masih tampak tenang, hanya saja amarah yang tertahan di matanya terlihat semakin pekat.

Setelah memastikan Jessy baik-baik saja, barulah dia menoleh padaku.

“Minta maaf.”

Aku mengira diriku salah dengar.

“Apa kamu bilang?”

Wajah Karlos memuram.

“Jessy itu tokoh utama malam ini. Kamu membuat keributan seperti itu saat penampilannya, sampai semua orang menertawakannya.”

“Anisa, bukannya emang sudah seharusnya kamu minta maaf?”

Dadaku terasa seperti ditekan sesuatu.

Aku hampir tak bisa bernapas.

“Surat-surat itu kutulis untukmu.”

“Dan kamu yang menyimpannya untuk diperlihatkan kepada mereka.”

Karlos agak mengernyit.

“Aku menyimpannya karena malas membuangnya.”

“Mereka yang menjadikannya bahan permainan karena nggak tahu batas.”

“Tapi malam ini kamu sengaja berhenti bermain piano di depan semua orang hingga Jessy dipermalukan. Itu salahmu.”

Karlos mengatakannya dengan begitu santai.

Seolah-olah rasa malu dan keterpurukanku, bahkan ketulusan yang selama sepuluh tahun menjadi bahan tertawaan semua orang, hanyalah sebuah insiden kecil dalam perjalanan Jessy menuju debutnya.

Jessy dengan lembut menarik ujung lengan baju Karlos.

“Sudahlah, Karlos, Anisa pasti nggak sengaja.”

Semakin dia bersikap seperti itu, semakin dingin pula tatapan Karlos.

“Nggak bisa dibiarkan begitu saja.”

Karlos menatapku, tanpa sedikitpun perubahan dalam nada suaranya.

“Dia terlalu dimanjakan olehku.”

Tanganku perlahan mengepal.

“Karlos, kamu nggak pernah merasa bahwa kamu juga pernah melakukan kesalahan?”

Sepertinya dia mulai lelah dengan pertanyaanku.

“Kesalahanku adalah terlalu memanjakanmu.”

Ruang istirahat itu mendadak sunyi hingga terasa mencekam.

Karlos berjalan menghampiriku, lalu mengangkat tangan dan mencengkeram daguku.

Ujung jarinya terasa dingin, tetapi tenaganya tetap terkendali.

“Anisa.”

Panggilnya dengan pelan.

“Kamu sudah menyukaiku selama sepuluh tahun. Perasaan itu bukanlah sesuatu yang palsu.”

“Bukankah sekarang kamu hanya ingin membuatku merasa kasihan padamu? Ingin membuatku memilihmu di depan semua orang?”

Ada sedikit rasa tak berdaya di matanya, seolah dia sedang menghadapi seorang gadis kecil yang tidak mengerti apa-apa.

“Tapi kamu nggak seharusnya menggunakan cara seperti ini.”

“Patuh saja. Aku akan memberimu posisi yang kamu inginkan.

Aku menatapnya.

Lalu bertanya dengan sangat pelan,

“Posisi apa?”

Karlos tidak langsung menjawab.

Jari-jari Jessy yang memegang bibir gelas mengencang.

Beberapa saat kemudian, Karlos menjawab dengan tenang,

“Posisi nyonya, cepat atau lambat akan menjadi milikmu.”

Seketika, wajah Jessy memucat.

Namun, tak lama kemudian, Karlos kembali menambahkan,

“Dengan syarat, jangan membuat keributan sampai sekacau ini lagi.”

Jadi, ternyata ini adalah bentuk kemurahan hati yang dia berikan padaku.

Membiarkanku terus bertahan dan terus menunggu.

Setelah dia puas bermain, menunggu sampai Jessy meninggalkan panggung, menunggu sampai dia teringat bahwa masih ada seorang Anisa.

Tiba-tiba, aku tertawa.

Suara tawa itu membuat Karlos agak mengernyit.

“Kamu ketawa apa?”

Aku menggeleng.

“Nggak ada.”

Aku hanya tersadar, mencintai pria ini benar-benar sudah menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan.

Karlos mengira aku sudah mengalah dan melepaskan tangannya.

“Kalau sudah nggak ada masalah, cepat pergi dan minta maaf pada Jessy.”

Aku berbalik dan menatap Jessy yang duduk di sofa.

Ada rasa puas yang tersembunyi di matanya.

Namun, aku hanya merasa sangat lelah.

Begitu lelah sampai-sampai aku bahkan tidak punya tenaga untuk membencinya.

Jadi, aku benar-benar berjalan menghampirinya tanpa ragu dan membungkuk.

“Maaf.”

Jessy terdiam.

Karlos juga sempat terdiam.

Aku kembali berdiri tegak dan berkata dengan suara pelan,

“Semoga kalian berdua bisa begitu serasi selamanya.”

Usai bicara, aku berbalik hendak membuka pintu.

Namun, Karlos lebih dulu mencengkeram gagang pintu. Nada suaranya terdengar kebingungan,

“Berhenti.”

Aku tak menoleh.

Karlos seolah ingin mengatakan sesuatu, jakunnya bergerak naik turun.

Namun, Jessy lebih dulu berkata dengan suara lembut dan bergetar,

“Karlos, kepalaku agak pusing.”

Kata-kata Karlos langsung terpotong.

Dia menoleh melihat Jessy. Perlahan, tangannya yang mencengkeram gagang pintu mengendur.

Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk langsung membuka pintu dan keluar.

Pada akhirnya, dia tetap tidak mengejarku.

Mungkin dia mengira aku hanya berhasil ditekan olehnya seperti sebelumnya.

Lagipula, selama sepuluh tahun ini, aku sudah terlalu sering menundukkan kepala.

Namun kali ini, aku tidak ingin menundukkannya lagi.

…

Saat kereta cepat tiba di stasiun, langit sudah benar-benar gelap.

Aku menyeret koper naik ke kereta, mematikan ponsel, menutup pintu, lalu duduk di kursi dekat jendela.

Lampu-lampu kota di luar jendela perlahan bergerak mundur satu demi satu.

Aku memejamkan mata.

Dan akhirnya, aku tidak menoleh lagi.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 10

    Setahun kemudian, aku mengadakan konser piano solo di luar negeri.Lagu terakhir yang kumainkan berjudul [Angkasa Yang Berlalu].Penonton memenuhi seluruh aula.Saat lampu sorot jatuh ke atas panggung, aku tidak lagi teringat pada Karlos.Aku hanya teringat pada diriku sendiri.Teringat gadis kecil yang diam-diam menulis sembilan puluh sembilan surat.Teringat betapa bodohnya, tulusnya dan sekuat apa dia pernah mencintai seseorang.Aku juga teringat bagaimana akhirnya dia berhasil keluar dari siksaan panjang yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.Setelah pertunjukan berakhir, tepuk tangan bergema tanpa henti.Saat aku berdiri untuk memberi salam terakhir, aku melihat sosok yang tidak asing di barisan paling belakang.Karlos.Tubuhnya jauh lebih kurus.Dia duduk di sudut yang remang-remang sambil menggenggam seikat bunga kecil berwarna kuning lemon.Aku hanya meliriknya sekali, lalu mengalihkan pandangan.Setelah penonton bubar, dia menungguku di luar ruang belakang panggung.Dia tida

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 9

    Pada hari aku meninggalkan Kota Nusa, Karlos tidak datang.Asistenku bilang kalau dia sudah kembali ke Kota Malan.Keluarga Dian sedang dilanda masalah. Setelah Jessy diputus kontraknya oleh perusahaan, dia menyimpan dendam. Dia pun mengunggah video acara sekolah, serta semua kejadian di balik kotak misteri ke internet.Awalnya, dia berniat membersihkan namanya sendiri dengan mengatakan bahwa semua itu dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan Karlos.Namun, netizen sama sekali tidak peduli apakah dia bersalah atau tidak.Yang mereka lihat hanyalah sebuah aksi perundungan masal yang begitu kejam dan menjijikkan.Nama Karlos langsung dihujat habis-habisan. Harga saham Grup Dian terus merosot selama tiga hari berturut-turut, sementara para mitra bisnis meminta pemutusan kerja sama.Ayah Karlos bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit..Semua orang bilang ini adalah pertama kalinya Karlos mengalami kejatuhan separah ini selama bertahun-tahun.Namun, saat mendengar semua itu, aku h

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 8

    Karlos tak langsung pergi.Dia menyewa sebuah rumah di dekat sanatorium.Setiap jam 7 pagi, akan ada orang yang mengantarkan sarapan ke depan pintu.Pangsit tanpa daun bawang, susu kedelai hangat dan permen lemon.Bahkan ada buku partitur piano langka yang dulu pernah secara asal kubilang.Aku tidak pernah mengambilnya sekalipun.Anton melihat barang-barang yang menumpuk di depan pintu hari demi hari. Pada akhirnya, dia meminta perawat mengembalikan semuanya.Karlos juga tidak membuat keributan.Dia hanya berdiri setiap hari di bawah pohon yang berada di seberang sanatorium.Kadang-kadang, saat hujan turun, dia bahkan tidak menggunakan payung.Aku pernah melihatnya dari jendela.Dia berdiri di tengah hujan, bahu jasnya basah kuyup.Persis seperti malam itu di depan tempat acara, ketika dia memiringkan payung ke arahku.Namun kali ini, aku tidak turun menemuinya.Kakak berdiri di belakangku.“Mulai luluh?”Aku menggeleng.“Aku hanya merasa, akhirnya dia juga tahu bagaimana rasanya kedin

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 7

    Karlos menemukan keberadaanku di Kota Nusa seminggu kemudian.Hari itu, aku baru saja keluar dari sanatorium sambil membawa obat yang kubelikan untuk Kakak.Begitu mendongak, aku melihatnya berdiri di pinggir jalan.Sepertinya dia sudah lama tak tidur dengan nyenyak.Terlihat urat merah di bawah matanya, dagunya ditumbuhi janggut tipis. Jas yang dipakainya masih rapi dan licin, tapi seluruh badannya terlihat seperti kehilangan sesuatu.Begitu melihatku, matanya langsung berbinar.“Anisa.”Aku menghentikan langkah.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, hendak mengambil kantong obat dari tanganku.Aku menghindar.Tangan Karlos membeku di udara.Beberapa saat kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa, dia berkata dengan suara rendah,“Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Aku menatapnya.“Pulang ke mana?”Dia sedikit mengernyit.“Kota Malan.”“Apartemenmu sudah kusuruh perpanjang sewanya. Video dari aula juga sudah kuurus. Nggak akan ada yang berani menyebarkannya lagi.”D

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 6

    Saat tiba di Kota Nusa, waktu sudah hampir tengah malam.Orang-orang di pintu keluar stasiun sudah sangat sedikit.Aku menyeret koper keluar. Angin dingin membuat mataku terasa perih.Begitu ponsel dinyalakan kembali, deretan panggilan tak terjawab langsung bermunculan satu per satu.Bersamaan dengan itu, ada sebuah pesan masuk.[Anisa, angkat teleponnya.]Dua menit kemudian, pesan lain masuk.[Kamu di mana?]Setelah itu, akhirnya nadanya tak lagi terdengar seperti perintah.[Jangan ngambek, aku akan menjemputmu.]Aku menatap pesan-pesan itu cukup lama, lalu akhirnya memblokir nomornya.Sopir taksi bertanya ke mana aku ingin pergi.Aku menyebutkan sebuah alamat.Sanatorium Kota Nusa.Selama dua tahun terakhir, Kakakku menjalani perawatan di sana.Setelah Keluarga Godart mengalami masalah, dia melindungiku dari banyak hal dan juga membantuku menyembunyikan banyak hal.Saat mobil tiba di depan sanatorium, langit sudah mulai terang.Begitu turun dari mobil, aku melihat seseorang berdiri d

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 5

    Barulah setengah jam kemudian, Karlos menyadari ada sesuatu yang tak beres.Jessy bersandar di sofa dengan wajah pucat.“Karlos, aku membuatmu khawatir, ya?”Karlos menunduk menatapnya.Jika dulu, Karlos pasti akan menyuruh orang memanggil dokter dan bertanya dengan suara lembut bagian mana yang terasa tak nyaman.Namun, saat ini yang terngiang di kepalanya malah ucapan terakhirku sebelum pergi.“Semoga kalian berdua bisa begitu serasi selamanya.”Itu tidak terdengar seperti ucapan karena sedang marah.Lebih seperti sebuah perpisahan.Karlos tiba-tiba menarik kembali ujung lengan bajunya.Jessy terkejut.“Karlos?”Dia tidak menjawab dan langsung berbalik membuka pintu.Lorong di luar sudah kosong.Para staf sibuk membereskan peralatan. Begitu melihatnya, mereka buru-buru menundukkan kepala dan menyapa.Karlos berdiri di tempat, wajahnya perlahan menjadi semakin muram.“Di mana Anisa?”Staf terdiam sejenak.“Nona Anisa baru saja pergi.”“Pergi ke mana?”“Nggak tahu. Dia membawa koper ke

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status