Share

Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100
Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100
Author: Hes

Bab 1

Author: Hes
Melihat aku diam saja, Karlos menghampiriku dan mencoba membujukku,

“Anisa, jangan ngambek. Kalau aku memang nggak menyukaimu, mana mungkin mempertahankanmu selama bertahun-tahun?”

Nada bicaranya begitu yakin.

Seolah-olah penghinaan yang diberikannya kepadaku juga merupakan sebuah bentuk kemurahan hati.

Aku pun mengeluarkan surat ke-100 dari dalam tas.

Begitu melihat amplop itu, Karlos dengan santai mengulurkan tangan untuk menerimanya.

“Akhirnya, kamu rela memberikannya padaku?”

Aku menatapnya, lalu tiba-tiba tersenyum.

Kemudian, aku merobek surat itu menjadi dua di depan semua orang.

“Karlos, kamu nggak perlu membacanya.”

“Aku juga nggak akan menulisnya lagi.”

Sobekan kertas itu jatuh di atas celana panjang hitam Karlos.

Dia menunduk, menatapnya selama dua detik, lalu mengangkat alisnya.

“Anisa, apa yang kamu lakukan?”

Seketika, ruangan itu menjadi hening.

Tak lama kemudian, seseorang terkekeh pelan.

“Aduh, benar-benar marah?”

“Kak Karlos, cepat bujuk! Hati bucinnya sudah hampir hancur.”

Karlos tak ikut tertawa.

Dia membungkuk, mengambil separuh surat itu, lalu menyipitkan mata.

“Aku sedang bertanya padamu.”

Dulu, setiap kali nada bicaranya agak meninggi sedikit saja, aku akan langsung panik.

Menjelaskan, meminta maaf dan mengalah.

Membentuk diriku menjadi sosok yang dia sukai.

Namun, aku tak melakukannya kali ini.

Aku mengambil mantel yang tersampir di sandaran kursi, lalu berjalan melewatinya menuju pintu.

Namun, tiba-tiba seseorang mencengkeram tanganku dari belakang.

Tenaga Karlos tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuatku tak bisa melepaskan diri.

Dia menunduk menatapku, suaranya direndahkan,

“Banyak orang yang sedang menonton, haruskah kamu membuat suasana seburuk ini?”

Aku tak menjawab.

Aku hanya tiba-tiba merasa semuanya begitu tak berarti.

Selama sepuluh tahun ini, ada terlalu banyak hal yang ingin kukatakan pada Karlos.

Namun, beberapa kata yang sudah tersangkut di tenggorokan akhirnya hancur begitu saja.

Jessy tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara lembut, seolah sedang melerai pertengkaran.

“Anisa, jangan marah. Kami semua hanya sudah terlalu lama nggak bertemu, jadi ingin bersenang-senang.”

Dia mengulurkan tangan untuk menarik lengan bajuku.

“Lagipula, bukannya dulu kamu selalu bilang kalau dirimu hanya akan memilih Karlos seumur hidup ini? Sekarang semua orang hanya sedang membantumu mengenang masa muda. Kok malah tersinggung?”

Beberapa teman laki-laki langsung ikut menimpali.

“Benar, Anisa, jangan nggak bisa diajak bercanda begitu.”

“Dulu kamu mengejar Kak Karlos sampai seluruh sekolah tahu. Sekarang untuk apa jual mahal?”

“Kamu bahkan sudah menulis surat ke-100. Jangan-jangan kamu hanya sedang ganti cara untuk memaksa Kak Karlos menyatakan perasaannya?”

Mendengar kalimat terakhir, Karlos agak mengangkat alisnya, seolah akhirnya menemukan alasan yang masuk akal.

Dia agak melonggarkan cengkeramannya, tapi nada suaranya malah terdengar semakin tak sabar,

“Anisa, jangan buat keributan dengan cara seperti ini.”

“Kalau kamu mau aku mengantarmu pulang, bilang saja.”

Aku mendongak dan menatapnya.

Wajah ini telah kucintai selama sepuluh tahun.

Aku begitu menyukainya sampai-sampai dia hanya perlu memberiku sebotol air, diriku sudah bisa merasa bahagia selama setengah bulan.

Aku begitu menyukainya sampai saat dia menulis di media sosial bahwa perutnya sakit, aku rela berkeliling setengah kota di jam 3 pagi hanya untuk membelikannya obat.

Aku begitu menyukainya sampai semua orang tahu bahwa Anisa tak akan bisa hidup tanpa Karlos.

Namun saat ini, saat menatapnya, aku hanya merasa asing.

Ternyata, saat seseorang tak mencintaimu, bahkan belas kasihan yang dianggap sebagai pemberian pun terasa tajam seperti tusukan pisau.

Aku menarik kembali tanganku perlahan-lahan.

Pergelangan tanganku sudah memerah karena cengkeramannya.

Karlos menunduk dan melihatnya. Secercah rasa tak tega melintas di matanya.

“Sakit?”

Dia baru saja hendak mengulurkan tangan untuk menyentuhku, tiba-tiba Jessy memegangi perut bagian bawahnya dan menghela napas pelan.

“Karlos, perutku agak nggak nyaman. Mungkin karena minum terlalu cepat tadi.”

Tangan Karlos berhenti di udara.

Jessy menunduk dan tersenyum, seolah tak ingin merepotkannya.

“Sudahlah, kamu bujuk Anisa saja. Aku tahan sebentar juga nggak apa-apa.”

Namun detik berikutnya, Karlos sudah berbalik dan menopang tubuh Jessy.

“Bukannya sudah kubilang jangan minum yang dingin?”

Nada khawatir yang tak disembunyikannya itu terasa seperti jarum kecil yang menusuk pelan ke dalam hatiku.

Jessy tak berbicara lagi. Dia hanya mengikuti posisinya dan menggenggam ujung lengan baju Karlos, lalu menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan Karlos.

Aku melihat Karlos dengan hati-hati menyampirkan mantel ke tubuhnya.

Mantel itu adalah hadiah ulang tahun yang kuberikan pada Karlos tahun lalu.

Aku memesannya khusus sebulan sebelumnya. Bahkan di bagian dalam ujung lengannya terdapat jahitan kecil.

[Karlos.]

Saat itu, dia hanya membukanya sekilas dan berkata bahwa warnanya terlalu polos.

Malam itu, aku duduk memeluk kotak hadiah hingga tengah malam, sambil menghibur diri bahwa dia hanya gengsi.

Namun sekarang, jarinya tepat menekan jahitan nama itu.

Seolah-olah sisa harga diriku yang masih enggan kuakui pun telah dirinya tekan dengan tangannya sendiri ke tubuh wanita lain.

Pelayan di dekat pintu membukakan pintu untukku.

Tiba-tiba, Jessy melepaskan tangannya.

“Sudahlah, Karlos, dia memang selalu begitu. Coba bujuk lagi saja.”

Karlos tak menjauhkannya.

Dia menatapku, seolah masih memberiku kesempatan terakhir,

“Duduk kembali dan habiskan alkoholmu, masalah ini akan dianggap selesai.”

Aku tak mengambil gelas itu.

Sebaliknya, aku berbalik dan membuka pintu ruang VIP.

Dari belakang, akhirnya suara Karlos berubah dingin.

“Anisa, kalau kamu keluar dari sini hari ini, jangan menyesal.”

Langkahku tak berhenti.

Sesaat sebelum pintu tertutup, aku mendengar tawa manja Jessy.

“Tenang saja, paling-paling dia hanya sampai di lantai bawah. Sejak kapan dia benar-benar tega mengabaikanmu?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 10

    Setahun kemudian, aku mengadakan konser piano solo di luar negeri.Lagu terakhir yang kumainkan berjudul [Angkasa Yang Berlalu].Penonton memenuhi seluruh aula.Saat lampu sorot jatuh ke atas panggung, aku tidak lagi teringat pada Karlos.Aku hanya teringat pada diriku sendiri.Teringat gadis kecil yang diam-diam menulis sembilan puluh sembilan surat.Teringat betapa bodohnya, tulusnya dan sekuat apa dia pernah mencintai seseorang.Aku juga teringat bagaimana akhirnya dia berhasil keluar dari siksaan panjang yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.Setelah pertunjukan berakhir, tepuk tangan bergema tanpa henti.Saat aku berdiri untuk memberi salam terakhir, aku melihat sosok yang tidak asing di barisan paling belakang.Karlos.Tubuhnya jauh lebih kurus.Dia duduk di sudut yang remang-remang sambil menggenggam seikat bunga kecil berwarna kuning lemon.Aku hanya meliriknya sekali, lalu mengalihkan pandangan.Setelah penonton bubar, dia menungguku di luar ruang belakang panggung.Dia tida

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 9

    Pada hari aku meninggalkan Kota Nusa, Karlos tidak datang.Asistenku bilang kalau dia sudah kembali ke Kota Malan.Keluarga Dian sedang dilanda masalah. Setelah Jessy diputus kontraknya oleh perusahaan, dia menyimpan dendam. Dia pun mengunggah video acara sekolah, serta semua kejadian di balik kotak misteri ke internet.Awalnya, dia berniat membersihkan namanya sendiri dengan mengatakan bahwa semua itu dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan Karlos.Namun, netizen sama sekali tidak peduli apakah dia bersalah atau tidak.Yang mereka lihat hanyalah sebuah aksi perundungan masal yang begitu kejam dan menjijikkan.Nama Karlos langsung dihujat habis-habisan. Harga saham Grup Dian terus merosot selama tiga hari berturut-turut, sementara para mitra bisnis meminta pemutusan kerja sama.Ayah Karlos bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit..Semua orang bilang ini adalah pertama kalinya Karlos mengalami kejatuhan separah ini selama bertahun-tahun.Namun, saat mendengar semua itu, aku h

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 8

    Karlos tak langsung pergi.Dia menyewa sebuah rumah di dekat sanatorium.Setiap jam 7 pagi, akan ada orang yang mengantarkan sarapan ke depan pintu.Pangsit tanpa daun bawang, susu kedelai hangat dan permen lemon.Bahkan ada buku partitur piano langka yang dulu pernah secara asal kubilang.Aku tidak pernah mengambilnya sekalipun.Anton melihat barang-barang yang menumpuk di depan pintu hari demi hari. Pada akhirnya, dia meminta perawat mengembalikan semuanya.Karlos juga tidak membuat keributan.Dia hanya berdiri setiap hari di bawah pohon yang berada di seberang sanatorium.Kadang-kadang, saat hujan turun, dia bahkan tidak menggunakan payung.Aku pernah melihatnya dari jendela.Dia berdiri di tengah hujan, bahu jasnya basah kuyup.Persis seperti malam itu di depan tempat acara, ketika dia memiringkan payung ke arahku.Namun kali ini, aku tidak turun menemuinya.Kakak berdiri di belakangku.“Mulai luluh?”Aku menggeleng.“Aku hanya merasa, akhirnya dia juga tahu bagaimana rasanya kedin

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 7

    Karlos menemukan keberadaanku di Kota Nusa seminggu kemudian.Hari itu, aku baru saja keluar dari sanatorium sambil membawa obat yang kubelikan untuk Kakak.Begitu mendongak, aku melihatnya berdiri di pinggir jalan.Sepertinya dia sudah lama tak tidur dengan nyenyak.Terlihat urat merah di bawah matanya, dagunya ditumbuhi janggut tipis. Jas yang dipakainya masih rapi dan licin, tapi seluruh badannya terlihat seperti kehilangan sesuatu.Begitu melihatku, matanya langsung berbinar.“Anisa.”Aku menghentikan langkah.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, hendak mengambil kantong obat dari tanganku.Aku menghindar.Tangan Karlos membeku di udara.Beberapa saat kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa, dia berkata dengan suara rendah,“Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Aku menatapnya.“Pulang ke mana?”Dia sedikit mengernyit.“Kota Malan.”“Apartemenmu sudah kusuruh perpanjang sewanya. Video dari aula juga sudah kuurus. Nggak akan ada yang berani menyebarkannya lagi.”D

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 6

    Saat tiba di Kota Nusa, waktu sudah hampir tengah malam.Orang-orang di pintu keluar stasiun sudah sangat sedikit.Aku menyeret koper keluar. Angin dingin membuat mataku terasa perih.Begitu ponsel dinyalakan kembali, deretan panggilan tak terjawab langsung bermunculan satu per satu.Bersamaan dengan itu, ada sebuah pesan masuk.[Anisa, angkat teleponnya.]Dua menit kemudian, pesan lain masuk.[Kamu di mana?]Setelah itu, akhirnya nadanya tak lagi terdengar seperti perintah.[Jangan ngambek, aku akan menjemputmu.]Aku menatap pesan-pesan itu cukup lama, lalu akhirnya memblokir nomornya.Sopir taksi bertanya ke mana aku ingin pergi.Aku menyebutkan sebuah alamat.Sanatorium Kota Nusa.Selama dua tahun terakhir, Kakakku menjalani perawatan di sana.Setelah Keluarga Godart mengalami masalah, dia melindungiku dari banyak hal dan juga membantuku menyembunyikan banyak hal.Saat mobil tiba di depan sanatorium, langit sudah mulai terang.Begitu turun dari mobil, aku melihat seseorang berdiri d

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 5

    Barulah setengah jam kemudian, Karlos menyadari ada sesuatu yang tak beres.Jessy bersandar di sofa dengan wajah pucat.“Karlos, aku membuatmu khawatir, ya?”Karlos menunduk menatapnya.Jika dulu, Karlos pasti akan menyuruh orang memanggil dokter dan bertanya dengan suara lembut bagian mana yang terasa tak nyaman.Namun, saat ini yang terngiang di kepalanya malah ucapan terakhirku sebelum pergi.“Semoga kalian berdua bisa begitu serasi selamanya.”Itu tidak terdengar seperti ucapan karena sedang marah.Lebih seperti sebuah perpisahan.Karlos tiba-tiba menarik kembali ujung lengan bajunya.Jessy terkejut.“Karlos?”Dia tidak menjawab dan langsung berbalik membuka pintu.Lorong di luar sudah kosong.Para staf sibuk membereskan peralatan. Begitu melihatnya, mereka buru-buru menundukkan kepala dan menyapa.Karlos berdiri di tempat, wajahnya perlahan menjadi semakin muram.“Di mana Anisa?”Staf terdiam sejenak.“Nona Anisa baru saja pergi.”“Pergi ke mana?”“Nggak tahu. Dia membawa koper ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status