แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Hes
Sesampainya di apartemen, aku mengeluarkan dokumen-dokumen penting dari dalam laci dan memasukkannya ke bagian paling dalam tasku. Setelah itu, aku memesan tiket kereta cepat melalui ponsel.

Setelah penampilan malam ini selesai, aku tidak akan kembali lagi.

Tepat jam tujuh malam, aula tempat perayaan ulang tahun sekolah dipenuhi cahaya.

Begitu turun dari mobil, angin dingin menerobos masuk melalui pintu samping aula, membuat ujung-ujung jariku mati rasa.

Karlos sedang menelepon di dekat pintu masuk.

Begitu melihatku, dia segera mengakhiri panggilannya. Kemudian, tatapannya jatuh ke wajahku.

“Kok wajahmu pucat sekali?”

Dia mengambil sebutir permen dari saku jasnya dan menyodorkannya kepadaku.

“Makan ini dulu.”

Bungkus permen itu berwarna kuning lemon.

Jenis permen yang paling sering kumakan dulu.

Dulu dia selalu mengeluh permen ini terlalu asam, tetapi tetap menyimpan satu kotak di dalam mobil.

Aku menunduk menatap permen itu tanpa mengambilnya.

Seolah sudah terbiasa dengan sikap diamku, Karlos dengan santai menarik syalku sedikit lebih tinggi.

“Jangan terlalu terbuka bagian bahunya. Di belakang panggung dingin.”

Gerakannya begitu terampil dan terbiasa.

Begitu terbiasa sampai aku hampir lupa bahwa tangan yang sama juga yang membuka video tadi malam untuk mengancamku agar naik ke panggung.

Tiba-tiba, suara Jessy terdengar dari kejauhan.

“Karlos, sepertinya ear monitorku bermasalah.”

Gerakan tangan Karlos langsung berhenti sejenak.

Detik berikutnya, dia sudah menarik tangannya dan berbalik menghampirinya.

“Biar kulihat.”

Jessy mengenakan gaun putih panjang dan sedang dikelilingi beberapa orang yang membantunya merapikan riasan.

Dia sedikit memiringkan kepala, membiarkan Karlos membungkuk untuk memeriksa ear monitornya.

Keduanya berdiri sangat dekat.

Begitu dekat hingga di mata Karlos yang menunduk itu, seolah hanya tersisa dirinya seorang.

Aku berdiri di tempat, meremas bungkus permen hingga kusut.

Namun, rasa getir lebih dulu membanjiri tenggorokanku.

Jessy melihatku melalui cermin, lalu tersenyum.

“Anisa, kamu benar-benar datang.”

Dia melepaskan ear monitornya, seolah baru teringat aku masih berdiri di sini. Kemudian, berjalan menghampiriku sambil tersenyum.

“Aku kira setelah semarah itu semalam, hari ini kamu nggak mau membantuku.”

Dia merangkul lenganku dengan akrab.

Karlos melihatnya.

Namun, jari-jari Jessy malah sengaja menekan bagian tanganku yang kemarin dicengkeramnya hingga memerah.

Aku sedikit tersentak karena sakit.

Alisnya bergerak sedikit, tetapi dia hanya mengingatkan dengan suara rendah,

“Jangan pegang tangannya. Sebentar lagi dia masih harus bermain piano.”

Bukan karena dia mengkhawatirkanku.

Dia hanya takut aku mengganggu penampilan Jessy.

Jessy langsung melepaskan tanganku dan mengedipkan mata dengan wajah sedih.

“Aku hanya terlalu senang.”

Karlos tak mengatakan apa-apa lagi.

Namun, saat dia berbalik untuk berbicara dengan staf, Jessy kembali mendekatkan wajahnya ke telingaku.

“Kamu tahu nggak? Karlos yang menyuruh orang mengambil kotak misteri itu dari ruang kerjanya.”

“Awalnya aku hanya ingin membaca beberapa surat, dia bilang nggak apa-apa.”

“Dia bilang, kamu nggak akan tega marah padanya.”

Napasku tercekat. Aku mengangkat pandangan ke arah Karlos yang berdiri tak jauh dari sana.

Dia sedang menunduk membantu Jessy memastikan susunan acaranya, dengan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa.

Jadi, ternyata dialah yang menyerahkannya dengan tangannya sendiri...

Jessy tampak puas, lalu mundur sambil tersenyum polos seolah tidak bersalah.

“Anisa, kasihan sekali kamu.”

Seorang staf buru-buru datang untuk meminta Jessy bersiap di belakang panggung.

Saat hendak pergi, dia tiba-tiba terbatuk pelan.

Karlos segera mengambil botol air, membuka tutupnya, lalu menyerahkannya kepadanya.

“Minum dulu. Biar tenggorokanmu tidak kering.”

Saat kembali menatapku, kelembutan di wajahnya sudah memudar.

“Kamu juga ke sana.”

“Jangan sampai menghambat dia naik panggung.”

Begitu dia selesai bicara, suara pembawa acara terdengar dari depan panggung.

“Selanjutnya, mari kita sambut penampilan lagu dari saudari Jessy.”

Tepuk tangan pun terdengar.

Aku didorong oleh staf menuju piano.

Saat lampu sorot jatuh ke arahku, aku hampir tidak bisa melihat orang-orang di bawah panggung.

Namun, aku tahu Karlos duduk di barisan paling depan.

Dia selalu seperti itu.

Duduk di tempat paling terang, menyaksikanku menundukkan kepala demi dirinya.

Jessy berdiri di tengah panggung sambil memegang mikrofon, dengan senyum manis di wajahnya.

“Lagu ini ingin kupersembahkan untuk sahabat terbaikku, Anisa.”

Tepuk tangan penuh keramahan terdengar dari bawah panggung.

Dia menoleh ke arahku, sudut matanya melengkung.

“Terima kasih karena selama bertahun-tahun sudah selalu membantuku menjaga Karlos.”

Tepuk tangan itu terhenti sesaat.

Tak lama kemudian, terdengar tawa kecil dari beberapa orang.

Ujung jariku menekan tuts piano.

Begitu nada pertama terdengar, rasanya seperti ada sesuatu yang merobek dadaku.

Lagu ini adalah lagu yang kutulis untuk Karlos saat kelas tiga SMA.

Aku tidak pernah memainkannya untuk siapa pun.

Aku hanya pernah menyinggungnya dalam surat ke-37.

[Saat hari kelulusan nanti, aku ingin memainkan lagu ini untukmu.]

Tenyata, bahkan hal ini pun dia gunakan untuk membuka jalan bagi Jessy.

Saat memasuki bagian reff, layar besar di belakang panggung tiba-tiba menyala.

Aku tak pernah menyangka bahwa yang muncul adalah surat-suratku.

Satu per satu, semuanya ditampilkan dengan jelas.

[Karlos meminjamkan penghapusnya padaku hari ini. Aku ingin menyimpannya seumur hidup.]

[Hari ini dia nggak menoleh padaku, tapi menurutku dia tetap begitu memukau.]

[Kalau suatu hari nanti dia jatuh cinta pada orang lain, aku juga akan mendoakannya bahagia.]

Seluruh aula awalnya terdiam.

Kemudian, suara tawa yang tak terbendung langsung meledak.

Jariku membeku di atas tuts piano.

Aku salah memainkan satu nada.

Jessy menoleh, seolah terkejut dan ketakutan.

“Ada apa? Bagaimana mungkin ini bisa ditayangkan dari belakang panggung?”

Dengan mata berkaca-kaca, dia menatap Karlos di bawah panggung.

“Karlos, ini bukan aku yang mengaturnya...”

Akhirnya, Karlos berdiri.

Namun, dia malah berjalan cepat ke atas panggung dan langsung berdiri melindungi di depan Jessy.

Barulah setelah itu, dia menoleh padaku dan menatapku dengan dingin.

“Anisa.”

“Haruskah sampai seperti ini caramu membuat suasana jadi kacau?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 10

    Setahun kemudian, aku mengadakan konser piano solo di luar negeri.Lagu terakhir yang kumainkan berjudul [Angkasa Yang Berlalu].Penonton memenuhi seluruh aula.Saat lampu sorot jatuh ke atas panggung, aku tidak lagi teringat pada Karlos.Aku hanya teringat pada diriku sendiri.Teringat gadis kecil yang diam-diam menulis sembilan puluh sembilan surat.Teringat betapa bodohnya, tulusnya dan sekuat apa dia pernah mencintai seseorang.Aku juga teringat bagaimana akhirnya dia berhasil keluar dari siksaan panjang yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.Setelah pertunjukan berakhir, tepuk tangan bergema tanpa henti.Saat aku berdiri untuk memberi salam terakhir, aku melihat sosok yang tidak asing di barisan paling belakang.Karlos.Tubuhnya jauh lebih kurus.Dia duduk di sudut yang remang-remang sambil menggenggam seikat bunga kecil berwarna kuning lemon.Aku hanya meliriknya sekali, lalu mengalihkan pandangan.Setelah penonton bubar, dia menungguku di luar ruang belakang panggung.Dia tida

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 9

    Pada hari aku meninggalkan Kota Nusa, Karlos tidak datang.Asistenku bilang kalau dia sudah kembali ke Kota Malan.Keluarga Dian sedang dilanda masalah. Setelah Jessy diputus kontraknya oleh perusahaan, dia menyimpan dendam. Dia pun mengunggah video acara sekolah, serta semua kejadian di balik kotak misteri ke internet.Awalnya, dia berniat membersihkan namanya sendiri dengan mengatakan bahwa semua itu dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan Karlos.Namun, netizen sama sekali tidak peduli apakah dia bersalah atau tidak.Yang mereka lihat hanyalah sebuah aksi perundungan masal yang begitu kejam dan menjijikkan.Nama Karlos langsung dihujat habis-habisan. Harga saham Grup Dian terus merosot selama tiga hari berturut-turut, sementara para mitra bisnis meminta pemutusan kerja sama.Ayah Karlos bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit..Semua orang bilang ini adalah pertama kalinya Karlos mengalami kejatuhan separah ini selama bertahun-tahun.Namun, saat mendengar semua itu, aku h

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 8

    Karlos tak langsung pergi.Dia menyewa sebuah rumah di dekat sanatorium.Setiap jam 7 pagi, akan ada orang yang mengantarkan sarapan ke depan pintu.Pangsit tanpa daun bawang, susu kedelai hangat dan permen lemon.Bahkan ada buku partitur piano langka yang dulu pernah secara asal kubilang.Aku tidak pernah mengambilnya sekalipun.Anton melihat barang-barang yang menumpuk di depan pintu hari demi hari. Pada akhirnya, dia meminta perawat mengembalikan semuanya.Karlos juga tidak membuat keributan.Dia hanya berdiri setiap hari di bawah pohon yang berada di seberang sanatorium.Kadang-kadang, saat hujan turun, dia bahkan tidak menggunakan payung.Aku pernah melihatnya dari jendela.Dia berdiri di tengah hujan, bahu jasnya basah kuyup.Persis seperti malam itu di depan tempat acara, ketika dia memiringkan payung ke arahku.Namun kali ini, aku tidak turun menemuinya.Kakak berdiri di belakangku.“Mulai luluh?”Aku menggeleng.“Aku hanya merasa, akhirnya dia juga tahu bagaimana rasanya kedin

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 7

    Karlos menemukan keberadaanku di Kota Nusa seminggu kemudian.Hari itu, aku baru saja keluar dari sanatorium sambil membawa obat yang kubelikan untuk Kakak.Begitu mendongak, aku melihatnya berdiri di pinggir jalan.Sepertinya dia sudah lama tak tidur dengan nyenyak.Terlihat urat merah di bawah matanya, dagunya ditumbuhi janggut tipis. Jas yang dipakainya masih rapi dan licin, tapi seluruh badannya terlihat seperti kehilangan sesuatu.Begitu melihatku, matanya langsung berbinar.“Anisa.”Aku menghentikan langkah.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, hendak mengambil kantong obat dari tanganku.Aku menghindar.Tangan Karlos membeku di udara.Beberapa saat kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa, dia berkata dengan suara rendah,“Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Aku menatapnya.“Pulang ke mana?”Dia sedikit mengernyit.“Kota Malan.”“Apartemenmu sudah kusuruh perpanjang sewanya. Video dari aula juga sudah kuurus. Nggak akan ada yang berani menyebarkannya lagi.”D

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 6

    Saat tiba di Kota Nusa, waktu sudah hampir tengah malam.Orang-orang di pintu keluar stasiun sudah sangat sedikit.Aku menyeret koper keluar. Angin dingin membuat mataku terasa perih.Begitu ponsel dinyalakan kembali, deretan panggilan tak terjawab langsung bermunculan satu per satu.Bersamaan dengan itu, ada sebuah pesan masuk.[Anisa, angkat teleponnya.]Dua menit kemudian, pesan lain masuk.[Kamu di mana?]Setelah itu, akhirnya nadanya tak lagi terdengar seperti perintah.[Jangan ngambek, aku akan menjemputmu.]Aku menatap pesan-pesan itu cukup lama, lalu akhirnya memblokir nomornya.Sopir taksi bertanya ke mana aku ingin pergi.Aku menyebutkan sebuah alamat.Sanatorium Kota Nusa.Selama dua tahun terakhir, Kakakku menjalani perawatan di sana.Setelah Keluarga Godart mengalami masalah, dia melindungiku dari banyak hal dan juga membantuku menyembunyikan banyak hal.Saat mobil tiba di depan sanatorium, langit sudah mulai terang.Begitu turun dari mobil, aku melihat seseorang berdiri d

  • Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100   Bab 5

    Barulah setengah jam kemudian, Karlos menyadari ada sesuatu yang tak beres.Jessy bersandar di sofa dengan wajah pucat.“Karlos, aku membuatmu khawatir, ya?”Karlos menunduk menatapnya.Jika dulu, Karlos pasti akan menyuruh orang memanggil dokter dan bertanya dengan suara lembut bagian mana yang terasa tak nyaman.Namun, saat ini yang terngiang di kepalanya malah ucapan terakhirku sebelum pergi.“Semoga kalian berdua bisa begitu serasi selamanya.”Itu tidak terdengar seperti ucapan karena sedang marah.Lebih seperti sebuah perpisahan.Karlos tiba-tiba menarik kembali ujung lengan bajunya.Jessy terkejut.“Karlos?”Dia tidak menjawab dan langsung berbalik membuka pintu.Lorong di luar sudah kosong.Para staf sibuk membereskan peralatan. Begitu melihatnya, mereka buru-buru menundukkan kepala dan menyapa.Karlos berdiri di tempat, wajahnya perlahan menjadi semakin muram.“Di mana Anisa?”Staf terdiam sejenak.“Nona Anisa baru saja pergi.”“Pergi ke mana?”“Nggak tahu. Dia membawa koper ke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status