INICIAR SESIÓNSetahun kemudian, aku mengadakan konser piano solo di luar negeri.Lagu terakhir yang kumainkan berjudul [Angkasa Yang Berlalu].Penonton memenuhi seluruh aula.Saat lampu sorot jatuh ke atas panggung, aku tidak lagi teringat pada Karlos.Aku hanya teringat pada diriku sendiri.Teringat gadis kecil yang diam-diam menulis sembilan puluh sembilan surat.Teringat betapa bodohnya, tulusnya dan sekuat apa dia pernah mencintai seseorang.Aku juga teringat bagaimana akhirnya dia berhasil keluar dari siksaan panjang yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.Setelah pertunjukan berakhir, tepuk tangan bergema tanpa henti.Saat aku berdiri untuk memberi salam terakhir, aku melihat sosok yang tidak asing di barisan paling belakang.Karlos.Tubuhnya jauh lebih kurus.Dia duduk di sudut yang remang-remang sambil menggenggam seikat bunga kecil berwarna kuning lemon.Aku hanya meliriknya sekali, lalu mengalihkan pandangan.Setelah penonton bubar, dia menungguku di luar ruang belakang panggung.Dia tida
Pada hari aku meninggalkan Kota Nusa, Karlos tidak datang.Asistenku bilang kalau dia sudah kembali ke Kota Malan.Keluarga Dian sedang dilanda masalah. Setelah Jessy diputus kontraknya oleh perusahaan, dia menyimpan dendam. Dia pun mengunggah video acara sekolah, serta semua kejadian di balik kotak misteri ke internet.Awalnya, dia berniat membersihkan namanya sendiri dengan mengatakan bahwa semua itu dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan Karlos.Namun, netizen sama sekali tidak peduli apakah dia bersalah atau tidak.Yang mereka lihat hanyalah sebuah aksi perundungan masal yang begitu kejam dan menjijikkan.Nama Karlos langsung dihujat habis-habisan. Harga saham Grup Dian terus merosot selama tiga hari berturut-turut, sementara para mitra bisnis meminta pemutusan kerja sama.Ayah Karlos bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit..Semua orang bilang ini adalah pertama kalinya Karlos mengalami kejatuhan separah ini selama bertahun-tahun.Namun, saat mendengar semua itu, aku h
Karlos tak langsung pergi.Dia menyewa sebuah rumah di dekat sanatorium.Setiap jam 7 pagi, akan ada orang yang mengantarkan sarapan ke depan pintu.Pangsit tanpa daun bawang, susu kedelai hangat dan permen lemon.Bahkan ada buku partitur piano langka yang dulu pernah secara asal kubilang.Aku tidak pernah mengambilnya sekalipun.Anton melihat barang-barang yang menumpuk di depan pintu hari demi hari. Pada akhirnya, dia meminta perawat mengembalikan semuanya.Karlos juga tidak membuat keributan.Dia hanya berdiri setiap hari di bawah pohon yang berada di seberang sanatorium.Kadang-kadang, saat hujan turun, dia bahkan tidak menggunakan payung.Aku pernah melihatnya dari jendela.Dia berdiri di tengah hujan, bahu jasnya basah kuyup.Persis seperti malam itu di depan tempat acara, ketika dia memiringkan payung ke arahku.Namun kali ini, aku tidak turun menemuinya.Kakak berdiri di belakangku.“Mulai luluh?”Aku menggeleng.“Aku hanya merasa, akhirnya dia juga tahu bagaimana rasanya kedin
Karlos menemukan keberadaanku di Kota Nusa seminggu kemudian.Hari itu, aku baru saja keluar dari sanatorium sambil membawa obat yang kubelikan untuk Kakak.Begitu mendongak, aku melihatnya berdiri di pinggir jalan.Sepertinya dia sudah lama tak tidur dengan nyenyak.Terlihat urat merah di bawah matanya, dagunya ditumbuhi janggut tipis. Jas yang dipakainya masih rapi dan licin, tapi seluruh badannya terlihat seperti kehilangan sesuatu.Begitu melihatku, matanya langsung berbinar.“Anisa.”Aku menghentikan langkah.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, hendak mengambil kantong obat dari tanganku.Aku menghindar.Tangan Karlos membeku di udara.Beberapa saat kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa, dia berkata dengan suara rendah,“Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Aku menatapnya.“Pulang ke mana?”Dia sedikit mengernyit.“Kota Malan.”“Apartemenmu sudah kusuruh perpanjang sewanya. Video dari aula juga sudah kuurus. Nggak akan ada yang berani menyebarkannya lagi.”D
Saat tiba di Kota Nusa, waktu sudah hampir tengah malam.Orang-orang di pintu keluar stasiun sudah sangat sedikit.Aku menyeret koper keluar. Angin dingin membuat mataku terasa perih.Begitu ponsel dinyalakan kembali, deretan panggilan tak terjawab langsung bermunculan satu per satu.Bersamaan dengan itu, ada sebuah pesan masuk.[Anisa, angkat teleponnya.]Dua menit kemudian, pesan lain masuk.[Kamu di mana?]Setelah itu, akhirnya nadanya tak lagi terdengar seperti perintah.[Jangan ngambek, aku akan menjemputmu.]Aku menatap pesan-pesan itu cukup lama, lalu akhirnya memblokir nomornya.Sopir taksi bertanya ke mana aku ingin pergi.Aku menyebutkan sebuah alamat.Sanatorium Kota Nusa.Selama dua tahun terakhir, Kakakku menjalani perawatan di sana.Setelah Keluarga Godart mengalami masalah, dia melindungiku dari banyak hal dan juga membantuku menyembunyikan banyak hal.Saat mobil tiba di depan sanatorium, langit sudah mulai terang.Begitu turun dari mobil, aku melihat seseorang berdiri d
Barulah setengah jam kemudian, Karlos menyadari ada sesuatu yang tak beres.Jessy bersandar di sofa dengan wajah pucat.“Karlos, aku membuatmu khawatir, ya?”Karlos menunduk menatapnya.Jika dulu, Karlos pasti akan menyuruh orang memanggil dokter dan bertanya dengan suara lembut bagian mana yang terasa tak nyaman.Namun, saat ini yang terngiang di kepalanya malah ucapan terakhirku sebelum pergi.“Semoga kalian berdua bisa begitu serasi selamanya.”Itu tidak terdengar seperti ucapan karena sedang marah.Lebih seperti sebuah perpisahan.Karlos tiba-tiba menarik kembali ujung lengan bajunya.Jessy terkejut.“Karlos?”Dia tidak menjawab dan langsung berbalik membuka pintu.Lorong di luar sudah kosong.Para staf sibuk membereskan peralatan. Begitu melihatnya, mereka buru-buru menundukkan kepala dan menyapa.Karlos berdiri di tempat, wajahnya perlahan menjadi semakin muram.“Di mana Anisa?”Staf terdiam sejenak.“Nona Anisa baru saja pergi.”“Pergi ke mana?”“Nggak tahu. Dia membawa koper ke







