“Apa tempat kerja Ibu besar?” tanya Kian, memeluk lengan ibunya di atas kasur lapuk mereka. Mereka berbaring berhadapan, bersiap untuk tidur. Jam dinding telah menunjukkan pukul 10 malam. “Iya, sangat besar, Nak,” jawab Mira, mengelus lembut punggung Kian. Kian mendongak, wajah polosnya berkerut penasaran. “Sebesar apa? Apa bisa main sepak bola di dalam? Apa bisa naik sepeda atau motor juga?” Pertanyaan beruntun itu membuat lelah di wajah Mira seketika menguap, digantikan oleh senyum tipis. Ia menunduk, mengecup puncak kepala putranya yang berbau jeruk—bau dari sabun batangan murah yang ia beli. “Iya Sayang, sangat bisa.” “Apa bisa bawa mobil dan kereta api juga?” Mira tertawa kecil. Kian dan imajinasinya selalu di luar nalar. Namun, obrolan kecil seperti inilah yang membuat Mira tetap merasa hidup dan punya alasan untuk bertahan setiap harinya. Kian adalah penyemangat hidup terbesarnya. “Mungkin bisa,” sahut Mira lembut, menyembunyikan kenyataan tentang betapa keras
Última actualización : 2026-09-10 Leer más