Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali

Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali

last updateLast Updated : 2026-08-20
By:  rainaxdaysOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Mira Deyana baru berusia 19 tahun ketika dia dijual oleh ayahnya sendiri ke seorang Nyonya di kota. Ia dipaksa untuk menikahi seorang presdir sakit dan melahirkan pewaris untuknya. Namun, pernikahannya dengan Hayes Arsenio tidak pernah berjalan mulus. Sebuah kesalahpahaman terjadi dan Hayes mengusir Mira pergi, tanpa tahu bahwa Mira tengah mengandung anaknya. Bertahun-tahun kemudian, di bawah jalinan takdir, Mira kembali dipertemukan dengan Hayes. Apakah Hayes masih mengingat istrinya dengan putra mereka dalam gendongannya? Atau, dia justru telah... melupakan keduanya?

View More

Chapter 1

01. Dijual

“Dasar anak tidak tahu diri! Dasar sialan! Kenapa aku harus punya anak tidak berguna sepertimu, hah?!”

Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Mira yang meringkuk di tanah.

Harto—sang ayah—tak berhenti menyiksa, meskipun Mira sudah menangis meminta ampun. Amarahnya tak terbendung karena Mira mencoba melarikan diri, padahal dia sudah dijual ke seorang Nyonya di kota.

“Ampun, Ayah! Ampun! Sakit!” Mira menangis sesenggukan sambil memeluk tubuhnya yang penuh lebam. “Ampun!”

Harto mendengus dan membuang balok kayu di tangannya. “Sekali lagi kau mencoba kabur, Ibumu yang sama tidak bergunanya itu akan Ayah habisi!”

“Ibu tidak salah! Jangan sakiti Ibu!” Mira langsung berlutut di kaki ayahnya dengan wajah memelas. Ia menggeleng-geleng dengan pipi bersimbah air mata. “Tolong jangan sakiti Ibu. Aku mohon, Ayah!”

“Cih! Kalau kau memang kasian pada Ibumu yang tidak berguna itu, jangan coba-coba untuk kabur lagi!” Harto menendang Mira sebelum melangkah kesal ke dalam rumah.

Mira meringis kesakitan dan mengusap dadanya yang berdenyut nyeri. Ia hanya berbaring di tanah berdebu yang kotor itu untuk waktu yang lama. Pikirannya kosong. Matanya terus terarah ke langit biru yang menaunginya.

Begitu indah dan menenangkan. Tidak seperti hidupnya yang suram dan kacau balau.

Umurnya baru 19 tahun, tetapi sepertinya ia tidak memiliki masa depan lagi.

Kemarin, ia telah dijual ke seorang Nyonya kaya yang datang dari kota. Ayahnya sendiri yang menjualnya. Mira tidak tahu berapa harganya, tetapi yang jelas, ayahnya pasti akan menggunakan uang itu untuk berjudi.

Ayahnya bahkan tidak mau membantu pengobatan ibunya yang sakit-sakitan.

Air mata menggenang di wajah kuyu Mira. Ia berdiri dengan susah payah, lalu menatap bekas pukulan di sekujur tubuhnya. Punggungnya rasanya akan robek karena rasa sakit yang menusuk.

Mira membersihkan pakaiannya, meskipun rasanya percuma saja. Tanpa debu sekalipun, pakaian bekasnya yang penuh tambalan tidak akan pernah terlihat bagus.

Mira mendapat sumbangan pakaian dari tetangga, tetapi semuanya sudah robek dan bolong. Mira tidak memprotes, sebab keluarganya memang sangat miskin.

Kemiskinan itu pula yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ia hanya tamat SD. Ayahnya tidak mau membiayai lebih jauh. Setidaknya, ia bersyukur karena sudah lancar membaca dan berhitung.

“Hei anak sial, cepat masuk dan masak singkongnya! Aku kelaparan di sini!”

Suara sang ayah terdengar memanggil dari dalam rumah bambu mereka yang reyot. Mira hendak melangkah masuk, tetapi suara mobil yang datang menghentikan langkahnya.

Mobil itu berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya yang hampir roboh. Mira berdiri terpaku memperhatikan mobil hitam yang mengkilap itu, sementara ayahnya terdengar mendekat dengan tergopoh-gopoh.

Pintu mobil terbuka dan seorang wanita paruh baya melangkah keluar. Pakaiannya yang berwarna ungu muda terlihat mewah dengan rumbai dan hiasan mutiara. Dia memakai kacamata hitam dan topi dengan jaring-jaring yang menutupi sebagian wajahnya.

Wanita itu mengeluarkan sapu tangan dan menutup hidungnya yang berkerut jijik. Dia melangkah hati-hati, tidak ingin sepatu mahalnya mengenai kotoran bebek yang tersebar.

“Nyonya! Anda datang!” Harto menyambut wanita itu dengan senyum sumringah.

Mira melangkah mundur sambil bertanya-tanya apakah wanita itu yang telah membelinya. Ia tidak sempat melihat wanita itu kemarin. Ayahnya mengurungnya di kandang bebek.

“Aku datang untuk mengambil barangku,” kata wanita itu dengan suara selembut kapas. Dia beralih menatap Mira yang berdiri agak jauh dari keduanya, lalu menurunkan sapu tangannya dari hidung. Wajahnya mengernyit tidak suka. “Kenapa barangku sudah tidak utuh? Apa kau baru saja memukulinya?”

“Tidak, Nyonya! Anu—” Harto memucat di tempat. Ia menggaruk tengkuknya dan kelabakan sendiri. “Dia mencoba kabur, jadi saya—saya memukulnya. Tapi—saya tidak memukul wajahnya.”

Sang Nyonya menghela napas, tampak tidak puas. “Aku ingin barangku utuh, tapi sekarang dia penuh lebam. Harga awal harus diturunkan kalau begitu.”

“Tapi Nyonya—”

“Ya, atau aku akan mencari gadis lain?” sela Nyonya itu dengan satu alis naik.

Harto berdecak dan menatap Mira seolah dia-lah yang bersalah. “Y-ya, baik, Nyonya,” sahutnya tak rela.

“Dia masih perawan 'kan?”

“Tentu saja, Nyonya.”

Nyonya itu lantas mengisyaratkan asistennya yang berdiri di depan mobil untuk mendekat. Pria itu mengeluarkan sebuah amplop tebal dan memberikannya pada Harto.

Harto langsung menerima segepok uang itu dengan wajah berseri-seri, padahal dia baru saja menjual putri kandungnya sendiri.

“Bawa gadis itu,” perintah sang Nyonya pada asistennya.

Mira spontan melangkah mundur. “Tapi—”

“Cepat ikut, dasar anak bodoh!” bentak Harto.

Mira meremat tangannya. “Aku—aku belum berpamitan pada Ibu.”

“Tidak perlu! Lagi pula, Ibumu juga tidak akan bisa bangun dari tempatnya.” Harto bicara dengan acuh tak acuh.

Namun, Mira tidak bisa pergi tanpa melihat ibunya terlebih dahulu. “Tapi Ayah—”

Harto melotot dan bicara dengan tajam, “Kau tidak ingat apa yang Ayah katakan sebelumnya?”

Mira menunduk takut. Ayahnya mengancam akan menyiksa ibunya. Mira tidak ingin ibunya semakin sakit.

Ibunya biasanya bisa bangun dan beraktivitas seperti biasa meskipun terseok-seok. Namun sejak semalam, sakit ibunya mendadak kambuh. Dia hanya bisa terbaring di atas ranjang lapuknya.

“Ayah—ayah tolong setidaknya belikan Ibu obat. Hanya itu saja permintaanku. Aku mohon, Ayah,” pinta Mira saat asisten sang Nyonya mulai menarik tangannya.

Harto mengangguk enggan dengan wajah datar. Mira sudah diseret menuju mobil yang terparkir. Ia menatap rumah reyotnya untuk terakhir kali dengan perasaan pilu.

‘Ibu, aku pergi. Tolong jaga diri Ibu baik-baik.’

Mira terisak kecil dan tubuhnya didorong masuk ke mobil. Ia tidak tahu akan dibawa ke mana, tetapi mungkin, ia tidak akan pernah bertemu dengan ibunya lagi.

“Berhenti menangis.”

Suara sang Nyonya yang duduk di sampingnya menyentak Mira. Suaranya masih sehalus sebelumnya, tetapi tatapannya mengancam.

“Aku tidak suka melihat wanita yang menangis,” imbuhnya.

Mira buru-buru mengusap air matanya dan menggigit bibir bawahnya. Pandangannya jatuh ke tangannya yang disatukan di atas paha.

Entah kenapa, wanita di sampingnya terlihat menakutkan.

“Berapa umurmu?” tanya sang Nyonya saat mobil sudah melaju pergi meninggalkan rumah Mira.

“Sembilan belas tahun, Nyonya,” jawab Mira lirih.

“Siapa nama lengkapmu?”

“Mira Deyana, Nyonya.”

“Kau bisa membaca, 'kan?”

Mira mengangguk pelan.

Wanita itu mengeluarkan sebuah berkas dari tas yang ada di depannya, lalu mengulurkannya pada Mira. “Mulai hari ini, namamu adalah Sora. Bukan Mira lagi. Tidak ada bantahan atau pertanyaan, kau hanya perlu menerimanya. Apa kau paham?”

Mira menatap berkas di tangannya dan ragu-ragu mengangguk. “Y-ya, Nyonya.”

“Tugasmu hanya satu, yaitu menikahi putra tiriku dan memberinya keturunan. Setelah pewarisnya lahir, kau harus pindah ke kota lain—atau mungkin negara lain,” jelas wanita itu dengan serius. “Tapi jangan khawatir, kau akan diberi tempat tinggal dan uang bulanan. Selama kau tutup mulut dan tidak memberitahukan apa pun mengenai apa yang kita bicarakan sekarang, kau akan baik-baik saja. Terutama putraku, dia tidak boleh tahu apa pun,” tekannya.

Mira terdiam memikirkan itu semua. Ia merasa bingung.

Jadi, ia dibeli untuk melahirkan seorang pewaris? Lalu, ia harus pergi meninggalkan anaknya sendiri setelah melahirkannya? Tapi, kenapa namanya harus diganti? Dan kenapa putra wanita itu tidak boleh tahu apa-apa?

Ada banyak pertanyaan yang kini berseliweran dalam kepalanya.

“Apa kau paham?” tanya wanita itu dengan tajam ketika Mira larut dalam pikirannya.

Mira buru-buru mengangguk. “Ya, Nyonya.”

“Panggil aku Nyonya Katie,” perintahnya.

“Ba-baik, Nyonya Katie.”

Katie mengangguk puas. “Sekarang, baca berkasnya.”

Mira membalik berkas itu dengan pikiran berkecamuk. Semua ini terlalu mengejutkan untuknya.

Mira hanya membaca sekilas identitas barunya, kemudian membaca berkas lain. Tatapannya terpaku pada foto seorang pria dalam balutan jas rapi.

Hayes.

Nama calon suaminya.

Umurnya 25 tahun. Seorang presdir muda di Industri Manufaktur. Tetapi bukan itu yang menarik perhatian Mira, melainkan tatapan dan ekspresi pria itu dalam foto.

Begitu dingin dan tajam. Hampir terlihat kejam.

Mira langsung tahu calon suaminya bukan orang yang akan mudah dihadapi.

Kehidupan barunya mungkin tidak akan berbeda dengan kehidupan lamanya.

Tersiksa dan Menderita.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status