Share

15. Mulai Penasaran

Author: rainaxdays
last update publish date: 2026-09-12 23:09:10

Hayes tak menunggu untuk mendengarkan lebih jauh. Ia bergegas memacu kakinya keluar dari ruangan, menuju sumber di mana senandung itu mengalun.

Jantungnya berdebar tak karuan, memikirkan kemungkinan bahwa wanita itu adalah Sora.

Hayes sepenuhnya mengabaikan pelayan yang memberi hormat padanya. Tatapannya tertuju ke punggung wanita yang tengah duduk di bawah pohon Tabebuya sendirian.

Senandung itu dinyanyikan olehnya.

Semakin dekat, suaranya terdengar semakin merdu.

“Cinta itu masih ada...

Di h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   25. Mira Tenggelam

    Kenapa wanita pelayan itu selalu mengingatkannya pada istrinya?Hayes kembali memutar kejadian semalam, tepat saat sosok Mira mendadak muncul di halaman bersama dua pelayan lainnya.Mereka berjalan beriringan sembari membawa alat-alat pembersih kolam, sebelum akhirnya menghilang begitu berbelok di tepi barat mansion.Hayes terdiam cukup lama, terpaku pada titik tempat Mira menghilang. Namun begitu menyadari pandangannya telah tertahan di sana terlalu lama, ia buru-buru mengalihkan wajahnya dengan gusar.Hayes merasa heran pada dirinya sendiri, seolah-olah alam bawah sadarnya sedang menuntutnya untuk melakukan hal itu. Ia tidak mengerti apa alasannya, tetapi matanya seringkali tanpa sadar bergerak mengikuti wanita itu.‘Tidak, aku tidak boleh membiarkan hal konyol ini terus terjadi.’Hayes menghalau pikiran itu jauh-jauh, lalu berbalik masuk ke dalam kamar. Ia membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke kantor.Saat melangkah keluar dengan jubah mandi, ia mendapati kemeja dan jasnya

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   24. Antara Sora dan Mira

    “Wajahmu pucat, Nak.” Mira menyentuh dahi Kian dan mengernyit merasakan panas yang menyengat telapak tangannya. “Apa kau merasa pusing, Sayang? Lemas?”Kian menggelengkan kepalanya. “Ian baik-baik saja, Ibu.”“Benarkah? Jangan membohongi Ibu, kau jelas-jelas terlihat pucat, Nak.” Mira menatap lekat sepasang mata anaknya yang masih bersikeras menggeleng. “Ibu khawatir, mungkin sebaiknya hari ini kau tidak perlu ke TK. Ini pasti karena kau bermain hujan-hujanan saat pulang sekolah bersama Dafa. Ibu sudah bilang, kau tidak tahan dingin, Sayang.”Ian menunduk, memasang wajah bersalah khas anak-anak yang tertangkap basah. “Ian salah, Ibu. Tapi... Ian juga ingin main hujan-hujanan seperti teman-teman yang lain,” katanya lirih.Mira mengembuskan napas berat, dadanya terasa ditimpa batu.Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Kian bahwa sejak lahir, tubuhnya jauh lebih lemah dibanding anak-anak seusianya?Asupan gizi yang tidak mencukupi selama ini ikut andil dalam memperburuk daya tahan tubuhnya

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   23. Sumpah Menyakitkan

    “Aku pikir, kau mungkin mengenal... siapa pelayan itu?” “Aku tidak yakin,” Amar bicara dengan ragu. “Siapa namanya?” “Mira Deyana.” “Aku tidak ingat ada seseorang bernama Mira Deyana yang pernah dekat dengan Tuan Hayes.” Erwin menghela napas berat. “Aku juga merasa bingung. Tapi bukankah ini sangat janggal? Setelah sekian lama, Tuan Hayes tiba-tiba tertarik pada seseorang setelah pindah ke kota ini?” “Ya, itu sangat aneh. Tapi aku sudah mengecek kota itu sebelum Tuan Hayes pindah. Dia tidak memiliki kenalan di sana,” ujar Amar, terdengar sama pusing dan bingungnya dengan Erwin. “Lalu, apa wanita itu ada dalam catatanmu?” “Tidak ada. Di catatan pribadi Tuan Hayes juga nihil,” jawab Erwin. “Aku yakin itu murni masalah otak Tuan Hayes.” “Tapi ada satu keanehan lagi,” ucap Erwin, teringat dengan kejadian di TK Bintang. “Tuan Hayes juga merasakan perasaan familier yang sama pada anak Mira. Dari sekian banyak anak di TK Bintang, dia malah terus memperhatikan anak itu.” Amar

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   22. Mulai Curiga

    “Sora... aku merindukanmu...”Mira mengernyit, tidak mendengar jelas ucapan sang majikan. Suara petir menggelegar di luar—ia hanya mendengar gumaman tak jelas.“Anda bilang apa, Tuan?” tanya Mira, ragu-ragu menundukkan kepalanya. Ia bisa mencium wewangian beraroma pinus dari tubuh Hayes, menguar memenuhi penciumannya.Aromanya entah kenapa terasa familier, memicu getaran aneh yang tak bisa ia jelaskan.Hayes kembali bergumam, tetapi kata-katanya semakin tidak jelas. Wajahnya tampak berkerut kesakitan.“Apa ada yang sakit, Tuan?” Mira bertanya cemas, tetapi tidak ada respons. Saat ia mencoba menunduk lebih rendah, ia mendadak berhenti menyadari presensi seseorang.Erwin muncul di bukaan ruangan. Sepasang matanya melebar, menatap terkejut pemandangan tak terduga di hadapannya.Sang presdir yang ia tahu sangat membenci sentuhan fisik dari siapa pun, kini justru tengah berada dalam pangkuan pelayan baru itu.Erwin segera menghampiri dengan langkah lebar. “Apa yang kau lakukan?!”“Itu... T

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   21. ‘Sora... Aku Merindukanmu’

    Mira berdiri di lorong sayap kiri, menimbang-nimbang untuk pergi ke sayap kanan atau tidak. Ia tidak tahu Alina ada di mana. Setelah mengosongkan tempat sampah dan mencuci tangan, mereka harusnya pergi ke gudang untuk mengambil stok bahan makanan. Apakah Alina kembali mengelap jendela di sayap kanan? Pekerjaannya belum selesai siang tadi, tetapi perutnya sudah keroncongan, jadi mereka pergi ke dapur untuk makan. Mungkin ia bisa mengeceknya ke sana. Pandangannya mengedar sejenak, memperhatikan mansion yang luas itu. Ini pertama kalinya Mira berada di lorong sayap kiri. Interiornya mewah, dengan lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit.Sayap kanan sepertinya dibuat lebih sederhana dibanding sayap mansion lainnya.Kepala pelayan menjelaskan bahwa ada tiga sayap di mansion ini—sayap kanan, sayap tengah, dan sayap kiri. Namun, Tuan Besar lebih sering menggunakan sayap kanan sebagai tempat pribadinya. Rumah seluas ini dan Tuan Besar hanya tinggal sendiri. Mira jadi te

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   20. Terbelenggu Masa Lalu

    Gerimis turun pagi ini.Suhu udara menurun drastis setelah hujan deras yang mengguyur semalam. Mira tidak punya pilihan selain mengenakan mantel pemberian Nathan, padahal ia awalnya berniat untuk menyimpannya.“Ibu, ayo!” panggil Kian ceria sambil mengulurkan tangan mungilnya. Dia sudah siap dengan jaket kebesaran yang membalut tubuhnya.Suasana hatinya begitu cerah sejak kemarin, mengingat dia mendapatkan hadiah dari ketua yayasan di TK-nya.Itu adalah mobil-mobilan listrik mini yang dari tampilannya saja sudah mencerminkan kualitas dan harganya. Karena mobil itu, hadiah dari Nathan jadi terabaikan.“Ibu, boleh tidak Ian bawa Dafa untuk main mobil-mobilan listrik itu di rumah?” tanya Kian, mulai membahas hadiahnya lagi.Mira tersenyum lembut dan menerima uluran tangan putranya. “Boleh, Sayang,” jawabnya, lalu membuka payung. “Tapi ingat, jangan main hujan-hujan, ya?”Kian segera memberi hormat dengan tangannya yang bebas. “Siap, Ibu Yang Terhormat!”Mira spontan tertawa kecil, merasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status