Deg. Aku terkejut bukan main. Kenapa ia malah bertanya mengapa aku pulang? Padahal, jelas-jelas ia akan segera menikah. Tidak mungkin seorang ibu absen di hari paling penting dalam hidup anak tunggalnya, bukan?"Majikan Ibu tidak akan marah, Hariss..." kataku, suaraku bergetar namun kuusahakan tetap selembut mungkin. "Beliau sudah wafat bulan lalu. Jadi Ibu sudah tidak punya ikatan kerja lagi di sana. Kontrak Ibu sudah selesai. Lagi pula... kanker di tubuh Ibu sudah memasuki stadium lanjut, Nak. Dokter Faisal sempat melarangku terbang, tapi Ibu nekat demi kamu...""Nah! Apalagi baru meninggal! Dan kondisi Ibu lagi sakit, kenapa malah nekat jalan jauh?!" potong Hariss cepat, nadanya semakin tidak sabar, berapi-api, dan terdengar sangat defensif. "Pasti banyak yang harus Ibu urus di sana, kan? Urusan administrasi, sisa gaji, pemakaman, atau tahlilan untuk orang meninggal, Bu! Masa gak ada yang kaya gitu di sana?! Lagian di sini Ibu gak usah datang jauh-jauh, nanti malah repot! Ibu di sa
Terakhir Diperbarui : 2026-10-15 Baca selengkapnya