Share

Buah Rindu

Penulis: Hati Wanita
last update Tanggal publikasi: 2026-10-01 04:05:37

Pagi harinya, ketika Dokter Faisal dan Mr. Rashid datang berkunjung, aku menyampaikan keputusan bulatku.

"Nyonya Sartika! Anda tidak bisa menolak operasi ini begitu saja!" protes Dokter Faisal keras saat aku meminta izin untuk pulang.

"Kondisi kanker Anda sangat agresif! Pergi keluar negeri dalam kondisi seperti ini sangat berbahaya!"

"Saya tahu risiko medisnya, Dokter," jawabku tenang, dengan senyum tipis yang memancar dari wajahku yang pucat. "Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar sisa umur saya. Anak saya akan menikah di Indonesia. Saya harus hadir."

Mr. Rashid memandangku dengan tatapan entah. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. Tampaknya dia memahami apa yang kami obrolkan dalam bahasa Indonesia.

“Jika ini benar-benar keputusan akhirmu yang bulat, Nyonya Sartika... Maka aku, dalam kapasitasku sebagai pelaksana wasiat Syaikhat Latifah, akan menyiapkan seluruh dokumen kepemilikan aset atas namamu agar siap ditandatangani dan dialihkan kapan pun engkau inginkan. Aku juga akan mengatur penerbangan kelas VIP untukmu ke Jakarta," Mr. Rashid ikut bicara.

"Syukran, Mr. Rashid... Syukran katsiru jiddan," kataku tulus.

______

Malam ini aku duduk termenung di sudut tempat tidur guest house murahan yang pengap. 

Aku menatap pantulan diriku di cermin rias kamar rumah sakit sebelum berangkat ke bandara. Wajahku tampak makin kuyu, kulitku makin mengering dan kerutan halus di sekitar mataku makin jelas terlihat. Namun, di dalam mata yang redup itu, ada berkobar sejuta kerinduan yang tak terpadamkan.

Di dalam tas jinjing tua berbahan kain yang kupeluk erat di pangkuanku, tersimpan berkas-berkas resmi berstempel kerajaan Dubai, dokumen yang sanggup mengubah takdir hidup anakku dalam sekejap mata.

Aku menghela napas, lalu meraih ponselku yang layarnya sudah retak di bagian sudut.

Dengan sisa-sisa tenaga setelah perjalanan panjang dari Dubai, aku kembali membuka sebuah akun media sosial milik seorang gadis bernama Karin Amanda.

Hanya akunnya, calon istri putraku. Sudah hampir satu tahun belakangan, aku tidak bisa lagi melihat akun-akun media sosial milik Hariss, putra tunggal yang teramat kurindukan. Dia memprivat semua akunnya dariku, dengan alasan agar aku tenang bekerja di Dubai dan dia tenang belajar di kampus.

Karena rindu yang membuncah selama ini, akun Karin, calon menantuku itu, menjadi satu-satunya jendela bagiku untuk sekadar mengintip kabar dan memastikan putraku baik-baik saja sekarang.

Sebelum nekat terbang pulang ke Indonesia, aku sudah mencari tahu banyak hal tentang Karin melalui bantuan Safira, keponakanku. Dari cerita Safira, aku tahu bahwa Karin adalah seorang sarjana kedokteran yang cerdas, persis seperti profesi Safira saat ini.

Dia juga lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat terpandang dan kaya, seorang putri Bupati. Hanya saja, ada satu hal yang sempat mengganjal di sudut hati kecilku, Karin tidak mengenakan kerudung. Penampilannya sangat modern, modis dan terbuka.

Tadinya, sebagai seorang ibu yang memegang teguh iman, ada bisikan kuat di hatiku untuk mengingatkan Hariss. Aku ingin menasihati putraku agar mencari pendamping hidup yang setidaknya bisa menutup aurat, yang bisa menjaga marwahnya sebagai seorang muslimah.

Namun, aku merasa tak berdaya. Hariss seolah tak peduli pada nasehat-nasehat itu.

Aku sadar akan keterbatasanku yang selama ini disangka Hariss hanya seorang pekerja migran biasa di Dubai. Suaraku tak akan punya kekuatan untuk membantah cintanya. Akhirnya, aku memilih untuk diam dan menelan egoku dalam-dalam. Tidak ingin menjadi batu sandungan bagi kebahagiaan anakku sendiri.

Aku hanya bisa melangitkan doa di sepertiga malam dan menyelipkan nasihat lembut di sela-sela obrolan kami, "Hariss, kalau nanti Karin sudah jadi istrimu, bimbing dia dengan baik, ya. Semoga kamu bisa jadi imam yang sabar untuknya."

Malam itu, aku terus menggulir layar ponsel ke bawah, memandangi foto-foto yang diunggah Karin. Gadis itu tampak memamerkan senyum ceria di berbagai tempat bersama teman-teman kuliahnya. Ada foto selfie berlatar koridor kampus kedokteran yang megah, momen tawa renyah di kafe-kafe estetik, pose anggun di depan cermin butik mewah, hingga foto pasca-olahraga di sebuah tempat gym eksklusif kelas atas. Dia juga sering memamerkan foto papanya bersama para pejabat maupun pebisnis yang sukses.

"Lingkungannya benar-benar tak main-main. Apa sebaiknya aku juga ke butik untuk mencari pakaian yang bagus?" gumamku lirih. Menatap pakaian sederhana yang kini kukenakan.

Aku tahu tempat-tempat itu. Meski belasan tahun memeras keringat di luar negeri, aku tidak buta dengan perkembangan kota Jakarta tempat anakku hidup selama ini.

Sambil mengulas senyum bahagia yang tulus, ibu jariku mengetuk layar dua kali. Aku memberikan tanda suka pada setiap postingan wanita cantik itu. Rasa bangga perlahan merayap dan menghangatkan pikiran yang sepi.

"Betapa cantiknya kamu, Karin... Pantas saja anakku sangat mencintaimu," bisikku pada sunyinya kamar malam.

Di mataku, Karin adalah sosok menantu sempurna yang akan menemani masa depan Hariss. Aku merasa semua tetes keringat, lelah sakit dan air mataku di Dubai terbayar lunas melihat kebahagiaan yang menanti putra tunggalku. Keikhlasan itu membuat hatiku tenang, hingga aku bisa tertidur malam itu dengan sejuta harapan indah.

Suara bising klakson dari kemacetan jalanan kota Jakarta terdengar samar-samar, menyusup dari balik celah jendela kaca kamar guest house melati tempatku menginap.

Kamar ini sempit, pengap dan beraroma lembap. Namun bagiku, tempat ini jauh lebih nyaman daripada tidur di jalanan. Tak masalah tinggal beberapa hari di sini, karena jaraknya lebih dekat ke gedung mewah tempat resepsi pernikahan putraku digelari.

Segala kepahitan, rasa sakit kanker ginjal di tubuhku dan sengatan pereda nyeri yang mulai pudar tak ada artinya jika membayangkan senyum di wajah tampan putraku.

Aku telah berusia empat puluh lima tahun, duduk termenung di tepi ranjang yang seprainya sudah memudar. Mataku tertuju pada ponsel di genggaman.

Sambil memegangi pinggang kanan yang sesekali berdenyut ngilu, mataku melirik ke sudut ruangan. Di sana tergeletak sebuah tas jinjing tua berbahan kain terpal. Penampilannya sengaja kubuat lusuh agar tak menarik perhatian orang. Namun di dalam tas itu, tersimpan dokumen-dokumen bernilai triliunan rupiah, surat kepemilikan tujuh vila dan gedung-gedung milik almarhumah Sheikha Latifa yang kini resmi atas namaku.

Semua perjuangan dan penderitaanku akan berakhir setelah nanti kuserahkan seluruh berkas dari Dubai ini padanya. Hasil jerih payah dan kesetiaanku merawat majikan dibalas Allah dengan bonus yang jauh lebih besar dari apa yang pernah kuimpikan.

Namun, apalah aku. Seorang wanita yang divonis dokter hidupnya tak akan lebih dari satu tahun lagi. Aku tak butuh harta kekayaan dunia. Aku hanya ingin hidup bahagia di sisa umurku bersama Hariss, istrinya dan cucu-cucuku nantinya.

Biarlah Hariss yang mengelola semuanya. Hari ini semua hak waris dan aset berharga itu akan kuserahkan dan kupindahnamakan atas nama putra tunggalku sebagai hadiah pernikahan.

Setelah lima belas tahun memeras keringat di Dubai, menahan rindu yang menggerogoti setiap malam, dan menyembunyikan kenyataan bahwa aku sedang digerogoti kanker ganas, hari ini aku akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah air. Semua rasa lelah dan sakit menguap demi satu hal, pernikahan Hariss.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup, kusentuh layar ponselku. Kutekan tombol panggilan pada kontak yang kunamai dengan penuh kasih. “Hariss Anakku.”

Nada sambung berdering beberapa kali. Setiap deringnya terasa seperti satu ketukan palu yang mendebarkan. Aku sudah membayangkan bagaimana suara Hariss akan berubah ceria, bagaimana anak itu akan berteriak bahagia mendengar ibunya sudah pulang. Namun, pada deringan kelima, panggilan itu diangkat dan aku tak menyangka bahwa Hariss akan melakukannya padaku.

"Halo, Ibu? Ada apa telepon? Aku lagi sibuk banget ini, lagi fitting baju pengantin sama Karin. Kalau ada apa-apa, telepon saja Safira." Suara Hariss terdengar cepat, ketus, dan tanpa basa-basi dari seberang sana. Ya, selama ini Safira keponakanku yang sering kuhubungi, karena nomor Hariss sering kali sibuk.

Sayang sekali, tidak ada nada rindu, tidak ada sapaan hangat, bahkan tidak ada pertanyaan apakah ibunya ini sehat.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba sekuat tenaga menelan kegetiran yang mendadak menyumbat tenggorokan. Kudepak rasa kecewa itu jauh-jauh. Aku memaksakan sebuah senyuman, berharap kehangatan suaraku bisa melunasi ketegangan di seberang telepon.

"Halo, Hariss... Alhamdulillah kalau lancar, Nak. Ibu mengganggu ya? Ibu cuma mau mengabarkan... Ibu sudah di Indonesia sekarang. Ibu sudah di Jakarta."

Hening sesaat. Tidak ada suara sorak gembira dari Hariss. Keheningan di seberang telepon terasa mencekam, sebelum akhirnya digantikan oleh hela napas berat yang penuh dengan nada jengkel dan frustrasi.

"Ibu di Indonesia?! Kok nggak bilang-bilang dulu, sih?! Lagian ngapain Ibu pulang sekarang?!" Suara Hariss mendadak meninggi, sarat akan kepanikan yang tertahan.

Deg. Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Kenapa dia malah bertanya kenapa aku pulang? Padahal, jelas-jelas dia akan menikah. Tidak mungkin aku sebagai ibunya tidak hadir, bukan? Apa dia tak mau aku muncul di depan Karin dan keluarganya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu   Menampar Kesombongan Pegawai Bank

    Kutatap sekali lagi pantulan diriku di cermin guest house yang buram. Kilau air mata yang sempat membasahi pipi kini telah mengering, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan penuh tekad. Tidak seharusnya seorang anak memperlakukan ibunya seperti itu. Dunia zaman sekarang ternyata sudah sekejam ini. Penampilan yang sederhana, pakaian yang nyaman tanpa merek dan wajah polos tanpa riasan langsung dicap sebagai simbol kemiskinan. Orang-orang begitu mendewakan bungkus hingga lupa melihat isi. Tragisnya, racun itu pula yang telah merusak otak Hariss, putra tunggalku sendiri. Anak yang dulu kurawat dengan penuh kasih, kini tega membuang ibunya demi menjaga gengsi di depan keluarga pejabat. Dia terlalu silau dengan kekayaan calon mertuanya, tanpa pernah tahu rahasia besar yang selama ini kusimpan rapat-rapat di dalam tas jinjing terpal lusuh itu. Aku berjalan mendekati sudut kamar, lalu meraih tas tersebut. Di dalamnya, tumpukan dokumen resmi berbahasa Arab dan Inggris dengan segel holo

  • Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu   Kebohongan Hariss

    Deg. Aku terkejut bukan main. Kenapa ia malah bertanya mengapa aku pulang? Padahal, jelas-jelas ia akan segera menikah. Tidak mungkin seorang ibu absen di hari paling penting dalam hidup anak tunggalnya, bukan?"Majikan Ibu tidak akan marah, Hariss..." kataku, suaraku bergetar namun kuusahakan tetap selembut mungkin. "Beliau sudah wafat bulan lalu. Jadi Ibu sudah tidak punya ikatan kerja lagi di sana. Kontrak Ibu sudah selesai. Lagi pula... kanker di tubuh Ibu sudah memasuki stadium lanjut, Nak. Dokter Faisal sempat melarangku terbang, tapi Ibu nekat demi kamu...""Nah! Apalagi baru meninggal! Dan kondisi Ibu lagi sakit, kenapa malah nekat jalan jauh?!" potong Hariss cepat, nadanya semakin tidak sabar, berapi-api, dan terdengar sangat defensif. "Pasti banyak yang harus Ibu urus di sana, kan? Urusan administrasi, sisa gaji, pemakaman, atau tahlilan untuk orang meninggal, Bu! Masa gak ada yang kaya gitu di sana?! Lagian di sini Ibu gak usah datang jauh-jauh, nanti malah repot! Ibu di sa

  • Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu   Buah Rindu

    Pagi harinya, ketika Dokter Faisal dan Mr. Rashid datang berkunjung, aku menyampaikan keputusan bulatku."Nyonya Sartika! Anda tidak bisa menolak operasi ini begitu saja!" protes Dokter Faisal keras saat aku meminta izin untuk pulang."Kondisi kanker Anda sangat agresif! Pergi keluar negeri dalam kondisi seperti ini sangat berbahaya!""Saya tahu risiko medisnya, Dokter," jawabku tenang, dengan senyum tipis yang memancar dari wajahku yang pucat. "Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar sisa umur saya. Anak saya akan menikah di Indonesia. Saya harus hadir."Mr. Rashid memandangku dengan tatapan entah. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. Tampaknya dia memahami apa yang kami obrolkan dalam bahasa Indonesia.“Jika ini benar-benar keputusan akhirmu yang bulat, Nyonya Sartika... Maka aku, dalam kapasitasku sebagai pelaksana wasiat Syaikhat Latifah, akan menyiapkan seluruh dokumen kepemilikan aset atas namamu agar siap ditandatangani dan dialihkan kapan pun engkau ingin

  • Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu   Keputusan Bulat

    Dari seberang sana, terdengar Hariss menghela napas panjang. "Bu, Ibu kan kerja ikut orang di sana. Majikan Ibu kan galak dan ketat banget dari cerita Ibu dulu. Hariss gak mau gara-gara Ibu nekad izin pulang ke Indonesia cuma buat acara pernikahan Hariss, nanti majikan Ibu marah terus Ibu dipecat!"Hariss menepis jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada sok dewasa. "Hariss ini belum kerja mapan banget, Bu. Karin itu anak orang kaya. Hariss masih butuh dukungan Ibu di sana. Belum lagi biasa pendidikan S2-ku. Kalau Ibu dipecat sekarang, nanti bagaimana? Udah, Ibu fokus kerja aja di Dubai. Gak usah repot-repot pulang ke Indonesia. Lagian ongkos tiket pesawat kan mahal banget, Bu. Mending uangnya ditransfer aja buat tambahan biaya resepsi Hariss di sini."Aku tertegun. Lidahku mendadak kelu, membeku kaku di dalam mulut.Hariss tidak tahu. Anakku sama sekali tidak tahu bahwa majikan yang dia sebut galak itu sudah meninggal dunia. Dia tidak tahu bahwa ibunya ini bukan lagi seorang pembant

  • Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu   Yang Lebih Menyakitkan

    Layarnya menyala, menampilkan nama kontak keponakanku yang ada di Indonesia. Safira.Dengan berat, kutekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telingaku."Assalamualaikum. Halo... Safira?" Suaraku parau, berat oleh sisa tangis."Waalaikumsalam. Halo, Bulek Sartika!" Suara Safira terdengar riang dan ceria di seberang sana, sangat kontras dengan kepedihan yang sedang mencabik-cabik dadaku."Bulek! Bulek sehat, kan di Dubai?"Aku menyapu air mata dengan cepat, mencoba menata napas agar suara terdengar normal."Alhamdulillah, Safira... Bulek sehat. Ada apa, Nak? Kok tiba-tiba telepon?""Bulek! Ada kabar bahagia banget!" seru Safira antusias. "Mas Hariss, Bulek! Mas Hariss sebentar lagi mau menikah! Bulek pasti sudah dikabarin Hariss kan?"Jantungku seperti melompat dari tempatnya. Aku terkejut. Kenapa Hariss tak bilang? Namun begitu, kabar pernikahan itu... seketika menyiramkan sepercik kehangatan di tengah padang pasir keputusasaan yang membakar hatiku. Mungkin dia lupa, karena terlal

  • Ternyata Putraku Malu Memanggilku Ibu   Harta dan Sakit Kronis

    Aku terbangun di dalam sebuah ruangan yang sangat asing. Bau aroma karbol yang menyengat menembus indra penciuman, digantikan oleh suara bip-bip yang ritmis dari mesin di sebelah kiriku. Ketika mata berhasil terbuka sempurna, langit-langit ruangan berwarna putih bersih dengan lampu LED lembut menyambut pandanganku. Ada jarum infus menancap di punggung tangan kiriku, dan sebuah selang bening terpasang di hidungku.Seorang dokter pria berwajah blesteran Arab Indonesia dengan jas putih bersih sedang berdiri di ujung ranjang, memegang sebendel papan rekam medis bersama dua orang perawat. Dia adalah salah satu dokter langgananku dan Madam selama ini."Nyonya Sartika? Anda sudah sadar?" tanya dokter itu dalam bahasa Indonesia.Aku mencoba menggerakkan tubuhku, namun rasa nyeri tumpul di pinggang belakang masih tersisa, membuatku meringis pelan."Saya... apa yang terjadi dengan saya, Dokter?"Dokter itu menarik kursi dan duduk di samping ranjangku. Wajahnya yang semula ramah mendadak berub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status