Masuk"Ibu nggak usah pulang. Aku masih perlu uang, jadi Ibu lanjut kerja saja di sana beberapa tahun lagi." Setelah kontrak kerjaku di Dubai habis, aku justru divonis tidak bisa hidup lama. Karenanya, aku memutuskan untuk pulang ke tanah air untuk menghabiskan hari-hari terakhirku dengan putra semata wayangku--tanpa menduga bahwa ia justru mengusirku karena malu mengakui ibunya selama ini bekerja sebagai TKW semata, bukan pengusaha seperti yang diceritakan oleh Hariss. Tapi, Anakku, sesungguhnya kamu tidak tahu kalau kamu baru saja menolak mengakui ibumu yang baru saja menerima dana hibah senilai ratusan triliun dari majikannya.
Lihat lebih banyak“Nyonya baru saja meninggal, Tuan.”
Aku menyampaikan kabar duka itu dengan tersendat. Kepalaku tertunduk menghadapi seorang pria Arab bertubuh tinggi besar yang baru saja masuk ke kamar ini. Bau minyak kayu putih dan antiseptik masih pekat.
Di atas tempat tidur di tengah ruangan terbaring jenazah Sheikha Latifa. Wanita berusia tujuh puluh dua tahun yang selama belasan tahun ini menjadi majikan, sekaligus ibu, guru dan pelindungku di tanah Arab.
Kusapu air mataku dengan ujung jilbab. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakitnya, Madam Latifa akhirnya mengembuskan napas terakhirnya beberapa saat yang lalu.
“Nyonya Sartika, ayo keluar dulu," ucap Mr. Rashid. Suaranya terdengar tenang dan berwibawa. “Biarkan tim medis menangani jenazah Syaikhat Latifah.”
Beliau adalah notaris hukum kepercayaan Madam Latifa yang sudah puluhan tahun mengurus seluruh aset properti dan kekayaan keluarga tersebut. Gegas, aku mengikuti pria itu keluar.
Selain tim medis yang disebutkan, aku, Mr. Rasyid, serta dua pembantu lain di rumah ini, tidak ada siapapun lagi, karena selama lima tahun bekerja di bawah Madam Latifa, aku tahu Madam tidak punya suami maupun anak, serta seluruh saudara kandungnya telah telah wafat bertahun-tahun lalu tanpa meninggalkan keturunan.
Tak heran, rumah besar Madam yang terasa seperti istana ini kosong dan dingin.
Aku duduk merenung di sofa. Kepergian Madam dan betapa sepinya rumah ini mendadak membuatku merindukan kampung halaman dan putraku semata wayang, Hariss Salim.
Saat kutinggalkan untuk merantau ke negeri orang lima belas tahun yang lalu, dia masih anak-anak. Selama ini, aku tidak bisa pulang juga karena terikat kontrak. Aku hanya bisa mengawasi pertumbuhan anak itu dari foto-foto dan kabar yang dikirimkan.
Sekarang, dirinya sudah lulus S-1 jurusan bisnis. Seharusnya ia sudah bisa bekerja dan menghidupi dirinya sendiri sekarang.
“Inikah saatnya aku pulang?” gumamku. Tugasku semuanya sudah selesai di sini.
Drrt, drrt!
Tiba-tiba ponselku bergetar. Pesan dari Hariss, putraku. Menanyakan kabar dan kesehatanku. Baru kemudian aku ingat kalau aku belum mengirimkan uang pada anak ini.
Sekalian saja kusampaikan niatku untuk pulang. Ia pasti senang.
Namun, balasan yang datang justru sebaliknya.
[Bu, apakah tidak bisa cari kontrak lagi di sana dan bantu aku lanjut S-2? Sekarang lulusan S-1 nggak ada apa-apanya di tempat kerja. Hanya Ibu yang bisa bantu aku.]
Aku terdiam membaca balasan itu.
Ternyata sekarang orang tidak cukup selesai kuliah saja untuk bisa kerja mapan. Meski sudah sarjana ternyata belum cukup untuk menunjang kariernya di perusahaan sebagai orang kepercayaan bosnya.
"Baiklah, Nak. Jika itu keinginanmu, apa pun akan ibu lakukan agar kamu jadi orang sukses,” gumamku. “Semoga majikan Ibu selanjutnya juga baik.”
“Sartika.”
Aku mendongak saat Mr. Rashid memanggilku. Pria itu duduk di sofa di depanku dan mengeluarkan dokumen bersampul kulit hitam berlogo kerajaan.
"Di tangan saya ini adalah amanah terakhir dan wasiat sah terdaftar secara resmi dari almarhumah Syaikhat Latifah," ucap pria itu.
Aku terkejut. “Untuk saya, Tuan?”
Mr. Rashid mengangguk. Kemudian, ia berkata, “Selama lima tahun terakhir, dan mengingat kesetiaan serta kejujuranmu, serta bagaimanakah engkau merawat beliau dengan penuh kesabaran–maka Nyonya Latifah telah mengalihkan kepadamu, wahai Sartika, seluruh hak waris tunggal atas seluruh kekayaannya.”
"Ap... apa?" Aku melebarkan mata karena terkejut.
"Tuan Rashid, jangan bercanda denganku. Aku hanyalah seorang pekerja rumah tangga dari Indonesia! Aku hanya seorang pelayan!"
"Aku tidak sedang bercanda!" tegas Mr. Rashid seraya menyodorkan lembaran berbahasa Arab dan Inggris di hadapanku.
"Tujuh unit vila mewah di Palm Jumeirah, tiga gedung komersial di kawasan pusat kota bisnis Dubai, portofolio saham properti, serta seluruh rekening simpanan pribadi yang diperkirakan bernilai ratusan juta dirham... semuanya kini resmi menjadi atas namamu. Sartika," sambungnya meyakinkanku. Kemudian, pria itu tersenyum tipis. “Madam menginginkanmu hidup dengan nyaman setelah ini. Bukankah, dengan ini kamu juga bisa pulang?”
Duniaku serasa berputar seketika.
Ratusan juta dirham? Vila mewah? Gedung berlantai-lantai? Angka-angka dan nama kepemilikan itu menari-nari liar di depan mataku.
Aku, Sartika Sari. Seorang wanita pembantu rumah tangga dari kampung terpencil di Indonesia tiba-tiba menjadi miliarder pemilik kekayaan properti di Dubai?
Ini gila! Ini tak masuk akal!
Tapi, ucapan Mr. Rashid tidak salah. Dengan begini … bukankah aku tetap bisa membantu putraku sekolah?
Baru saja aku hendak menanggapi, tiba-tiba sebuah rasa sakit yang luar biasa dahsyat mendadak menusuk pinggang bagian belakangku.
Telingaku berdenging hebat. Rasa sakit itu bukan lagi pegal-pegal biasa yang selama berbulan-bulan ini selalu kutahan dan kusembunyikan dengan meminum obat pereda nyeri murah.
Ini seperti ada besi panas yang ditancapkan lalu diputar paksa di dalam rongga perut bagian kananku!
"Aagghh!" Aku menjerit, mencengkeram tepi meja hingga kuku-kukuku memutih.
"Sartika? Ada apa denganmu?!" Suara Mr. Rashid terdengar melayang dan makin menjauh.
Keringat dingin berukuran sebesar bulir jagung mendadak membanjiri dahi dan leherku. Napasku memburu, tersengal-sengal. Pandangan yang semula jelas perlahan-lahan berubah menjadi remang-remang, lalu bertransisi menjadi titik-titik hitam yang meluas. Rasa sakit di pinggangku menjalar hingga ke dada, membuatku tak sanggup lagi menghirup udara.
"Hariss...," gumamku lirih sebelum seluruh duniaku berubah menjadi kegelapan yang pekat dan dingin.
Kutatap sekali lagi pantulan diriku di cermin guest house yang buram. Kilau air mata yang sempat membasahi pipi kini telah mengering, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan penuh tekad. Tidak seharusnya seorang anak memperlakukan ibunya seperti itu. Dunia zaman sekarang ternyata sudah sekejam ini. Penampilan yang sederhana, pakaian yang nyaman tanpa merek dan wajah polos tanpa riasan langsung dicap sebagai simbol kemiskinan. Orang-orang begitu mendewakan bungkus hingga lupa melihat isi. Tragisnya, racun itu pula yang telah merusak otak Hariss, putra tunggalku sendiri. Anak yang dulu kurawat dengan penuh kasih, kini tega membuang ibunya demi menjaga gengsi di depan keluarga pejabat. Dia terlalu silau dengan kekayaan calon mertuanya, tanpa pernah tahu rahasia besar yang selama ini kusimpan rapat-rapat di dalam tas jinjing terpal lusuh itu. Aku berjalan mendekati sudut kamar, lalu meraih tas tersebut. Di dalamnya, tumpukan dokumen resmi berbahasa Arab dan Inggris dengan segel holo
Deg. Aku terkejut bukan main. Kenapa ia malah bertanya mengapa aku pulang? Padahal, jelas-jelas ia akan segera menikah. Tidak mungkin seorang ibu absen di hari paling penting dalam hidup anak tunggalnya, bukan?"Majikan Ibu tidak akan marah, Hariss..." kataku, suaraku bergetar namun kuusahakan tetap selembut mungkin. "Beliau sudah wafat bulan lalu. Jadi Ibu sudah tidak punya ikatan kerja lagi di sana. Kontrak Ibu sudah selesai. Lagi pula... kanker di tubuh Ibu sudah memasuki stadium lanjut, Nak. Dokter Faisal sempat melarangku terbang, tapi Ibu nekat demi kamu...""Nah! Apalagi baru meninggal! Dan kondisi Ibu lagi sakit, kenapa malah nekat jalan jauh?!" potong Hariss cepat, nadanya semakin tidak sabar, berapi-api, dan terdengar sangat defensif. "Pasti banyak yang harus Ibu urus di sana, kan? Urusan administrasi, sisa gaji, pemakaman, atau tahlilan untuk orang meninggal, Bu! Masa gak ada yang kaya gitu di sana?! Lagian di sini Ibu gak usah datang jauh-jauh, nanti malah repot! Ibu di sa
Pagi harinya, ketika Dokter Faisal dan Mr. Rashid datang berkunjung, aku menyampaikan keputusan bulatku."Nyonya Sartika! Anda tidak bisa menolak operasi ini begitu saja!" protes Dokter Faisal keras saat aku meminta izin untuk pulang."Kondisi kanker Anda sangat agresif! Pergi keluar negeri dalam kondisi seperti ini sangat berbahaya!""Saya tahu risiko medisnya, Dokter," jawabku tenang, dengan senyum tipis yang memancar dari wajahku yang pucat. "Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar sisa umur saya. Anak saya akan menikah di Indonesia. Saya harus hadir."Mr. Rashid memandangku dengan tatapan entah. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. Tampaknya dia memahami apa yang kami obrolkan dalam bahasa Indonesia.“Jika ini benar-benar keputusan akhirmu yang bulat, Nyonya Sartika... Maka aku, dalam kapasitasku sebagai pelaksana wasiat Syaikhat Latifah, akan menyiapkan seluruh dokumen kepemilikan aset atas namamu agar siap ditandatangani dan dialihkan kapan pun engkau ingin
Dari seberang sana, terdengar Hariss menghela napas panjang. "Bu, Ibu kan kerja ikut orang di sana. Majikan Ibu kan galak dan ketat banget dari cerita Ibu dulu. Hariss gak mau gara-gara Ibu nekad izin pulang ke Indonesia cuma buat acara pernikahan Hariss, nanti majikan Ibu marah terus Ibu dipecat!"Hariss menepis jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada sok dewasa. "Hariss ini belum kerja mapan banget, Bu. Karin itu anak orang kaya. Hariss masih butuh dukungan Ibu di sana. Belum lagi biasa pendidikan S2-ku. Kalau Ibu dipecat sekarang, nanti bagaimana? Udah, Ibu fokus kerja aja di Dubai. Gak usah repot-repot pulang ke Indonesia. Lagian ongkos tiket pesawat kan mahal banget, Bu. Mending uangnya ditransfer aja buat tambahan biaya resepsi Hariss di sini."Aku tertegun. Lidahku mendadak kelu, membeku kaku di dalam mulut.Hariss tidak tahu. Anakku sama sekali tidak tahu bahwa majikan yang dia sebut galak itu sudah meninggal dunia. Dia tidak tahu bahwa ibunya ini bukan lagi seorang pembant












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.