Arga menggenggam erat ponselnya, berdiri di depan pintu Kantor Catatan Sipil. Hiruk-pikuk suara orang di sekitarnya seolah lenyap seketika.Nada bicara itu sama persis dengan yang dulu sering dia ucapkan pada Rania.Arga terdiam cukup lama, akhirnya berhasil menekan gelora emosi rumit di dadanya."Baiklah."Keesokan harinya.Dia kembali menelepon Rania."Rania, hari ini ada waktu nggak? Kita urus buku nikahnya."Di seberang telepon terdengar keheningan beberapa detik, sebelum suara gadis itu menjawab, "Oke."Arga menghela napas lega, tiba di Kantor Catatan Sipil satu jam lebih awal.Namun, dari pukul sembilan pagi hingga lima sore, Rania tak kunjung muncul.Sama seperti kemarin, tepat saat kantor tutup, teleponnya baru bisa dihubungi, dan gadis itu hanya berkata, "Ada urusan, nggak ada waktu."Hari ketiga."Cuacanya lagi nggak enak, males keluar."Hari keempat."Aku mau ke makam jenguk ibu, lain hari aja ya."Hari kelima."Teman ngajak makan nih."...Begitulah seterusnya. Sudah tujuh
Read more