Tepat di saat tangan Gantari menyentuh tirai pintu, suara Javas bergema dari belakangnya. Tidak ada lagi wibawa dingin seorang kaisar, hanya suara yang membawa getaran yang sulit ditahan dan permohonan yang hampir terdengar begitu rendah."Ikut aku kembali ke istana," ucapnya pelan, setiap kata seolah-olah menguras seluruh tenaganya. "Aku ... sangat merindukanmu."Tangan Gantari yang hendak menyingkap tirai terhenti sejenak, hampir tak terlihat.Namun, itu hanya terjadi sekejap saja.Tirai pintu bergoyang, dan bayangan tubuhnya lenyap ke luar sekat ruangan. Langkah kakinya terdengar ringan, makin lama makin menjauh.Javas membeku di tempat, mempertahankan posisi mengulurkan tangannya, sementara ujung jarinya terasa dingin menusuk.Dari luar terdengar suaranya yang lembut seperti biasa, ditujukan kepada Jiwan. "Suamiku, apa Malya sudah tidur? Aku mau lihat sup obat di atas kompor, tolong jaga tokonya.""Oke, kamu pulang dulu, hati-hati supnya panas."Percakapan normal antara suami istri
Baca selengkapnya