Short
Hati yang Tak Bergeming

Hati yang Tak Bergeming

โดย:  Jajaจบแล้ว
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
26บท
211views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Javas Balakosa telah naik takhta. Dia memahkotai Garwita Ranjana sebagai permaisuri. Sedangkan Gantari Ranjana, istri sah yang menemaninya berdarah-darah dan bertarung dari status pangeran hingga menduduki takhta, hanya mendapatkan gelar selir agung. Hari saat titah kerajaan diturunkan, Istana Ayodya hening mencekam. Para pelayan menundukkan kepala dan menahan napas. Mereka takut Gantari akan menangis, mengamuk, melempar barang-barang, atau histeris seperti para selir yang kehilangan kasih sayang kaisar. Namun, Gantari justru menerima titah itu dengan tenang. "Saya mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia." Suaranya datar, tanpa ada ekspresi di wajahnya. Bahkan di mata almonnya yang cantik, tak tersirat sedikit pun rasa sedih. Gantari berbalik memasuki kamar dan kembali membaca bukunya. Seolah titah yang menurunkannya dari posisi istri sah menjadi selir agung itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Gantari. Tujuh hari kemudian, Javas yang jarang datang ke Istana Ayodya akhirnya menyempatkan diri kesana.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1

Pria itu mengenakan jubah agung berwarna emas terang. Perawakannya tegap, tatapannya dingin. Berdiri di tengah aula, dia tampak seperti pohon pinus di tengah salju, berwibawa sekaligus asing.

"Gantari," ucapnya dengan suara berat. "Apa kamu keberatan dengan keputusanku ini?"

Gantari bergegas berdiri dan memberi hormat. "Saya tidak keberatan. Keputusan Yang Mulia mengangkat Kakak sebagai permaisuri adalah tindakan yang bijaksana. Saya ... tidak keberatan sama sekali."

Javas mengerutkan kening menatap wajah tenang itu.

Pria itu mengira ketenangan Gantari beberapa hari ini hanyalah taktik agar dia datang membujuk Gantari secara langsung. Begitu dia datang dan bertanya, wanita itu pasti akan menangis, merasa terintimidasi, lalu mengamuk.

Setelah itu, dia tinggal memberikan beberapa hadiah dan berkata dengan tegas, "Hari saat aku menikahimu, aku sudah bilang bahwa hatiku hanya milik Garwita. Aku bisa memberimu kemewahan dan kekayaan, tapi tidak dengan cinta. Posisi permaisuri hanya untuk wanita yang kucintai."

Dengan ketegasan dan kemurahan hati seperti itu, masalah ini harusnya selesai.

Namun, wanita ini ternyata benar-benar tidak peduli. Padahal, sikap berserah diri seperti ini sangat bagus. Tidak menimbulkan masalah dan menandakan Gantari benar-benar menanamkan ucapannya dulu ke dalam hati tanpa berani berharap lebih.

Akan tetapi, melihat sikap acuh tak acuh itu, dada Javas justru terasa sesak.

"Yang Mulia, Hamba membawa barang-barangnya," ucap Kepala Kasim Istana, Darya Bagawanta. Dia melangkah masuk memimpin rombongan pelayan yang membawa kotak-kotak berbalut sutra.

Kotak itu dibuka, memperlihatkan bulu rubah salju kualitas terbaik, putih bersih tanpa noda sedikit pun.

Bulu ini didapatkan Javas saat berburu beberapa hari lalu. Awalnya, dia berniat memberikannya kepada Gantari sebagai kompensasi.

Namun, melihat sikap Gantari saat ini, dia mendadak bingung harus berkata apa.

Sudahlah.

Berikan saja hadiahnya, lalu pergi.

Baru saja dia hendak berbicara, Gantari sudah mendahuluinya.

"Bulu-bulu ini indah sekali." Gantari menatap bulu rubah salju itu dengan tatapan kagum, tetapi tanpa binar kejutan. "Ini hasil buruan Yang Mulia beberapa hari lalu, ‘kan? Apa Yang Mulia membawanya ke sini agar saya menjahitkan bulu-bulu ini menjadi jubah hangat untuk Kakak?"

Rasa tidak nyaman di dada Javas makin menjadi-jadi. "Kenapa kamu nggak berpikir ... kalau ini hadiah dariku langsung untukmu?"

Gantari bergegas berlutut dengan cemas. "Ampuni saya Yang Mulia, saya tidak berani punya rasa percaya diri seperti itu. Yang Mulia pernah berkata bahwa cinta Anda hanya milik Kakak. Usaha keras Anda berburu rubah salju yang langka ini pasti demi Kakak. Saya ... tidak berani sembarangan menebak keinginan Anda."

Darya hendak meluruskan. "Yang Mulia Selir Agung, sebenarnya ini sengaja dibuat oleh ...."

"Darya," potong Javas dengan suara tajam.

Darya seketika bungkam.

Javas menatap Gantari yang berlutut di lantai. Api amarah tanpa sebab di dadanya, berkobar makin hebat.

"Kalau begitu," ucapnya dingin. "Selesaikan dalam waktu satu hari. Udara belakangan ini makin dingin, dan permaisuri memiliki tubuh yang lemah. Dia tidak boleh kedinginan."

"Saya siap menjalankan perintah," jawab Gantari sambil menunduk.

Melihat kepatuhan itu, amarah Javas makin meluap. Dia mengibaskan lengannya, berbalik, lalu melangkah dengan lebar meninggalkan Istana Ayodya.

Gantari bangkit berdiri. Dia menatap punggung pria itu dengan sedikit kebingungan, tetapi dengan cepat kembali tenang. Dia memanggil pelayannya, Tisna. "Ambilkan jarum dan benang."

"Baik, Yang Mulia."

Setelah Tisna membawakan peralatan jahit, Gantari duduk di samping jendela dan mulai menjahit jubah hangat tersebut. Cahaya matahari menerobos masuk, jatuh di atas jari lentiknya. Jari itu bergerak lincah dan mahir menuntun benang.

"Yang Mulia," panggil Tisna pelan. "Apakah Anda ... benar-benar tidak sedih?"

Gerakan tangan Gantari terhenti sejenak. Dia tersenyum tipis. Senyuman yang sangat samar, tetapi secantik es yang baru mencair. Sebuah keindahan yang memikat hati.

"Sedih?" bisik Gantari. "Untuk apa sedih?"

Lima hari lagi, obat mati suri di dalam tubuhnya akan bekerja. Dia akan bisa meninggalkan istana ini dan bebas dari Javas sepenuhnya. Dia akan pergi ke Wilayah Dundra untuk menemui pria yang benar-benar dicintainya.

Gantari dan Garwita adalah saudara seayah dari kediaman perdana menteri. Namun, Gantari adalah anak dari selir. Karena fisiknya yang lemah sejak kecil, dia dikirim ke Wilayah Dundra untuk dibesarkan oleh neneknya.

Di Wilayah Dundra, dia bertemu dengan Jiwan Laksana. Jiwan adalah putra dari Gubernur Wilayah Dundra, seorang pemuda yang lembut dan sangat berbakat. Mereka tumbuh bersama, membaca buku, menikmati bunga, dan memandangi gerimis Wilayah Dundra bersama-sama.

Pemuda itu pernah menggenggam tangannya dan berjanji, "Gantari, setelah kamu berumur lima belas tahun dan melewati pesta kedewasaan, aku akan menikahimu."

Pipi Gantari merona merah saat itu. "Baiklah."

Namun, tepat di hari usianya genap lima belas tahun, saat Keluarga Laksana bersiap melamar, ayahnya mendadak mengutus orang untuk membawanya pulang ke ibu kota. Dia dipaksa menikah dengan Pangeran Ketiga, Javas.

Sebab saat itu sedang terjadi perebutan takhta di antara sembilan pangeran. Kaisar menganugerahkan putri dari pejabat tinggi kepada setiap pangeran sebagai istri sah. Dan yang dijodohkan dengan Javas adalah putri dari Kediaman Perdana Menteri.

Javas menyukai kakak perempuan Gantari, Garwita. Namun, dia tahu betapa berbahayanya situasi saat itu. Menikahi Garwita sama saja menyeret wanita itu ke dalam bahaya. Jadi, ketika mengetahui ada adik Garwita yang juga anak selir, yang dibesarkan di Wilayah Dundra, dia meminta Gantari.

Gantari menolak. Namun, ayahnya mengancam menggunakan nyawa Jiwan. "Kalau kamu menolak menikah, aku akan membuat seluruh Keluarga Laksana dihukum mati!"

Pada akhirnya, ayahnya berjanji, "Setelah Pangeran Ketiga naik takhta, aku akan memberimu obat mati suri. Saat kamu 'meninggal', kamu bisa meninggalkan istana dan menemui Jiwan."

Gantari menyetujuinya. Dia pun menikah dengan Javas.

Setelah menikah, kehidupan memang penuh bahaya. Pembunuhan, racun, dan jebakan. Gantari terluka berkali-kali dan keracunan berulang kali. Namun, dia tidak pernah mengeluh. Dia mengurus rumah tangga pangeran dengan rapi dan menjadi pendukung yang sempurna.

Ketika Javas terluka dan membutuhkan obat langka, dia mempertaruhkan nyawa untuk mencari obatnya. Ketika Javas dijebak oleh musuh politiknya, Gantari melindunginya menahan sabetan pedang.

Entah sejak kapan, rumor mulai beredar di kediaman pangeran, bahwa Istri Pangeran Ketiga sangat mencintai suaminya.

Gantari tidak repot-repot menjelaskan. Dia hanya ingin berjuang sekuat tenaga membantu Javas naik takhta agar dia sendiri bisa segera menemui Jiwan.

Kini, semuanya telah berakhir. Javas telah menjadi kaisar. Garwita telah diangkat menjadi permaisuri. Dan dua hari lalu, dia sudah meminum obat mati suri itu.

Obat itu membutuhkan waktu tujuh hari untuk bereaksi penuh.

Sekarang, tersisa lima hari lagi.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
26
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status