Pria itu mengenakan jubah agung berwarna emas terang. Perawakannya tegap, tatapannya dingin. Berdiri di tengah aula, dia tampak seperti pohon pinus di tengah salju, berwibawa sekaligus asing."Gantari," ucapnya dengan suara berat. "Apa kamu keberatan dengan keputusanku ini?"Gantari bergegas berdiri dan memberi hormat. "Saya tidak keberatan. Keputusan Yang Mulia mengangkat Kakak sebagai permaisuri adalah tindakan yang bijaksana. Saya ... tidak keberatan sama sekali."Javas mengerutkan kening menatap wajah tenang itu. Pria itu mengira ketenangan Gantari beberapa hari ini hanyalah taktik agar dia datang membujuk Gantari secara langsung. Begitu dia datang dan bertanya, wanita itu pasti akan menangis, merasa terintimidasi, lalu mengamuk.Setelah itu, dia tinggal memberikan beberapa hadiah dan berkata dengan tegas, "Hari saat aku menikahimu, aku sudah bilang bahwa hatiku hanya milik Garwita. Aku bisa memberimu kemewahan dan kekayaan, tapi tidak dengan cinta. Posisi permaisuri hanya untuk w
اقرأ المزيد