Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua
Read more