"Besok pagi, istri baruku pindah ke rumah ini, jadi kamu siap-siap dari sekarang, karena ada dua perempuan yang harus kamu layani!"Sikat semir di tangan Tama berhenti setengah gerakan.'Istri baru,' batin pemuda delapan belas tahun itu sambil tetap menunduk di depan rak sepatu. 'Yang keempat apa kelima, ya? Sampai lupa ngitungnya, kayak ganti sandal jepit aja tiap tahun.'"Namanya Diana, pebisnis, uangnya bukan main banyaknya. Dia yang bakal nyuntik modal buat proyek properti Ayah, makanya kamu jangan sampai bikin masalah sedikit pun, ngerti?!"Tama mengangguk tanpa berani bersuara, karena berdasarkan pengalaman belasan tahun, membuka mulut di depan ayahnya itu urusannya cuma dua, yaitu dianggap membantah atau dianggap menyindir. Tidak pernah ada opsi ketiga.Wiguno mengambil sepatu kulit yang baru selesai disemir, lalu memutar-mutarnya pelan di bawah lampu ruang tamu seperti tukang emas sedang meriksa cincin titipan orang.Dan ketika Wiguno melihat, ada debu setitik di bagian tumit,
Last Updated : 2026-08-26 Read more