INICIAR SESIÓN"Mas Tama pasti nggak pernah dapat kasih sayang ya? Gimana kalau kita yang ngasih kasih sayang ke Mas Tama?" Setiap hari Tama disiksa ayahnya, sampai suatu ketika ayahnya menikah lagi dengan Diana, seorang pebisnis kaya raya yang memiliki tiga anak cantik. Ada Wanda yang tak pernah disentuh suaminya, Wina sang eksekutif seksi, juga Weni sang primadona kampus. Dari situ, perjalanan hidup Tama dimulai.
Ver más"Besok pagi, istri baruku pindah ke rumah ini, jadi kamu siap-siap dari sekarang, karena ada dua perempuan yang harus kamu layani!"
Sikat semir di tangan Tama berhenti setengah gerakan.
'Istri baru,' batin pemuda delapan belas tahun itu sambil tetap menunduk di depan rak sepatu. 'Yang keempat apa kelima, ya? Sampai lupa ngitungnya, kayak ganti sandal jepit aja tiap tahun.'
"Namanya Diana, pebisnis, uangnya bukan main banyaknya. Dia yang bakal nyuntik modal buat proyek properti Ayah, makanya kamu jangan sampai bikin masalah sedikit pun, ngerti?!"
Tama mengangguk tanpa berani bersuara, karena berdasarkan pengalaman belasan tahun, membuka mulut di depan ayahnya itu urusannya cuma dua, yaitu dianggap membantah atau dianggap menyindir. Tidak pernah ada opsi ketiga.
Wiguno mengambil sepatu kulit yang baru selesai disemir, lalu memutar-mutarnya pelan di bawah lampu ruang tamu seperti tukang emas sedang meriksa cincin titipan orang.
Dan ketika Wiguno melihat, ada debu setitik di bagian tumit, tiba-tiba…
Plakkk!
Kepala Tama terlempar ke kiri, panas menjalar cepat dari pipi kanan sampai ke pelipis, dan tubuhnya oleng menabrak sudut meja kaca sampai menimbulkan bunyi berdebam yang menggema di ruangan yang terlalu luas itu.
"Nyemir sepatu doang kamu nggak becus, hah?! Sepatu ini harganya lebih mahal dari seluruh isi kamar kamu, tahu nggak?! Besok saya pakai buat ketemu investor, terus tumitnya kotor kayak gini, kamu mau saya dikira orang miskin di depan mereka?!"
"M-maaf, Yah. Tadi Tama buru-buru soalnya dapur belum kelar disikat, piring sisa tamu Ayah semalam juga masih numpuk di bak cuci sampai luber, jadi sepatunya Tama kerjain paling akhir. Nanti Tama semir ulang sampai bersih, Yah, sungguh—"
"Jangan banyak alasan!"
Buugghh!
Ujung sepatu itu mendarat telak di bahunya.
Tama terjerembap lagi, pipinya menempel di marmer, dan dari posisi seperti itu dia cuma bisa melihat sepasang kaki tambun yang bergerak gelisah di depan wajahnya.
'Gara-gara debu setitik,' umpat Tama dalam hati. 'Setitik doang. Kalau si tua bangkai ini nemu semut di meja makan, bisa-bisa rumahnya dibakar sekalian sama isinya.'
Punggung tangannya menyapu sudut bibir yang merah berdarah.
Wiguno membenahi kerah kemejanya yang kusut, lalu berjongkok, lalu mencengkeram rahang anak kandungnya sampai tulang pipi Tama terasa mau remuk.
"Dengar baik-baik, anak pembawa sial! Besok kamu senyum, kamu nunduk, kamu angkut semua barang mereka, dan kamu diam. Jangan pernah cerita apa pun soal rumah ini ke siapa pun, apalagi ke Diana! Tetaplah jadi penurut kalau kamu masih mau makan di sini!"
"I-iya, Yah. Tama ngerti."
Brakkkk!
Pintu utama dibanting sampai kaca jendela ikut bergetar, lalu terdengar raungan mesin mobil yang menjauh dari halaman, lalu sepi. Tinggal jam dinding yang berdetak sendirian di angka sepuluh lewat.
***
Jam tujuh kurang, matahari baru naik sejengkal di atas pagar, waktu sebuah sedan hitam mengilap berhenti tepat di depan teras utama.
Bi Surti setengah berlari membuka pagar sambil membetulkan kerudungnya yang miring.
"Waduh, mobilnya udah masuk, Nak Tama! Bibi belum sempat nyapu teras sama nyiram tanaman, aduh gimana ini, nanti Bibi lagi yang kena semprot sama Bapak, padahal semalam Bibi udah kerja sampai jam sebelas!"
Tama keluar dari pintu samping dengan kaus oblong hitam yang bolong di beberapa bagian, mengucek mata, masih setengah nyawa.
Pintu penumpang terbuka.
Yang turun pertama seorang wanita bergaun rapi dengan rambut tersanggul, dan wangi parfumnya langsung menyeruak sampai ke lorong samping tempat Tama berdiri. Empat puluh lima tahun umurnya. Tapi cara wanita itu melangkah bikin orang gampang salah tebak sepuluh tahun ke bawah.
Di belakangnya, menyusul seorang gadis muda bergaya modis khas mahasiswi kelas atas. Dingin ekspresinya, tangannya dilipat di bawah dada, matanya menyapu halaman rumah dengan tatapan orang yang lagi menilai harga barang.
"Selamat datang di rumah kita, Diana sayang. Maaf ya, kalau rumahnya masih berantakan, pembantu di sini agak lelet soalnya, tapi nanti biar saya yang urus."
'Astaga, semalam memarahiku habis-habisan, sekarang berubah jadi selembut sutra. Ayah jahat ini memang jago sekali aktingnya,' batin Tama melongo.
"Terima kasih, Mas Wiguno. Rumahnya bagus, kok, halamannya juga luas, cuma tanamannya kelihatan kurang disiram saja."
Wiguno tertawa canggung, lalu menoleh ke lorong samping dan langsung berganti nada. "Tama! Cepat kemari, bantu bawa semua koper istriku ke atas!"
Tama menghitungnya sebentar, lalu diam-diam mengurut dada. Empat koper besar menumpuk di dalam sana dan Tama yakin dia tidak akan kuat mengangkatnya sendirian.
"A-apa perlu saya angkat semuanya sekarang, Tante? Soalnya kalau sekaligus takutnya kelamaan, terus Tante sama Mbaknya kepanasan nunggu di teras, jadi mungkin lebih baik saya angkut dua dulu—"
"Panggil Mama saja, Tama, jangan Tante. Mama paling nggak suka dipanggil Tante, kedengarannya jadi tua sekali padahal Mama belum ada lima puluh. Sudah, nggak usah canggung begitu, mulai hari ini kita satu rumah."
"Eh... i-iya, Ma."
Membungkuk sebentar, Tama mengangkat dua koper paling besar sekaligus, dan otot lengannya langsung menegang menahan beban yang seharusnya diangkut dua orang. Kausnya yang sudah setipis kain pel ikut terangkat waktu koper itu naik ke bahu.
Robekan di sisi samping menyingkap kulit dadanya.
Glek!
Napas Diana tertahan seketika.
Di atas kulit cokelat yang mulus itu tercetak garis-garis lebam kebiruan berlapis-lapis, memanjang dari tulang rusuk sampai ke pinggang, bekas gesper yang jelas sekali baru dibuat semalam.
'Astaga, kenapa ada luka separah itu di badan anak sebaik ini?' jerit batin Diana.
Wanita itu sudah kenyang lihat luka-luka lecet. Anak buahnya jatuh dari perancah, sopirnya kena knalpot, itu perkara biasa di proyek.
Tapi lebam yang tersusun rapi berjajar begitu cuma bisa dibuat sengaja, berkali-kali, oleh tangan yang tahu persis ke mana harus memukul supaya tidak kelihatan orang.
Sementara itu, dari sudut teras yang masih remang, Weni ikut terpaku. Pandangan primadona kampus itu terkunci rapat pada perut berotot dan dada bidang adik tiri barunya, terus turun ke bekas cakar dan memar biru yang merusak semuanya.
Matanya berkaca-kaca. Bukan cuma kasihan.
Ada sesuatu yang lain mendidih pelan di dadanya, dan gadis itu belum mau mengakui bahwa itu marah — marah pada laki-laki yang baru semalam resmi jadi ayah tiri barunya.
Weni melangkah mendekat, tidak peduli ayahnya masih memanggil dari kejauhan.
Menyadari dua pasang mata itu, Tama buru-buru menarik kausnya turun sampai menutupi pinggang. "Ma-maaf, Mbak, kopernya saya bawa ke kamar atas dulu, ya. Ini cuma kena sudut meja pas angkat barang kemarin, ndak apa-apa, sungguh."
Baru saja Tama berbalik, jemari lentik Weni sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya dari belakang.
Deggg...
Sentuhan halus itu membuat seluruh tubuh Tama kaku seketika.
Deru mesin mobil MPV mewah melaju halus membelah jalanan menurun pegunungan Puncak menuju jalur utama tol arah Jakarta.Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat nyaman, diiringi alunan musik instrumental bernuansa santai yang menemani perjalanan siang menuju sore itu.Di kursi tengah, Diana dan Wanda duduk berdampingan sambil berbincang ringan membahas agenda mingguan bisnis kuliner dan properti Wanda di Depok.Sementara itu, Wina duduk di kursi baris ketiga bersama Weni, sesekali melempar candaan ringan dan saling menggoda mengenai liburan mereka yang berkesan di vila Puncak.Tama memegang kemudi dengan penuh konsentrasi, memastikan laju kendaraan tetap stabil di tengah kepadatan lalu lintas arus balik akhir pekan."Gimana, Mas? Perjalanannya nggak bikin ngantuk kan?" tanya Diana menengok ke depan dari kursi tengah."Aman banget, Ma. AC-nya dingin dan musi
Pemandangan bukit pinus yang hijau membentang luas di seberang lembah Puncak diselimuti sisa kabut pagi yang berarak tipis.Sebelum seluruh pintu mobil dirapatkan untuk perjalanan pulang, Diana mengusulkan agar rombongan menikmati sajian sarapan pagi terlebih dahulu di balkon lantai dua vila.Sinar matahari pagi yang mulai meninggi membiarkan pendar hangatnya menyentuh meja kayu tebal di sudut balkon yang menghadap langsung ke hamparan jurang dan pepohonan hijau.Tama melangkah menaiki anak tangga kayu membawa nampan berisi piring-piring roti panggang beroles mentega gurih, selai stroberi, serta potongan buah melon dan apel yang sudah diiris rapi."Awas pelan-pelan bawa nampannya, Mas," ingat Wanda yang sudah duduk anggun di kursi jati balkon memakai kardigan rajut tipis."Tenang aja, Mbak Wanda. Pegangan nampannya kokoh kok," sahut Tama tersenyum manis meletakkan piring-piring s
Sinar matahari pagi menerobos halus celah tirai tipis kamar utama lantai dua, membiarkan pendar keemasan membelai kehangatan tempat tidur king-size.Tama membuka matanya perlahan, merasakan deru napas halus dari keempat wanita yang masih tertidur pulas mengelilingi tubuh tegapnya.Dengan gerakan sangat pelan dan berhati-hati, Tama menggeser lengan mulus Weni yang menindih dadanya agar gadis itu tidak terbangun dari mimpi indahnya.Pemuda itu beranjak dari tempat tidur, merapikan selimut tebal untuk Diana, Wanda, Wina, dan Weni sebelum melangkah keluar kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.'Ngerapiin koper empat wanita cantik sekaligus tuh tingkat kerumitannya udah menyamai bongkar pasang mesin jet pribadi tanpa buku panduan,' batin Tama tersenyum geli sambil berjalan menuruni anak tangga kayu menuju dapur lantai dasar.Hawa segar khas pegunungan Puncak menyapa wajah
Hawa dingin Puncak di luar vila semakin menusuk tulang seiring jarum jam dinding kayu yang telah melewati pukul dua dini hari.Di dalam kamar utama lantai dua yang hangat berkarpet tebal, pendar lampu tidur bercahaya kuning temaram menaungi sebuah tempat tidur berukuran king-size yang sangat luas.Tama melangkah masuk membawa nampan kayu berisi empat cangkir teh chamomile hangat yang baru saja diseduhnya di dapur bawah.Di atas kasur empuk tersebut, keempat wanita cantik penghuni rumah megah sudah berkumpul rapi berselimut kain tebal berbulu halus.Diana duduk bersandar di bagian tengah kepala tempat tidur, diapit oleh Wanda di sisi kirinya, serta Wina dan Weni yang saling merapat di sisi kanannya.Keempat bidadari itu tampil sangat anggun dan memesona dalam balutan gaun tidur santai masing-masing, memancarkan rona wajah bahagia yang luar biasa usai maraton relaksasi di
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas