Orla memarahinya dengan keras, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kamu nggak tahu kalau kondisi kandungannya nggak stabil? Sampai kapan kamu masih mau ngebully Lucy demi pelacur nggak tahu malu itu?!"Lucy menatap Orla dengan sedikit rasa bersalah, lalu tetap memohon pada Daniel, "Niel, meskipun demi anak ini, bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan terakhir?"Daniel terdiam sejenak, menatap perutnya yang masih rata.Lucy baru hamil kurang dari sebulan. Secara fisik memang belum terlihat, tetapi wajahnya pucat dan bahkan bibirnya sudah kehilangan warna. Dia terlihat sangat kuyu. Dia dengan susah payah menekan rasa jijik di hatinya, lalu mengangguk, "Kita kembali ke kamar rawat. Kita ngobrol di sana."Sesampainya di kamar rawat, Daniel berjalan di depan dan berhenti di depan jendela. Lucy mengikutinya masuk, lalu menutup pintu kamar rawat dari dalam. Daniel berkata, "Sekarang cuma ada kita berdua. Sebenarnya kamu mau ngomong apa?"Lucy menggigit bibirnya, lalu membuka telapak t
Read more