"Nona, udah lihat banyak banget model, nggak ada satu pun kalung yang sreg?""...""Nona?"Geisha Roland tertegun, lalu tersadar dari lamunannya. Dia terdiam sejenak, lalu asal menunjuk sebuah kalung berlian. "Yang ini aja. Tolong dibungkus."Pramuniaga itu akhirnya menghela napas lega. "Baik, mohon ditunggu sebentar, ya."Semua pramuniaga di toko perhiasan itu tampak sumringah. Soalnya, Geisha sudah tiga bulan berturut-turut datang ke toko ini setiap hari.Seorang pramuniaga berkata dengan nada iri, "Nona Geisha, suami Nona pasti sayang banget sama Nona, ya? Beli perhiasan kayak beli sayur, bikin iri deh."Yang lain ikut menyahut, "Iya, bener. Katanya kalau sayang itu kelihatan dari seberapa besar dia mau ngeluarin duit. Suami Nona rela ngeluarin banyak duit, pasti cinta mati tuh.""Udah kaya raya, bucin lagi. Nona Geisha bener-bener wanita beruntung ya."Mendengar pujian bertubi-tubi itu, Geisha hanya menyunggingkan senyum tipis.Pandangannya hanya tertuju pada seorang pramuniaga w
Baca selengkapnya