Sejak hari itu, angin di tepi Danau Ladi menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah bisa mereka lepaskan sepanjang hidup.Kak Peter memeluk erat beberapa surat itu sambil berlutut di tepi danau untuk waktu yang sangat lama.Lembar-lembar kertas itu bergetar tertiup angin, begitu pula tubuhnya.Padahal hanya beberapa lembar kertas tipis, tapi rasanya seolah semuanya cukup untuk menekan dirinya.Kak John seperti orang gila, berlari menyusuri tepi danau sambil meneriakkan namaku.“Alice! Kembalilah!”“Aku sudah tahu salah, kamu boleh memukulku, memarahiku, tapi jangan tinggalkan aku...”Pada akhirnya, kakinya lemas dan jatuh keras ke lantai.Namun, seolah tak merasakan sakit sedikit pun. Dia hanya berlutut di sana, memegangi kepalanya, lalu menangis hingga tubuhnya bergetar.Dulu, dia orang yang paling benci saat aku menangis.Katanya aku terlalu manja, pura-pura menjual kesedihan, selalu menggunakan penyakitku untuk mencari perhatian.Namun kali ini, giliran dia yang menangis penuh kesedih
Read more