Share

Bab 4

Author: Momo
Aku refleks membantah, tetapi bunyi nyaring dari mesin pendeteksi uang palsu langsung menghancurkan penyangkalanku.

Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa keluar dari rumah sakit.

Yang kutahu, perutku kembali terasa sakit.

Rasa amis dan manis tiba-tiba naik ke tenggorokan, tetapi kupaksa untuk menelannya kembali.

Aku membawa uang itu ke kedai minuman.

Begitu masuk, aku langsung melempar setumpuk uang palsu itu ke atas meja kasir.

“Kenapa kamu menipuku?”

“Ini penipuan! Aku akan melapor ke polisi!”

Pemilik kedai sedang menunduk menghitung uang. Mendengar kata polisi, dia hanya mengangkat kelopak matanya sedikit.

“Untuk apa teriak padaku?”

“Bukan aku yang menyiapkan uang itu.”

“Kemarin, kakakmu mengambil gajimu lebih dulu dan memberikan uang palsu ini kepadaku.”

“Katanya, ini untuk melatihmu agar kamu tahu bahwa mencari uang tidak semudah itu.”

Kepalaku langsung berdengung.

Dengan tangan dan kaki yang terasa mati rasa, aku naik bus. Begitu sampai di rumah, aku langsung menatap mereka dengan mata memerah.

“Jadi kalian yang mengambil gajiku?”

Kak John tak hanya tak merasa bersalah, tapi malah tampak sedikit bangga.

“Sekarang kamu sudah tahu kalau mencari uang itu nggak mudah, ‘kan?”

“Ingat, aku dan Kak Peter adalah orang yang paling baik padamu. Kalau mengalami kesulitan, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah pulang dan cari keluarga.”

“Kalau benar-benar nggak bisa, cari Calvin juga sama.”

Aku gemetar hebat karena marah.

Air mata terus mengalir tanpa henti.

Memangnya aku tidak pernah meminta bantuan mereka?

Setelah kemoterapi, rasa sakitnya begitu parah hingga aku bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku menelepon Kak Peter sambil menangis dan memohon agar dia datang menemaniku sebentar.

Namun, Kak Peter hanya berkata,

“Suasana hati Bella sedang nggak baik hari ini, aku nggak bisa pergi.”

“Kamu sudah sakit selama bertahun-tahun. Tahan saja sebentar, nanti juga berlalu.”

Ketika biaya pengobatanku tidak cukup dan rumah sakit terus mendesakku untuk membayar, aku menggenggam lembar tagihan sambil mengirim pesan kepada Kak John di lorong rumah sakit.

Lama kemudian, barulah dia membalas.

“Mau minta uang lagi?”

“Alice, bisa nggak jangan selalu menjadikan penyakitmu sebagai alasan?”

“Bukannya kamu sudah dikasih uang bulanan setiap bulan?”

Suatu malam, demamku mencapai empat puluh derajat. Di rumah kontrakan, bahkan tidak ada seteguk air hangat.

Dalam keadaan setengah sadar, aku menelepon Calvin.

Namun, dia hanya berkata,

“Bella baru saja mimpi buruk. Aku harus menemaninya malam ini. Kamu minum saja obat penurun demam.”

Pada saat-saat seperti itu, siapa di antara mereka yang pernah membantuku?

Akhirnya, aku tidak bisa menahan diri lagi dan berteriak,

“Kembalikan uangku! Itu gajiku! Aku yang mendapatkan uang itu dengan kerja keras!”

Wajah Kak John langsung berubah sangat muram.

Dia melangkah lebar ke arahku, mencengkeram lenganku, lalu mendorongku ke arah pintu.

“Uang, uang, uang! Baru pulang, yang kamu tahu cuma minta uang!

“Kamu sudah sakit selama bertahun-tahun. Sudah berapa banyak uang yang habis untukmu? Jangankan enam juta, bahkan enam puluh juta pun nggak cukup!”

Di tengah perselisihan itu, tiba-tiba dadaku terasa sesak.

Rasa amis yang tadi susah payah kutekan kembali naik ke tenggorokan.

Kali ini, aku tidak berhasil menahannya.

Seteguk darah langsung keluar dari mulutku.

Dan tepat mengenai sepatu Bella yang baru saja masuk ke rumah.

Wajah Kak Peter dan Kak John langsung berubah.

Calvin pun reflek melangkah maju.

“Alice, kamu...”

Namun, belum selesai Calvin bicara, Bella sudah memotong dengan mata memerah.

“Kak Alice, sekalipun kamu mau uang, kamu juga nggak boleh berpura-pura muntah darah hanya untuk mengasihani diri sendiri.”

“Kalau kamu seperti ini, Kakak dan Calvin akan khawatir.”

Dia berhenti sejenak. Air matanya langsung menetes.

“Apalagi sepatu ini dibelikan Kak John padaku kemarin. Harganya 10 juta.”

“Aku baru memakainya sekali...”

Kekhawatiran yang baru saja muncul di mata ketiga pria itu perlahan menghilang.

Yang tersisa hanyalah rasa jijik.

Calvin mengernyitkan kening sambil menatapku.

“Alice, sejak kapan kamu berubah menjadi seperti ini? Demi uang, kamu bahkan sanggup melakukan hal seperti itu?”

Kak John langsung berjongkok dan mengambil tisu untuk membersihkan sepatu Bella.

“Jangan menangis. Hanya sepasang sepatu saja. Kakak akan membelikanmu yang baru.”

Bella mengangguk sambil terisak.

Sementara aku menopang tubuh di dinding, rasa sakitnya begitu hebat hingga aku hampir tidak mampu berdiri.

Rasa sakit di tubuh dan luka di hati bercampur menjadi satu, seolah-olah hendak merobekku berkeping-keping.

Aku bangun pagi dan pulang larut malam.

Setiap hari berdiri di bawah terik matahari sambil mengenakan kostum maskot selama delapan jam.

Butuh waktu sebulan penuh bagiku untuk mendapatkan enam juta.

Namun, jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli sepasang sepatu milik Bella.

Kak Peter berjalan ke hadapanku.

Namun, dia bukan datang untuk menanyakan apakah aku kesakitan. Tapi, dia malah mengeluarkan empat lembar seratus ribu dari dompetnya dan menyelipkannya ke tanganku.

“Sudahlah, jangan akting lagi. Darah membawa ketidakberuntungan di rumah ini.”

“Bukankah kamu cuma menginginkan uang? Ambil uang ini, cepat pergi.”

Empat ratus ribu itu terselip di telapak tanganku.

Begitu tipis, tapi rasanya lebih tajam daripada sebilah pisau.

Aku menunduk dan memandanginya cukup lama. Kemudian, sambil menggenggam uang itu, aku berjalan keluar dari rumah Keluarga Halim dengan langkah terhuyung-huyung.

Aku tidak kembali ke rumah kontrakan. Sebaliknya, aku pergi ke sebuah toko emas tua di kawasan Latan.

Di leherku tergantung sebuah liontin yang sudah kupakai selama sepuluh tahun.

Itu adalah hadiah dari Kak Peter, Kak John dan Calvin pada tahun diriku jatuh sakit.

Mereka pernah berkata bahwa akan menggunakan cinta untuk mempertahankan nyawaku. Akan merebutku kembali dari tangan Tuhan.

Setelah Bella datang, apapun yang dia inginkan, mereka selalu memberikannya.

Namun, hanya liontin ini yang tak pernah mereka berikan padanya. Bella sudah berkali-kali merengek memintanya, tapi selalu ditolak.

Saat itu, aku pernah berpikir...

Setidaknya masih ada diriku di hati mereka.

Karena itulah, saat meninggalkan rumah Keluarga Halim, aku tak membawa apa-apa. Aku hanya membawa liontin ini.

Bahkan ketika aku begitu miskin hingga tidak sanggup membeli makanan, kesakitan hingga tidak mampu membeli obat, aku tetap tidak tega menjualnya.

Namun sekarang, aku melepas liontin itu dan meletakkannya di atas meja.

Pemilik toko menimbangnya sebentar, lalu menyebutkan harga yang sangat rendah.

Aku tidak menawar.

Setelah menerima uangnya, aku pergi ke rumah sakit dan membeli obat pereda nyeri.

Aku mengabaikan saran dokter yang memintaku untuk dirawat di rumah sakit, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Pukul tiga sore, aku pergi ke toko mobil bekas dan mengambil mobil yang sudah lama kupesan.

Mobil itu melaju keluar dari kota. Awan gelap menggantung rendah di langit.

Aku menatap jalan di depan, perlahan menginjak pedal gas dan terus melaju.

Aku tidak akan menoleh ke belakang lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 10

    Sejak hari itu, angin di tepi Danau Ladi menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah bisa mereka lepaskan sepanjang hidup.Kak Peter memeluk erat beberapa surat itu sambil berlutut di tepi danau untuk waktu yang sangat lama.Lembar-lembar kertas itu bergetar tertiup angin, begitu pula tubuhnya.Padahal hanya beberapa lembar kertas tipis, tapi rasanya seolah semuanya cukup untuk menekan dirinya.Kak John seperti orang gila, berlari menyusuri tepi danau sambil meneriakkan namaku.“Alice! Kembalilah!”“Aku sudah tahu salah, kamu boleh memukulku, memarahiku, tapi jangan tinggalkan aku...”Pada akhirnya, kakinya lemas dan jatuh keras ke lantai.Namun, seolah tak merasakan sakit sedikit pun. Dia hanya berlutut di sana, memegangi kepalanya, lalu menangis hingga tubuhnya bergetar.Dulu, dia orang yang paling benci saat aku menangis.Katanya aku terlalu manja, pura-pura menjual kesedihan, selalu menggunakan penyakitku untuk mencari perhatian.Namun kali ini, giliran dia yang menangis penuh kesedih

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 9

    Akhirnya, aku sampai di Danau Ladi.Saat tiba, langit masih belum sepenuhnya terang.Aku menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu berpegangan pada pintu mobil cukup lama sebelum perlahan berjalan menuju tepi danau.Jalan di bawah kakiku sebenarnya tidak jauh.Namun, aku melangkah sangat pelan. Setiap langkah membuat tubuhku terasa semakin sakit, sementara rasa amis terus naik ke tenggorokan.Tetapi, aku tetap merasa bahagia.Karena akhirnya, aku berhasil sampai di sini.Di usia dua puluh tahun, aku tidak memiliki kue ulang tahun. Tidak ada lilin. Tidak ada pula seseorang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.Namun, aku memiliki Danau Ladi.Tempat yang telah kami sepakati untuk datang bersama bertahun-tahun yang lalu.Aku duduk di tepi danau, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas surat yang sudah kusiapkan sejak lama.Anginnya sangat kencang hingga kertas-kertas itu berterbangan.Aku menelan salah satu sudutnya dengan botol obat, lalu menunduk dan mulai menulis perlahan.Su

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 8

    Pada hari keempat perjalanan, pandanganku mulai semakin kabur.Di depan mataku, semuanya sempat berubah gelap. Perutku juga terasa sangat sakit.Aku hanya bisa menepi dan menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu menunduk di atas setir untuk beristirahat sejenak.Melalui kaca spion, terlihat awan gelap menggantung rendah di langit.Kalau terus melaju sedikit lagi, harusnya aku akan segera sampai.Aku mengeluarkan botol obat dan menuangkannya cukup lama.Namun, yang keluar hanya dua pil terakhir.Baru saja hendak menelannya, tiba-tiba terdengar suara rem yang tajam dari belakang.Aku bahkan belum sempat bereaksi, pintu mobilku sudah ditarik paksa dari luar.Angin dingin langsung menerpa ke dalam.Aku mengangkat kepala dan melihat Kak Peter.Untuk pertama kalinya, dia terlihat begitu panik.“Alice!”Kak John juga berlari menghampiri, matanya sangat merah.“Alice, kamu sudah gila?”“Kamu nggak tahu kondisimu sekarang sama sekali nggak memungkinkan untuk mengemudi sejauh ini?”Calvin berdi

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 7

    Saat ini, aku masih berada di perjalanan menuju ke Danau Ladi.Setelah mengemudi selama tiga hari, aku baru menyadari bahwa kursi penumpang di sebelahku kosong.Tiga boneka kecil itu...kutinggalkan di rumah kontrakan.Sebenarnya, saat pertama kali memutuskan untuk pergi, aku sempat berniat membawa mereka bersamaku.Namun, menjelang keberangkatan, aku tetap melupakannya.Mungkin, jauh di lubuk hatiku, memang sejak awal aku tidak ingin membawa mereka.Kak Peter, Kak John dan Calvin sudah berubah sejak awal.Yang benar-benar ingin kubawa pergi sebenarnya adalah mereka yang dahulu.Kak Peter yang selalu menjaga di samping ranjang rumah sakit dan mengusap keringatku.Kak John yang diam-diam menangis hingga matanya memerah, tapi masih berusaha membuat wajah lucu untuk menghiburku.Dan Calvin yang menggenggam tanganku sambil berjanji akan menemaniku setiap ulang tahun di masa depan.Aku terus mengendarai mobil tua itu.Gedung-gedung tinggi di luar jendela semakin lama semakin sedikit. Jalana

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 6

    Kak Peter berdiri di ambang pintu cukup lama tanpa bergerak.Tiga boneka kecil itu masih duduk di atas sofa.Jahitannya kasar, kainnya pun sudah tua.Namun, bagian wajahnya dibuat dengan sangat teliti.Terutama boneka yang menyerupai Kak Peter. Di tubuhnya bahkan dijahitkan sepotong kecil kain berwarna gelap, menyerupai jas yang dulu sering dikenakannya.Kak John berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.Boneka itu terjatuh miring di atas sofa, memperlihatkan selembar tagihan yang sebelumnya tertindih hingga kusut.Dia membungkuk untuk mengambil. Baru melihatnya sekilas, wajahnya langsung berubah.Di atasnya tercatat rapat semua riwayat pengobatan Alice selama beberapa tahun terakhir.Kemoterapi, cuci darah, unit gawat darurat, obat pereda nyeri...Calvin membuka laci meja. Di dalamnya, penuh dengan kotak-kotak obat kosong.Di bagian paling bawah, terdapat beberapa helai handuk yang sudah dicuci berkali-kali hingga terasa kaku.Begitu dibentangkan, noda darah merah g

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 5

    Keesokan hari setelah Alice pergi, ketiga pria itu menemani Bella ke mal untuk mengambil perhiasan pesanannya.Saat mobil melewati jalan tua di bagian Kawasan Latan, tiba-tiba Calvin melihat sebuah liontin yang terasa sangat familiar di etalase sebuah toko emas.Padahal mobil mereka sudah melewatinya, tetapi dia tiba-tiba menoleh ke belakang.“Berhenti.”Kak Peter langsung menginjak rem dan menatapnya sambil mengernyit.“Ada apa?”Calvin tidak menjawab. Dia langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke toko emas itu.Kak Peter dan Kak John saling berpandangan dan ikut masuk ke dalam.Di dalam etalase, liontin itu tergeletak dengan tenang.Karena sudah cukup lama, warna emasnya tidak lagi terlalu berkilau. Di bagian pinggirnya bahkan terdapat beberapa goresan tipis.Namun, mereka tetap langsung mengenalinya.Itu adalah hadiah yang mereka bertiga berikan kepada Alice saat berusia sepuluh tahun.Saat itu, Alice baru saja didiagnosis mengidap penyakit ginjal. Rasa sakitnya begitu hebat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status