Short
Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku

Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku

By:  MomoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari ulang tahunku yang ke-20, seperti biasa aku berteriak ke arah ruang tamu, “Kak Peter, Kak John, Calvin, hari ini aku sudah berusia dua puluh tahun.” “Kalian pernah bilang akan menemaniku merayakan setiap ulang tahunku.” Namun, yang menjawabku tetaplah keheningan. Di atas sofa, duduk tiga boneka kecil. Kak Peter, Kak John dan juga Calvin, teman masa kecilku. Mereka membuka mata, seperti di setiap malam yang telah berlalu, menemaniku dalam diam. Barulah aku teringat. Mereka sudah tidak menginginkanku lagi. Saat berusia sepuluh tahun, aku didiagnosis mengidap penyakit ginjal. Kak Peter membawa pulang Bella dari panti asuhan. Katanya, dia adalah adik yang cocok menjadi donor ginjalku dan datang untuk menyelamatkanku. Namun, bahkan sebelum naik ke meja operasi, dia sudah lebih dulu menjadi kesayangan semua orang. Setelah menjalani kemoterapi, aku tidak boleh makan pedas, tapi Kak Peter malah memasak makanan pedas setiap hari. “Setelah ini Bella akan kehilangan satu ginjal. Memangnya kenapa kalau dia makan makanan yang disukainya?” Saat Bella menyukai kalung yang kudapatkan sebagai hadiah menjadi orang dewasa, Kak John langsung melepaskannya dariku dan memberikannya padanya. “Dia akan memberikan satu ginjal untukmu. Kamu memberikan satu kalung untuknya, bukankah itu wajar?” Calvin pernah berjanji akan menemaniku kontrol, tetapi dia mengingkari janjinya demi menemani Bella menonton konser. “Setelah ini belum tentu dia masih punya kesempatan. Kamu menahannya satu malam saja nggak akan mati.” Bahkan operasi yang menyangkut nyawaku terus ditunda karena Bella ingin melihat laut, terjun payung, dan mengejar aurora. Hanya karena aku pernah bilang takut tinggal sendirian di rumah besar dan ingin ikut bermain bersama mereka... Dengan alasan semua ini demi kebaikanku, mereka malah mengirimku ke sebuah rumah kontrakan. Pada malam pertama tinggal di sana, aku membuat tiga boneka kecil menyerupai mereka. Mereka menemaniku makan, tidur dan mendengarkan setiap kali aku menceritakan rasa sakit yang kurasakan. Hingga hari ini, aku menghabiskan seluruh tabunganku untuk membeli sebuah mobil bekas. Aku ingin pergi melihat Danau Ladi, tempat yang dulu pernah kami sepakati untuk dikunjungi bersama. Lalu setelah itu... aku tak akan pernah menoleh ke belakang lagi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Selama tiga tahun tinggal di rumah kontrakan ini, baru kali ini aku benar-benar memperhatikannya.

Cat dindingnya sudah mengelupas di sana-sini, memperlihatkan lapisan semen berwarna abu-abu pucat di baliknya.

Gorden yang terlalu sering dicuci sampai terasa kaku, sementara di bagian sudutnya masih terdapat noda jamur yang tak kunjung hilang.

AC tua di atas kepala terus berdengung, tetapi yang keluar hanya hembusan udara panas.

Namun, yang paling sulit ditahan adalah baunya.

Campuran bau cairan disinfektan, obat pereda nyeri dan aroma amis darah yang keluar setiap kali aku batuk, yang sekeras apa pun dibersihkan tetap tak mau hilang.

Padahal Keluarga Halim tidak miskin.

Setelah Ayah dan Ibu meninggal dalam kecelakaan, mereka meninggalkan sejumlah besar uang.

Setelah itu, Kak Peter mendirikan perusahaan, sementara Kak John menjadi desainer terkenal.

Keduanya bisa dibilang cukup sukses dalam karier. Mereka bahkan membeli apartemen mewah seluas tiga ratus meter persegi di pusat kota.

Bella memiliki ruang belajar dan ruang musik sendiri.

Bahkan boneka-boneka dan koleksi barang kesukaannya pun memiliki kamar khusus.

Sementara ketika aku diusir dari rumah, Kak Peter hanya berkata,

“Cuma tinggal beberapa hari, nggak perlu menyewa rumah yang terlalu bagus.”

“Setelah operasimu selesai, kami akan menjemputmu pulang.”

Namun, aku menunggu hari demi hari, hingga tiga tahun berlalu.

Bukan hanya mereka tak kunjung datang menjemputku pulang, aku bahkan tak pernah mendapatkan operasi yang seharusnya menyelamatkan nyawaku.

Tiba-tiba, rasa sakit yang menusuk menyerang perutku.

Aku segera berlari ke kamar mandi dan membungkuk di depan wastafel, lalu memuntahkan seteguk besar darah.

Ketika keluar, pandanganku sedikit berkunang-kunang karena cahaya lampu ruang tamu terasa menyilaukan.

Tiga boneka kecil itu masih duduk di sofa.

Dengan mata bulat mereka yang terbuka, mereka menatapku dengan tatapan polos.

Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sangat sedih dan tertekan.

“Apa lihat-lihat?”

“Bukannya kalian yang lebih dulu nggak menginginkanku?”

Aku berjalan mendekat. Baru saja hendak membereskan keempat boneka kecil itu, tiba-tiba aku menerima pesan dari Kak Peter.

[Alice, pulanglah sebentar nanti. Ada yang perlu dibicarakan.]

Aku menatap kosong kata ‘pulanglah’ itu di layar.

Hati yang sebelumnya sudah tenggelam, tanpa tahu malu kembali berdebar.

Mungkin... mereka masih mengingatku.

Aku segera turun ke bawah.

Karena merasa naik bus terlalu lambat, untuk pertama kalinya aku memanjakan diri dengan memesan taksi.

Begitu membuka pintu rumah, suasana ruang tamu ternyata sangat ramai.

Kak Peter, Kak John dan juga Calvin ada di sana.

Bella duduk di tengah-tengah mereka, dengan empat hadiah yang dibungkus indah di hadapannya.

Kak Peter mengusap kepala Bella, suaranya begitu lembut.

“Bella sudah berusia sembilan belas tahun hari ini. Sekarang sudah jadi gadis dewasa.”

Kak John tersenyum dan menyahut,

“Dewasa apanya?”

“Meskipun 80 tahun, Bella tetap akan menjadi putri kecil yang paling disayang Kakak.”

Usai bicara, dia sengaja menggodanya.

“Bukannya Bella paling suka dengan Kak John?”

Bella bahkan belum sempat menjawab, Calvin sudah tertawa dan menyela,

“Dia pasti paling suka aku.”

“Kamu lupa? Waktu kecil, Bella setiap hari selalu mengikutiku sambil memanggil Kak Calvin?”

Bella dibuat malu olehnya hingga wajahnya memerah. Ruang tamu pun kembali dipenuhi tawa.

Sementara aku berdiri di dekat pintu masuk, seperti pencuri yang salah masuk ke rumah orang lain.

Setelah cukup lama, Kak Peter akhirnya menyadari keberadaanku. Senyum di wajahnya pun sedikit memudar.

“Alice sudah pulang.”

Seketika, tawa di ruang tamu terhenti.

Bella melirikku sekilas, memeluk beberapa hadiah itu dan berbalik masuk ke kamarnya.

Orang-orang yang tersisa menatapku, wajah mereka tampak sedikit canggung.

Akhirnya, Kak John yang lebih dulu bicara.

“Kenapa kamu berdiri di sana? Sini, duduk.”

Aku berjalan diam-diam dan duduk di sofa yang berada di paling ujung.

Kak Peter berdeham.

“Hari ini kami memintamu pulang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.”

Sambil berkata demikian, dia mengambil sebuah dokumen dari bawah meja, lalu mendorongnya ke hadapanku.

“Baca dulu. Kalau nggak ada masalah, tanda tangani saja.”

Aku menunduk dan melihatnya.

Di halaman pertama dokumen itu, terdapat satu baris tulisan tebal berwarna hitam.

[Surat pernyataan pelepasan sukarela atas transplantasi ginjal dari donor hidup.]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status