Share

Bab 3

Author: Momo
Di dalam bus menuju rumah kontrakan, aku melihat unggahan terbaru Bella di media sosial.

[Orang yang menyebalkan sudah pergi. Akhirnya bisa merayakan ulang tahun dengan tenang.]

Di dalam foto ada Kak Peter, Kak John dan Calvin yang duduk mengelilingi meja makan.

Di atas meja tersaji sup darah pedas, mapo tofu, ayam cabai kering...

Semuanya adalah makanan yang sejak menjalani kemoterapi dilarang keras oleh dokter untuk kusentuh.

Pada saat itu, aku justru merasa sedikit bersyukur karena tadi tidak memilih tinggal.

Kalau benar-benar tinggal, aku hanya akan mempermalukan diri sendiri.

Dengan satu meja penuh makanan itu, mungkin yang bisa kumakan hanya semangkuk nasi putih.

Setelah kembali ke rumah kontrakan, aku memasak semangkuk mi kuah bening untuk diriku sendiri.

Untuk pertama kalinya, aku tidak membiarkan tiga boneka kecil itu menemaniku menghabiskan mi ulang tahunku.

Aku makan sampai berkeringat deras.

Keringat dan air mata bercampur di seluruh wajahku.

Keesokan harinya, seperti biasa, aku pergi bekerja paruh waktu di kedai minuman.

Sebelum berangkat ke Danau Ladi, aku masih harus pergi ke rumah sakit untuk mengambil cukup obat pereda nyeri, berjaga-jaga kalau aku tidak sanggup menahan sakit selama perjalanan.

Uangku masih kurang sedikit.

Setelah menerima gaji beberapa hari ini, seharusnya sudah cukup.

Hari itu, kedai minuman tempatku bekerja mengadakan promosi di depan mal.

Tugasku adalah mengenakan kostum maskot sambil membagikan brosur.

Matahari siang sangat terik, sementara kostum tebal itu begitu pengap hingga sulit bernapas.

Aku benar-benar tidak sanggup lagi, jadi melepas kepala kostum dan berjongkok di sudut untuk minum.

“Kak Alice?”

Suara yang begitu kukenal terdengar dari belakang.

Gerakanku langsung terhenti. Aku menoleh.

Kak Peter, Kak John, Calvin dan Bella sedang berdiri tidak jauh dariku.

Ketiga pria itu membawa banyak sekali kantong belanja di tangan mereka.

Tak perlu menebak, sudah tahu bahwa semuanya dibelikan untuk Bella.

Melihat kepalaku yang basah oleh keringat, tidak ada sedikit pun rasa iba di mata Kak Peter.

Yang terlihat hanyalah rasa malu dan kemarahan.

“Alice, emangnya aku nggak kasih kamu uang?”

“Kamu sengaja berpakaian seperti ini sambil membagikan brosur di luar supaya orang lain mengira kami menelantarkan orang sakit?”

“Kalau sampai orang lain melihatmu, bagaimana dengan reputasi perusahaanku?”

Tanganku yang menggenggam botol air sedikit mengencang.

“Empat juta sebulan. 1,6 juta untuk biaya sewa. Sisa uangnya bahkan nggak cukup untuk biaya pengobatan.”

“Kalau tidak bekerja paruh waktu, bagaimana aku bisa hidup?”

Kak John mengerutkan kening, lalu mendorongku dengan kasar.

“Kurang ajar! Berani sekali bicara seperti itu dengan Kak Peter?”

Calvin berdiri di samping Bella dengan ekspresi rumit.

Namun pada akhirnya, dia tetap membuka mulut dengan nada menggurui.

“Alice, kamu terlalu boros menggunakan uang. Bella bahkan nggak punya uang bulanan, tapi juga nggak pernah mengeluh.”

Kak John mendengus dingin.

“Menurutku yang Calvin bilang itu benar. Kalau biaya pengobatanmu kurang, tinggal minta dengan Kak Peter saja. Emangnya Kak Peter bakal menolak?”

“Kurasa kamu pasti menghamburkannya, makanya malu untuk meminta lagi!”

Aku membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Bella memang tidak memiliki uang bulanan. Karena dia menggunakan kartu tambahan milik Kak Peter, dengan limit bulanan mencapai delapan digit.

Sedangkan aku bahkan untuk meminta empat juta saja, setiap bulan harus mengingatkan mereka berkali-kali. Selalu ditunda-tunda.

Baru menjelang akhir bulan, uang itu dikirimkan padaku.

Kalau aku benar-benar meminta lagi, mungkinkah mereka akan memberikannya?

Aku tahu semua itu tidak ada gunanya.

Yang akan kuterima tetap hanya tuduhan bahwa aku tidak pernah merasa cukup dan tidak tahu diri.

Jadi, dengan wajah dingin, aku kembali mengambil kepala kostum maskotku.

“Kalian pergi saja. Jangan mengganggu pekerjaanku.”

Kepala kostum yang berat itu kembali menutupi kepalaku, membuat pandanganku seketika menjadi gelap.

Detik berikutnya, tiba-tiba seseorang mendorongku keras dari belakang.

“Jangan bicara seperti itu dengan kakak!”

Kepala kostum itu sangat berat. Bahkan benturan kecil saja sudah cukup membuatku merasa sesak dan sakit.

Apalagi dengan dorongan sekeras itu, seluruh tubuhku langsung terhuyung ke depan.

Dahiku menghantam keras bagian dalam kepala kostum yang terbuat dari bahan keras. Seketika pandanganku menggelap.

Aku menopang tubuh di dinding dan butuh waktu lama sebelum akhirnya bisa pulih.

Namun, tidak seorang pun mengkhawatirkanku.

Kak Peter malah langsung menggenggam tangan Bella dan bertanya dengan cemas.

“Bella, tanganmu sakit nggak?”

Kak John juga mengerutkan kening.

“Dia memakai kostum setebal itu, kok kamu malah mendorongnya? Bagaimana kalau malah melukai diri sendiri?”

Calvin menenangkan Bella dengan lembut.

“Si gadis kecil sudah tahu untuk membela keluarganya, ya?”

Saat mereka semua mengelilingi Bella, aku berjalan pergi dengan langkah terhuyung-huyung.

Wajahku basah.

Aku bahkan tidak tahu apakah itu keringat atau air mata.

Saat pulang dari kerja malam itu, dahiku sudah membengkak cukup parah.

Untungnya, hari itu aku menerima gaji.

Aku membawa pulang uang tunai enam juta yang baru kuterima, lalu membungkusnya dengan hati-hati hingga tiga lapis.

Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit. Baru saja menyerahkan enam juta itu ke loket pembayaran, ekspresi perawatnya langsung berubah.

Dia mengangkat kepala dan menatapku dengan dingin.

“Dari mana bocah ini datang?”

Aku terdiam.

Dia menepukkan uang kertas itu ke atas meja loket.

“Wajahmu terlihat begitu polos, tapi kok malah belajar yang nggak baik?”

“Katakan, dari mana kamu dapat uang palsu ini?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 10

    Sejak hari itu, angin di tepi Danau Ladi menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah bisa mereka lepaskan sepanjang hidup.Kak Peter memeluk erat beberapa surat itu sambil berlutut di tepi danau untuk waktu yang sangat lama.Lembar-lembar kertas itu bergetar tertiup angin, begitu pula tubuhnya.Padahal hanya beberapa lembar kertas tipis, tapi rasanya seolah semuanya cukup untuk menekan dirinya.Kak John seperti orang gila, berlari menyusuri tepi danau sambil meneriakkan namaku.“Alice! Kembalilah!”“Aku sudah tahu salah, kamu boleh memukulku, memarahiku, tapi jangan tinggalkan aku...”Pada akhirnya, kakinya lemas dan jatuh keras ke lantai.Namun, seolah tak merasakan sakit sedikit pun. Dia hanya berlutut di sana, memegangi kepalanya, lalu menangis hingga tubuhnya bergetar.Dulu, dia orang yang paling benci saat aku menangis.Katanya aku terlalu manja, pura-pura menjual kesedihan, selalu menggunakan penyakitku untuk mencari perhatian.Namun kali ini, giliran dia yang menangis penuh kesedih

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 9

    Akhirnya, aku sampai di Danau Ladi.Saat tiba, langit masih belum sepenuhnya terang.Aku menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu berpegangan pada pintu mobil cukup lama sebelum perlahan berjalan menuju tepi danau.Jalan di bawah kakiku sebenarnya tidak jauh.Namun, aku melangkah sangat pelan. Setiap langkah membuat tubuhku terasa semakin sakit, sementara rasa amis terus naik ke tenggorokan.Tetapi, aku tetap merasa bahagia.Karena akhirnya, aku berhasil sampai di sini.Di usia dua puluh tahun, aku tidak memiliki kue ulang tahun. Tidak ada lilin. Tidak ada pula seseorang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.Namun, aku memiliki Danau Ladi.Tempat yang telah kami sepakati untuk datang bersama bertahun-tahun yang lalu.Aku duduk di tepi danau, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas surat yang sudah kusiapkan sejak lama.Anginnya sangat kencang hingga kertas-kertas itu berterbangan.Aku menelan salah satu sudutnya dengan botol obat, lalu menunduk dan mulai menulis perlahan.Su

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 8

    Pada hari keempat perjalanan, pandanganku mulai semakin kabur.Di depan mataku, semuanya sempat berubah gelap. Perutku juga terasa sangat sakit.Aku hanya bisa menepi dan menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu menunduk di atas setir untuk beristirahat sejenak.Melalui kaca spion, terlihat awan gelap menggantung rendah di langit.Kalau terus melaju sedikit lagi, harusnya aku akan segera sampai.Aku mengeluarkan botol obat dan menuangkannya cukup lama.Namun, yang keluar hanya dua pil terakhir.Baru saja hendak menelannya, tiba-tiba terdengar suara rem yang tajam dari belakang.Aku bahkan belum sempat bereaksi, pintu mobilku sudah ditarik paksa dari luar.Angin dingin langsung menerpa ke dalam.Aku mengangkat kepala dan melihat Kak Peter.Untuk pertama kalinya, dia terlihat begitu panik.“Alice!”Kak John juga berlari menghampiri, matanya sangat merah.“Alice, kamu sudah gila?”“Kamu nggak tahu kondisimu sekarang sama sekali nggak memungkinkan untuk mengemudi sejauh ini?”Calvin berdi

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 7

    Saat ini, aku masih berada di perjalanan menuju ke Danau Ladi.Setelah mengemudi selama tiga hari, aku baru menyadari bahwa kursi penumpang di sebelahku kosong.Tiga boneka kecil itu...kutinggalkan di rumah kontrakan.Sebenarnya, saat pertama kali memutuskan untuk pergi, aku sempat berniat membawa mereka bersamaku.Namun, menjelang keberangkatan, aku tetap melupakannya.Mungkin, jauh di lubuk hatiku, memang sejak awal aku tidak ingin membawa mereka.Kak Peter, Kak John dan Calvin sudah berubah sejak awal.Yang benar-benar ingin kubawa pergi sebenarnya adalah mereka yang dahulu.Kak Peter yang selalu menjaga di samping ranjang rumah sakit dan mengusap keringatku.Kak John yang diam-diam menangis hingga matanya memerah, tapi masih berusaha membuat wajah lucu untuk menghiburku.Dan Calvin yang menggenggam tanganku sambil berjanji akan menemaniku setiap ulang tahun di masa depan.Aku terus mengendarai mobil tua itu.Gedung-gedung tinggi di luar jendela semakin lama semakin sedikit. Jalana

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 6

    Kak Peter berdiri di ambang pintu cukup lama tanpa bergerak.Tiga boneka kecil itu masih duduk di atas sofa.Jahitannya kasar, kainnya pun sudah tua.Namun, bagian wajahnya dibuat dengan sangat teliti.Terutama boneka yang menyerupai Kak Peter. Di tubuhnya bahkan dijahitkan sepotong kecil kain berwarna gelap, menyerupai jas yang dulu sering dikenakannya.Kak John berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.Boneka itu terjatuh miring di atas sofa, memperlihatkan selembar tagihan yang sebelumnya tertindih hingga kusut.Dia membungkuk untuk mengambil. Baru melihatnya sekilas, wajahnya langsung berubah.Di atasnya tercatat rapat semua riwayat pengobatan Alice selama beberapa tahun terakhir.Kemoterapi, cuci darah, unit gawat darurat, obat pereda nyeri...Calvin membuka laci meja. Di dalamnya, penuh dengan kotak-kotak obat kosong.Di bagian paling bawah, terdapat beberapa helai handuk yang sudah dicuci berkali-kali hingga terasa kaku.Begitu dibentangkan, noda darah merah g

  • Angin Danau Ladi Membawa Kepergianku   Bab 5

    Keesokan hari setelah Alice pergi, ketiga pria itu menemani Bella ke mal untuk mengambil perhiasan pesanannya.Saat mobil melewati jalan tua di bagian Kawasan Latan, tiba-tiba Calvin melihat sebuah liontin yang terasa sangat familiar di etalase sebuah toko emas.Padahal mobil mereka sudah melewatinya, tetapi dia tiba-tiba menoleh ke belakang.“Berhenti.”Kak Peter langsung menginjak rem dan menatapnya sambil mengernyit.“Ada apa?”Calvin tidak menjawab. Dia langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke toko emas itu.Kak Peter dan Kak John saling berpandangan dan ikut masuk ke dalam.Di dalam etalase, liontin itu tergeletak dengan tenang.Karena sudah cukup lama, warna emasnya tidak lagi terlalu berkilau. Di bagian pinggirnya bahkan terdapat beberapa goresan tipis.Namun, mereka tetap langsung mengenalinya.Itu adalah hadiah yang mereka bertiga berikan kepada Alice saat berusia sepuluh tahun.Saat itu, Alice baru saja didiagnosis mengidap penyakit ginjal. Rasa sakitnya begitu hebat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status