"Cepat jalan, jangan buang waktu lagi!" jerit Rosemary seraya menekan perutnya yang membuncit dan melangkah setengah berlari menembus rintik hujan yang mulai membasahi pelataran kafe.Pria berbadan tegap itu memegang payung hitam tinggi untuk melindungi Rosemary, lalu membukakan pintu penumpang depan sedan perak yang terparkir darurat di pinggir jalan. Tanpa memedulikan rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya atau denyut nyeri di pinggangnya, Rosemary menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil. Mesin mobil meraung keras, roda-rodanya berdecit tajam mengikis aspal basah sebelum kendaraan itu melesat cepat menembus kegelapan malam yang kian pekat.Pikiran Rosemary kacau-balau. Selama tiga bulan terakhir, ia telah membangun benteng pertahanan yang begitu kokoh di dalam hatinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa cintanya pada Calvin telah mati sepenuhnya, berganti menjadi kebencian dan rasa dingin yang tak tersentuh. Namun, mendengar kabar bahwa pria itu terbaring kritis di ambang kem
Terakhir Diperbarui : 2026-09-08 Baca selengkapnya