MasukSelama tiga tahun pernikahan mereka, Rosemary percaya bahwa dirinya adalah wanita paling dicintai Calvin. Calvin selalu bersikap lembut, perhatian, dan seolah tak bisa hidup tanpanya. Rosemary bahkan rela mengabaikan semua orang yang memperingatkannya bahwa pernikahan mereka mungkin menyimpan rahasia. Hingga suatu malam, Rosemary tanpa sengaja mendengar percakapan yang menghancurkan seluruh kepercayaannya. Ternyata, sejak awal Calvin tidak pernah mencintainya. Pernikahan itu hanyalah bagian dari rencana balas dendam. Ayah Rosemary dianggap sebagai penyebab ayah Calvin kehilangan segalanya hingga memilih mengakhiri hidupnya. Dan untuk membalas semua penderitaan itu, Calvin sengaja mendekati Rosemary, membuatnya jatuh cinta, lalu menikahinya. Selama tiga tahun, setiap pelukan, ciuman, dan kata cinta Calvin hanyalah kebohongan. Ketika kebenaran terbongkar, hati Rosemary hancur. Ia bukan hanya kehilangan suaminya, tetapi juga menyadari bahwa seluruh kenangan indah yang selama ini ia jaga ternyata dibangun di atas kebencian. Namun Calvin tidak pernah menyangka satu hal. Saat Rosemary akhirnya berhenti mencintainya, wanita yang dulu selalu berada di sisinya itu berubah menjadi seseorang yang tidak lagi bisa ia kendalikan. Dan ketika kebenaran tentang kematian ayah Calvin perlahan terungkap, Calvin mulai menyadari bahwa mungkin selama ini ia telah membenci orang yang salah. Kini, ketika Rosemary memilih pergi, akankah Calvin mampu mendapatkan kembali wanita yang telah ia hancurkan? Atau tiga tahun cinta palsu itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya?
Lihat lebih banyakDua tungkai kaki Rosemary melangkah lebar menaiki anak tangga kediaman megah itu. Wajahnya berseri-seri, dipenuhi rona bahagia yang tak lagi mampu ia sembunyikan. Di genggaman tangannya, selembar kertas putih berlogo rumah sakit tercengkeram erat. Napasnya sedikit terengah, tetapi rasa gembira yang membuncah di dadanya seolah menghapus seluruh rasa lelah.
"Bibi, ke mana Calvin?" tanya Rosemary begitu melihat seorang pelayan paruh baya berjalan melewati lorong lantai dua. Pelayan itu menghentikan langkahnya, tersenyum sopan saat melihat aura ceria yang dipancarkan sang majikan muda. "Tuan Calvin sedang berada di ruang kerjanya, Nyonya." "Terima kasih, Bi!" sahut Rosemary cepat, tanpa membuang waktu lagi langsung mempercepat langkah menuju ujung lorong. Hatinya membumbung tinggi. Ia sudah tidak sabar ingin menyampaikan berita luar biasa ini kepada sang suami. Bayangan senyum ramah sang dokter di rumah sakit tadi pagi mendadak melintas kembali di benaknya. *“Nyonya, akhirnya Anda hamil. Setelah tiga tahun menunggu, janin ini akhirnya tumbuh di rahim Anda,”* ujar dokter dengan nada penuh kehangatan saat memberikan hasil pemeriksaan laboratorium. Saat itu, dada Rosemary rasanya ingin meledak oleh kebahagiaan. *“Benarkah? Ini kabar yang sangat baik, Dokter! Aku harus segera pulang dan memberitahu suamiku!”* serunya kala itu dengan mata berbinar. Tiga tahun penantian yang diwarnai kecemasan, doa di sepertiga malam, dan berbagai usaha akhirnya membuahkan hasil. Rosemary membayangkan bagaimana Calvin akan mendekapnya erat, memutarkan tubuhnya dalam pelukan, atau mungkin meneteskan air mata bahagia setelah membaca surat dari dokter ini. Namun, saat langkah kakinya baru saja tiba di depan daun pintu ruang kerja Calvin yang sedikit terbuka, gerakan Rosemary mendadak terhenti. Sebuah suara yang sangat ia kenali terdengar dari dalam, bernada dingin dan menusuk. "Apa kau pikir aku serius mencintai Rosemary? Dia hanyalah alat untuk balas dendam pada ayahnya!" Kata-kata itu terlempar begitu saja dari bibir Calvin, memecah keheningan ruangan. Rosemary terpaku di tempatnya berdiri. Senyum di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh kebingungan yang pekat. Tubuhnya membeku bagai patung. Di dalam ruangan, panggilan telepon bersuara nyaring melalui *speakerphone*. Suara Davian, sahabat dekat Calvin, terdengar gemetar menahan amarah dari seberang sambungan. "Calvin, kau serius mau menyakiti Rosemary?" tanya Davian, berusaha memastikan apa yang baru saja didengarnya. "Tentu saja!" balas Calvin tanpa ragu sedikit pun. Nada suaranya sarat akan kebencian yang mendalam. "Kau tahu dendamku pada ayahnya sangat besar. Jika aku tidak bisa menghancurkan putrinya, maka jangan sebut namaku Calvin!" "Calvin, kau benar-benar bajingan!" bentak Davian keras. "Kau ingin menyakiti Rosemary, istrimu sendiri, hanya demi memuaskan dendam pribadi pada ayahnya?" "Kau sudah kuberi tahu berkali-kali, Davian. Selama ini aku hanya berpura-pura!" tawa sinis Calvin terdengar menggelegar, menusuk gendang telinga Rosemary yang berdiri guncang di luar pintu. "Jika bukan karena ingin membalas dendam pada keluarga tua itu, aku tidak akan sudi menikah dengannya!" Seluruh persendian Rosemary mendadak mati rasa. Air mata yang awalnya berusaha ia tahan kini runtuh tanpa terbendung, membasahi pipinya yang mendadak pucat pasi. Selembar kertas di tangannya kini teremas tanpa sadar. *Ternyata dia hanya bersandiwara,* batin Rosemary dengan dada yang berdenyut amat menyakitkan. Kebahagiaan yang beberapa menit lalu merajai hatinya kini hancur berkeping-keping menjadi debu. *Yah... aku memang bukan wanita yang ia cintai. Selama ini aku hanya hidup dalam ilusi.* Namun, perdebatan di dalam ruangan masih terus berlanjut. Davian tampak sangat marah atas kepalsuan sahabatnya sendiri. "Calvin! Kau tahu Rosemary adalah wanita yang sangat baik! Jika kau berniat menyakitinya, aku benar-benar tidak rela!" seru Davian tegas. Calvin terkekeh beracun. "Kenapa? Kau ingin bekas istriku ini nanti untuk jadi istrimu, begitu?" "Dasar bajingan!" umpat Davian penuh kemarahan. "Dulu kau yang memohon padaku untuk mengalah! Kau minta aku menjauh darinya! Sekarang kau malah ingin menyakitinya hanya karena dendam buta pada ayahnya?" "Davian, sebuah sandiwara harus dilakukan dengan totalitas!" potong Calvin cepat, suaranya terdengar dingin dan tak tersentuh. "Jika aku tidak bersikap totalitas mencintainya, bagaimana mungkin dia bisa terperangkap ke dalam rencanaku?" Di luar ruangan, pelayan yang tadi ditegur Rosemary kembali melintas dan mendapati sang nyonya berdiri termenung di depan pintu dengan tubuh gemetar hebat. "Nyonya? Kenapa tidak masuk?" tanya pelayan itu heran. Rosemary terperanjat. Ia hanya terdiam, menggenggam erat kertas di tangannya sembari menahan gejolak amarah dan kehebohan yang meletup di dalam dadanya. Suara di luar ruangan itu rupanya menarik perhatian Calvin. "Sudahlah, Davian. Kau tidak usah ikut campur urusan perikahanku!" ucap Calvin singkat sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Langkah kaki terdengar mendekati pintu. Pintu kayu mahal itu terdorong terbuka, menampilkan sosok Calvin yang tampak gagah. Dalam hitungan detik, raut wajah dinginnya berganti menjadi senyuman hangat penuh kepalsuan—senyuman yang selama tiga tahun ini berhasil menipu Rosemary sepenuhnya. "Sayang, ada apa?" tanya Calvin ramah, melangkah mendekat. "Sepertinya ada hal sangat serius yang ingin kau beritahukan padaku?" Rosemary menatap pria di hadapannya dengan tatapan kosong yang dipenuhi kekecewaan dalam. "Calvin, sudahlah! Kau tidak perlu berpura-pura lagi!" Alis Calvin terangkat sedikit. Ia menatap ke arah pelayan yang bergegas pergi, lalu kembali memandangi istrinya. "Kenapa? Kau sudah mendengar semuanya?" Rosemary tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang menyuarakan kehancuran hatinya. "Tuan Calvin... aku sungguh tak percaya Anda begitu jago bersandiwara selama tiga tahun ini." Calvin menyilangkan tangan di dada, melepas seluruh topeng keramahannya. Matanya kini berkilat tajam dan dingin. "Kenapa kamu terkejut mendengarnya?" "Tidak!" sahut Rosemary dengan suara bergetar namun penuh penekanan. "Aku sama sekali tidak terkejut. Hanya saja... selama ini aku begitu bodoh karena sangat percaya pada cinta palsu Anda!" Calvin maju satu langkah, menatap Rosemary dari atas ke bawah tanpa sedikit pun rasa penyesalan di wajahnya. "Rosemary, kau tak perlu menyalahkanku atas semua yang terjadi," ujar Calvin dengan nada dingin yang menusuk hingga ke tulang. "Salahkan saja ayahmu yang sudah membuat ayahku meninggal!”"Cepat jalan, jangan buang waktu lagi!" jerit Rosemary seraya menekan perutnya yang membuncit dan melangkah setengah berlari menembus rintik hujan yang mulai membasahi pelataran kafe.Pria berbadan tegap itu memegang payung hitam tinggi untuk melindungi Rosemary, lalu membukakan pintu penumpang depan sedan perak yang terparkir darurat di pinggir jalan. Tanpa memedulikan rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya atau denyut nyeri di pinggangnya, Rosemary menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil. Mesin mobil meraung keras, roda-rodanya berdecit tajam mengikis aspal basah sebelum kendaraan itu melesat cepat menembus kegelapan malam yang kian pekat.Pikiran Rosemary kacau-balau. Selama tiga bulan terakhir, ia telah membangun benteng pertahanan yang begitu kokoh di dalam hatinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa cintanya pada Calvin telah mati sepenuhnya, berganti menjadi kebencian dan rasa dingin yang tak tersentuh. Namun, mendengar kabar bahwa pria itu terbaring kritis di ambang kem
"Jangan membuang waktu, masuk ke dalam mobil!" gertak pria berbadan tegap itu seraya mendorong tubuh Calvin secara kasar hingga pria itu terjerembet ke dalam jok belakang mobil sedan hitam tersebut.Pintu mobil langsung dibanting menutup dari luar dengan bunyi gemertak yang keras. Sebelum Calvin sempat memutar tubuh atau memprotes, dua orang pengawal lain di sisi kiri dan kanannya dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangannya menggunakan borgol besi yang dingin. Sedan hitam itu langsung menekan pedal gas dalam-dalam, melesat meninggalkan kawasan pantai yang tenang menuju arah jalan bebas hambatan.Calvin tidak berontak. Pria yang biasanya memancarkan aura dominan dan tak tersentuh itu kini hanya duduk bersandar dengan pasrah. Kepala dan kemejanya masih basah oleh air yang disiramkan Rosemary beberapa menit lalu. Tatapan matanya kosong, memandangi kaca jendela luar yang menampilkan deretan pohon kelapa yang kian menghilang. Jiwanya seolah telah tertinggal di dalam kafe kecil itu—di
"Berani-beraninya kau menginjakan kaki di tempat ini!" jerit Rosemary seraya meraih teko kaca berisi air dingin di atas meja kasir dan menghempaskan isinya tepat ke wajah pria yang tengah berlutut di hadapannya.Air dingin membasahi wajah dan kemeja mahal yang kini tampak kusam milik Calvin. Pria itu tidak bergeming sedikit pun. Ia tidak menyapu air yang menetes dari ujung hidungnya, tidak pula berusaha membela diri. Matanya yang merah dan diliputi lingkaran hitam pekat tetap menatap lurus ke arah Rosemary—tatapan yang kini tidak lagi memancarkan keangkuhan atau kemurkaan, melainkan keputusasaan dan penyesalan yang begitu kelam.Lonceng pintu kafe yang berdenting pelan perlahan menghilang dari pendengaran Rosemary, digantikan oleh gemuruh jantungnya yang berdegup kencang. Seluruh ingatan buruk yang telah ia kubur rapat-rapat selama tiga bulan terakhir mendadak mencuat ke permukaan, meracuni udara sejuk pantai yang selama ini menyembuhkan lukanya."Rosemary... tolong," bisik Calvin den
"Lepaskan tanganku, Calvin!" jerit Rosemary seraya menghentakkan lengannya sekuat tenaga, mencoba menghempaskan cengkeraman besi yang mengikat pergelangan tangannya.Suara gesekan kain dan napas yang memburu memecah keheningan malam di kamar yang remang itu. Calvin berdiri tegap dalam kegelapan, matanya menyala tajam dipenuhi amarah dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu. Cengkeramannya pada tangan Rosemary tidak mengendur sedikit pun, justru semakin mengetat hingga kulit pucat wanita itu memerah."Kau benar-benar tidak pernah kapok, Rosemary!" gertak Calvin dengan suara rendah yang bergetar. "Bahkan setelah tubuhmu hampir menyerah, setelah infus baru saja dicabut dari tanganmu, kau masih berpikiran untuk mencuri kunciku dan kabur?!""Lalu kau pikir aku akan diam saja menunggu dipotong-potong oleh iblis sepertimu?!" balas Rosemary menantang. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Calvin tanpa ada lagi sisa ketakutan. "Bunuh aku sekalian, Calvin! Bunuh aku dan anak ini jika ka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.