Jantung Kesya berdegup dua kali lebih cepat. Bukan hanya karena aroma maskulin khas oli dan tembakau yang menguar dari tubuh tegap Damar, melainkan juga karena tatapan sepasang mata elang itu. Di bawah temaram langit senja dan rimbunnya pohon talok, cengkeraman tangan Damar di pergelangan tangannya terasa begitu kokoh, mendominasi, dan mengunci pergerakannya."Jangan pura-pura bodoh, Kesya. Aku tahu kamu tahu sesuatu," bisik Damar. "Stiker parkir Swalayan Rahayu di motor Mas Bayu itu nggak mungkin bohong. Kemarin siang kamu belanja di sana, dan kamu melihat dia, kan? Ada rahasia apa di desa sebelah?"Kesya menelan ludah. Rasa ngeri akibat trauma manipulasi Raka di Jakarta mendadak terlintas, membuatnya refleks ingin memberontak. Namun, pria di depannya ini bukanlah Raka. Damar menyebalkan, bermulut pedas, dan selalu gengsi mengakui perhatiannya. Tetapi Damar tidak pernah berniat untuk menghancurkannya."Lepas, Damar! Sakit!" desis Kesya, mencoba untuk menarik tangannya."Nggak akan ak
Última actualización : 2026-10-07 Leer más