“Kamu benar-benar tega melakukan ini?” tanyanya pelan, dengan nada memohon.“Kamu sendiri yang lebih dulu tega kepadaku.” “Aku cuma sedang mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku,” ucapku datar.Setelah itu, aku tidak lagi memedulikannya dan kembali berkemas.Devin tetap berdiri di tempatnya, diam memperhatikanku. Tatapannya begitu rumit, dipenuhi rasa sakit, rasa bersalah, dan ketidakrelaan.Setelah beberapa lama, barulah dia berkata,“Aku nggak akan tanda tangan.”Gerakanku saat mengemasi barang bawaan seketika terhenti. Aku mengangkat kepala dan menatapnya.“Maksud kamu apa?”“Aku nggak akan cerai denganmu.”Devin menatapku dengan tatapan tegas.“Sheila, selama aku nggak setuju, kamu akan tetap menjadi Nyonya Tanansa, selamanya. Jangan pernah berpikir kamu bisa meninggalkanku.”Aku mengernyitkan kening, merasa tidak senang.“Devin, jangan paksa aku,” ucapku dengan suara dingin.“Kalau kamu tetap nggak mau cerai, aku terpaksa mengajukan gugatan cerai. Kalau masalah ini sampa
Leer más