MasukSetelah bercerai dari suamiku yang berselingkuh, hidupku jatuh miskin dan serba kekurangan. Karena itu, setelah kami rujuk, aku berusaha menjadi istri sempurna yang selama ini diinginkan Devin Tanansa. Setiap kali muncul berita miring tentang hubungannya dengan Trisya Abiani, aku selalu turun tangan untuk menjelaskannya kepada publik. Ketika Trisya memfitnahku dan Devin memilih diam, aku justru buru-buru mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bahkan saat aku dijebak hingga harus berurusan dengan polisi, aku tetap tidak meminta bantuannya. Ketika polisi mengatakan aku hanya bisa dibebaskan jika ada keluarga yang datang menjemput, aku hanya mengatakan bahwa aku tidak punya keluarga. Akhirnya, aku membiarkan diriku ditahan di kantor polisi selama seminggu. Tujuh hari kemudian, menjelang petang, pintu besi kantor polisi terbuka lebar dengan suara dentang. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depanku. Devin segera menghampiriku. Alisnya sedikit berkerut. “Sheila Sarindya, kenapa kamu nggak meneleponku waktu ada masalah?” Aku hanya tersenyum tipis. “Cuma masalah sepele. Aku nggak mau mengganggumu.” Raut wajah Devin sedikit berubah. “Dua hari ini aku menemani Trisya ke luar negeri. Aku nggak sempat lihat pesanmu.” Dia terdiam sebentar. “Maaf,” katanya dengan suara pelan. “Nggak apa-apa. Aku juga nggak berharap kamu datang. Kamu urus saja urusanmu.” Devin terus menatapku. Tiba-tiba, tangannya meraih pergelangan tanganku. “Kenapa kamu nggak marah?” Tatapan Devin dipenuhi kebingungan, bahkan ada sedikit kegelisahan di dalamnya. Aku merasa itu lucu. “Kenapa aku harus marah? Kamu sudah kasih alasannya dan aku juga sudah bilang aku mengerti. Jadi, apalagi yang perlu dimarahkan?” “Devin ....” Aku tertegun, lalu menatap pria di hadapanku ini dengan bingung. “Bukankah ini yang kamu mau?”
Lihat lebih banyakAku tidak mengatakan apa-apa. Ada sedikit rasa getir di dalam hatiku.Semua yang mati-matian diusahakan Trisya untuk mendapatkannya, pada akhirnya tetap berakhir sia-sia.“Sekarang aku baru mengerti kenapa dulu kamu begitu keras mau meninggalkanku.”Devin menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan.“Aku yang terlalu bodoh dan terlalu buta. Aku malah mengabaikan orang yang paling berharga di sisiku.”“Semua sudah berlalu,” ucapku dengan tenang. “Sekarang membicarakan semua itu juga sudah nggak ada gunanya.”“Aku tahu.”Devin mengangguk. Ada sedikit rasa kecewa dalam suaranya.“Aku datang kali ini bukan untuk mengganggu hidupmu. Aku cuma mau kasih tahu kamu kalau aku sudah memutuskan hubungan dengan Keluarga Tanansa. Aku sudah lepaskan hak warisku atas perusahaan dan menyerahkan seluruh hartaku. Aku cuma ingin menjalani hidup sebagai orang biasa.”Aku menatapnya dengan sedikit terkejut.“Kenapa kamu melakukan semua itu?”“Karena aku mau memulai hidup yang baru .”Devin m
Devin menatapku. Tatapannya dipenuhi ketidakberdayaan dan rasa tidak rela.“Kamu benar-benar sudah sebenci itu denganku? Sebegitu bencinya dengan keluarga ini?”“Bukan karena benci. Aku cuma sudah nggak mencintaimu lagi. Aku juga sudah lelah,” kataku dengan tenang. “Devin, sudah nggak ada kemungkinan apa pun di antara kita. Tanda tangan saja. Biarkan aku pergi, dan kamu juga berhenti menyiksa dirimu sendiri.” Devin terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata,“Kalau aku tanda tangan, kamu mau memenuhi satu permintaanku nggak?”“Apa?”Aku menatapnya.“Setelah kita cerai, jangan putus hubungan.”Tatapan Devin menyiratkan sedikit permohonan.“Aku tahu dulu aku sudah menyakitimu. Aku juga nggak berharap kamu mau memaafkanku. Aku cuma mau tahu kamu baik-baik saja atau tidak. Kalau suatu hari kamu butuh bantuan, aku ingin tetap bisa membantumu.”Aku menatapnya dan mulai merasa bimbang.Awalnya, setelah bercerai, aku ingin benar-benar memutuskan hubungan dengannya dan memulai hidup yang baru
Aku tidak marah. Aku hanya menatapnya dengan tenang.“Ibu, tolong jaga ucapanmu. Aku dan Devin belum cerai. Aku masih Nyonya Tanansa dan aku juga masih punya bagian di rumah ini.”“Nyonya Tanansa?”Trisya terkekeh pelan seraya mengusap perutnya.“Kak Sheila, jangan bohongi diri sendiri lagi. Devin itu mencintaiku. Kamu cuma orang yang sudah nggak dibutuhkan. Kalau memang tahu diri, mending kamu pergi sendiri. Daripada nanti malah dipermalukan.”Melihat wajah Trisya yang begitu bangga, hatiku justru merasa geli.Devin bersikap baik kepadanya hanya karena anak yang dikandungnya dan karena latar belakang keluarganya bisa membawa keuntungan bagi Keluarga Tanansa.Begitu semua itu sudah tidak ada, nasibnya mungkin akan jauh lebih buruk dariku.“Aku mau pergi atau tidak, bukan kamu yang tentukan. Ibu juga. Devin sendiri yang berhak memutuskan.”“Lagipula, aku sudah bilang ke Devin kalau aku mau cerai. Sekarang tinggal menunggu dia tanda tangan,” ucapku dengan tenang.Raut wajah Trisya dan Ib
“Kamu benar-benar tega melakukan ini?” tanyanya pelan, dengan nada memohon.“Kamu sendiri yang lebih dulu tega kepadaku.” “Aku cuma sedang mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku,” ucapku datar.Setelah itu, aku tidak lagi memedulikannya dan kembali berkemas.Devin tetap berdiri di tempatnya, diam memperhatikanku. Tatapannya begitu rumit, dipenuhi rasa sakit, rasa bersalah, dan ketidakrelaan.Setelah beberapa lama, barulah dia berkata,“Aku nggak akan tanda tangan.”Gerakanku saat mengemasi barang bawaan seketika terhenti. Aku mengangkat kepala dan menatapnya.“Maksud kamu apa?”“Aku nggak akan cerai denganmu.”Devin menatapku dengan tatapan tegas.“Sheila, selama aku nggak setuju, kamu akan tetap menjadi Nyonya Tanansa, selamanya. Jangan pernah berpikir kamu bisa meninggalkanku.”Aku mengernyitkan kening, merasa tidak senang.“Devin, jangan paksa aku,” ucapku dengan suara dingin.“Kalau kamu tetap nggak mau cerai, aku terpaksa mengajukan gugatan cerai. Kalau masalah ini sampa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.