Menjauh dari pintu auditorium hotel, Andin bergegas menuju lorong tangga darurat yang sepi sambil menempelkan ponsel ke telinga kanan. Sambungan telepon berdering empat kali sebelum akhirnya suara Bagas terdengar membentak di seberang saluran."Kamu di mana, Bagas?" tanya Andin dengan napas terengah-engah dan jemari kiri yang meremas erat pegangan tangga besi."Jangan cari aku lagi, Din!" sergah Bagas kasar, diiringi suara deru knalpot motor dari kejauhan. "Kamu sengaja menjebakku, kan? Kamu bilang tadi cuma disuruh duduk mengisi kuesioner, tapi nyatanya namaku dipanggil ke depan panggung untuk diperiksa dokter itu! Kamu cuma memanfaatkan aku!""B-bukan begitu, Bagas... aku sendiri tidak tahu kalau nomor registrasi kita bakal dipanggil maju," sangkal Andin seraya menahan getaran di tenggorokannya.Mendengar sanggahan tersebut, tawa mencemooh terdengar dari corong telepon. "Persetan dengan alasanmu! Amplop honor lima ratus ribu ini sudah kuambil dan jangan pernah hubungi nomor ini lagi
Last Updated : 2026-09-11 Read more