Share

5. Praktek Dimulai

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-11 15:08:39

Andin menahan napas di tenggorokan, terkejut menyadari pria matang itu sudah membaca situasinya dengan tepat. "D-Dokter tahu Bu Ratna adalah dosen pembimbing saya?"

"Nama Ratna tercantum di lembar fotokopi proposal yang tertinggal di mapmu kemarin," jawab Dokter Javier dengan intonasi datar tanpa riak emosi.

Andin melangkah maju 1 langkah seraya mendekap tas kanvasnya. "I-ibu Ratna memang menyuruh saya ke sini untuk mengambil data modul Dokter... ta-tapi beliau tidak berniat meluluskan saya. Beliau mau memakai data saya untuk menjatuhkan izin klinik Dokter di komite etik kampus."

Sudut bibir Dokter Javier tertarik tipis, memperlihatkan ketenangan seorang pria yang sudah mengantisipasi langkah lawan sejak awal. "Saya sudah tahu watak Ratna selama lima belas tahun kami menikah, dan manuver komite etik itu bukan urusan yang perlu kamu cemaskan."

Ruangan seluas 6x8 meter itu terasa dingin oleh hembusan pendingin udara sentral.

Di sudut ruangan, sebuah matras periksa medis berlapis busa hitam terbentang rapi di samping baki instrumen. Sementara plafon bagian atas, sebuah kamera digital lensa perak yang mengarah tepat ke area matras periksa, siap merekam setiap interaksi klinis yang berlangsung.

Dokter Javier membuka laci meja kerja mahoninya, mengeluarkan map biru tebal, lalu meletakkannya di atas meja kaca bersama pulpen logam bertinta hitam. Tepat di samping map tersebut, sebuah amplop cokelat tebal diletakkan.

Membuka lembar terakhir kontrak tersebut, Dokter Javier menunjuk kolom persetujuan yang sudah dibubuhi meterai tempel Rp10.000. "Tanda tangani kontrak observasimu beserta ketersediaanmu mengambil data primer dari modul saya. Honor bulan pertamamu sebesar Rp5.000.000 sudah saya siapkan tunai di amplop ini, jika memang kamu berkenan."

Andin memandang amplop cokelat tebal berisi uang tunai itu dengan dada yang bergemuruh kencang. Jemarinya terangkat dengan getaran halus, menyentuh badan dingin pulpen logam di atas meja kaca, menyadari bahwa membubuhkan tanda tangan di atas meterai itu berarti menyerahkan kendali tubuhnya ke atas matras hitam di bawah bidikan kamera pengawas.

Andin gelagapan menelan ludah, buru-buru menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya yang memucat di hadapan meja dosen pembimbingnya. "Sa-saya... cuma membaca nama beliau di brosur seminar hotel kemarin, Bu... lalu saya mencari profilnya di internet."

Mendengar jawaban gugup mahasiswinya, Bu Ratna mendengus sinis seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Bagus kalau kamu sudah tahu siapa dia."

Bu Ratna menegakkan punggungnya di kursi putar kulit, memandang Andin dengan sorot mata dingin. Kedua matanya menyipit di balik kacamata berbingkai emas, menimbang kerapuhan mahasiswi bimbingannya tersebut.

"Javier itu mantan suami saya," lanjut Bu Ratna dengan nada suara yang ditekan tajam.

Napas Andin tercekat pendek di tenggorokan mendengar penuturan tak terduga itu. Kedua tangannya meremas ujung rok span hitamnya demi menguasai rasa terkejut yang menghantam benaknya.

"Modul terapi ranjang yang dia buat itu dinilai terlalu bebas oleh kampus, dan sekarang izin praktiknya sengaja saya tahan di komite etik," ucap Bu Ratna seraya mengetukkan ujung kuku ke atas meja kaca.

Bu Ratna mengamati pakaian Andin dari ujung kepala hingga sepatu pantofelnya yang usang dengan tatapan meremehkan.

"Dia pasti tidak sudi meladeni mahasiswi miskin macam kamu," sambung Bu Ratna dengan seringai tipis di sudut bibir.

Andin menekan rasa sesak di dadanya seraya memungut lembar draf skripsinya yang berserakan di lantai marmer.

"Tetapi kalau kamu memang berniat lulus semester ini, bawa lembar pengujian modul dia ke meja saya. Kalau gagal, kamu harus mengganti judul dan mengulang seluruh proses skripsimu dari awal semester depan!" Bu Ratna menunjuk daun pintu keluar dengan kibasan tangan angkuh.

Di balik alasan akademis tersebut, Bu Ratna menyimpan dendam pribadi terhadap sang mantan suami. Dosen berusia 42 tahun itu berniat menjatuhkan izin klinik Dokter Javier di sidang komite etik universitas menggunakan data primer yang dibawa Andin. Bu Ratna berniat memanfaatkan Andin sebagai umpan untuk membongkar kecacatan prosedur modul terapi milik Javier.

Andin mendekap bundel kertas yang penuh coretan tinta merah itu ke dadanya.

Mengingat pihak rumah sakit mengancam menghentikan obat suntik stroke ibunya siang tadi, ujian kenaikan kelas adiknya tertahan akibat tunggakan uang gedung, dan batas tebus cincin kawin ayahnya di pegadaian habis pekan ini, jalan keluar Andin tertutup rapat. Syarat yang diajukan Bu Ratna menjepit masa depannya tanpa ampun. Pintu klinik privat Dokter Javier menjadi satu-satunya jalan keluar yang tersisa baginya.

Kertas draf skripsi yang penuh coretan tinta merah itu tergulung di dalam tas kanvas Andin saat kakinya turun dari angkutan umum di depan Jalan Senopati tepat pukul 16.45 WIB.

Halaman klinik privat Dokter Javier tampak asri dengan pagar besi hitam dan deretan pohon palem yang tertata rapi. Begitu Andin melangkah melewati pintu gerbang samping, tarikan kasar pada lengan kirinya menyentakkan tubuhnya ke samping pilar beton area parkir.

Bagas Mahendra berdiri menjulang di hadapannya dengan napas tersengal-sengal dan jaket denim yang kumal. Jemari pemuda berumur 25 tahun itu mencengkeram pergelangan tangan kiri Andin begitu kuat hingga meninggalkan bekas memar kemerahan di kulitnya.

Mengacungkan layar ponselnya yang menampilkan tangkapan layar berkas formulir pendaftaran klinik, Bagas menatap Andin dengan mata melotot kalap. "Beri aku uang Rp5.000.000 sekarang, Andin!"

"Klinik ini mengirim surel tagihan verifikasi ke alamat lamaku, dan kalau kamu menolak memberi uang tutup mulut sore ini, bukti pemalsuan buku nikah ini kubawa langsung ke ruang dekanat fakultasmu!" Bagas mendesiskan ancaman dengan rahang yang mengeras rapat.

Rasa nyeri di persendian pergelangan tangannya membuat Andin meringis seraya berusaha menarik tangannya lepas. "Lepaskan, Bagas! Saya tidak punya uang sebanyak itu!"

Mendengar penolakan tersebut, Bagas mempererat cengkeramannya sambil menarik tubuh Andin merapat ke arah deretan mobil yang terparkir. "Bohong! Kamu bisa membayar seminar dokter mahal ini, mana mungkin kamu tidak punya uang untukku?"

Andin mengumpulkan tenaganya, lalu menghentakkan ujung sepatu kanvasnya sekuat tenaga tepat ke tulang kering kaki kanan Bagas.

"Sialan kamu, Din!" Bagas melepaskan cengkeramannya lalu membungkuk seraya memegangi kaki kanannya yang berdenyut ngilu.

Memanfaatkan kelengahan pemuda itu, Andin langsung memutar tubuhnya dan berlari kencang menaiki undakan marmer menuju pintu masuk utama klinik.

Pintu kaca geser otomatis terbuka menyambut langkahnya yang tergesa-gesa, lalu menutup rapat tepat saat dua petugas keamanan berseragam hitam mencegat langkah Bagas di luar area lobi.

Seorang perawat wanita berseragam abu-abu menyambut Andin dengan anggukan sopan, lalu mengantarnya menaiki tangga menuju ruang konsultasi di lantai 2.

Tepat di depan pintu kayu jati berpahat tebal bernomor 01, jam dinding koridor berdentang pelan menandai pukul 16.58 WIB. Andin mengetuk permukaan kayu itu 2 kali dengan buku jarinya yang masih bergetar.

Pintu terbuka ke dalam, memperlihatkan sosok Dokter Javier yang berdiri mengenakan kemeja katun hitam lengan panjang yang digulung rapi hingga siku dan celana bahan berwarna gelap. Pria berumur 40 tahun itu tampak sangat tenang, memegang kendali penuh atas situasi di sekelilingnya. Pandangan matanya yang dingin langsung mengunci bekas memar merah di pergelangan tangan kiri Andin yang terbuka.

Dokter Javier melangkah mundur satu langkah untuk memberi jalan masuk ke ruangannya. "Laki-laki bayaranmu di bawah tadi bertindak terlalu kasar. Masuk, Andin, selesaikan urusanmu di sini!"

Andin melangkah melewati ambang pintu dengan dada yang berdegup kencang. Begitu kakinya berada di dalam, Dokter Javier menutup daun pintu kayu jati tersebut, lalu memutar gerendel logam 2 kali hingga terdengar bunyi klik pelan.

Andin tersentak kecil di tempatnya berdiri, merasakan tengkuknya seketika meremang.

Dikunci?

Apa yang sebenarnya diinginkan Dokter Javier darinya? Apa pria berumur 40 tahun ini berniat memulainya sekarang di dalam ruangan tertutup ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   5. Praktek Dimulai

    Andin menahan napas di tenggorokan, terkejut menyadari pria matang itu sudah membaca situasinya dengan tepat. "D-Dokter tahu Bu Ratna adalah dosen pembimbing saya?""Nama Ratna tercantum di lembar fotokopi proposal yang tertinggal di mapmu kemarin," jawab Dokter Javier dengan intonasi datar tanpa riak emosi.Andin melangkah maju 1 langkah seraya mendekap tas kanvasnya. "I-ibu Ratna memang menyuruh saya ke sini untuk mengambil data modul Dokter... ta-tapi beliau tidak berniat meluluskan saya. Beliau mau memakai data saya untuk menjatuhkan izin klinik Dokter di komite etik kampus."Sudut bibir Dokter Javier tertarik tipis, memperlihatkan ketenangan seorang pria yang sudah mengantisipasi langkah lawan sejak awal. "Saya sudah tahu watak Ratna selama lima belas tahun kami menikah, dan manuver komite etik itu bukan urusan yang perlu kamu cemaskan."Ruangan seluas 6x8 meter itu terasa dingin oleh hembusan pendingin udara sentral.Di sudut ruangan, sebuah matras periksa medis berlapis busa hi

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   4. Bagaimana Tawaran Saya?

    Andin gelagapan menelan ludah, buru-buru menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya yang memucat pasi di hadapan meja dosen pembimbingnya. "Sa-saya... cuma membaca nama beliau di brosur seminar hotel kemarin, Bu... lalu saya mencari profilnya di internet."Mendengar jawaban gugup mahasiswinya, Bu Ratna mendengus sinis seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Bagus kalau kamu sudah tahu siapa dia."Bu Ratna menegakkan punggungnya di kursi putar kulit, memandang Andin dengan sorot mata dingin tanpa kehangatan seorang pendidik. Kedua matanya menyipit di balik kacamata berbingkai emas, menimbang kerapuhan mahasiswi di hadapannya."Javier itu mantan suami saya," lanjut Bu Ratna dengan nada suara yang sengaja ditekan tajam.Ma-Mantan Suami?Jadi, dokter yang menawari Andin kesepkatan, pernah punya rekam jejak dengan dosen pembimbingnya sendiri?Napas Andin tercekat pendek di tenggorokan mendengar penuturan tak terduga itu. Kedua tangannya meremas ujung rok span hitamnya demi me

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   3. Dospemku, Musuhku

    "Bahan observasi ilmiah," ralat Dokter Javier cepat dengan suara bariton yang teratur.Menggeser pandangannya ke lembar kontrak di tangan Andin, Dokter Javier melanjutkan penjelasannya. "Kamu datang ke klinik privat saya tiga kali seminggu untuk menjalani tahapan modul fisik. Seluruh sesi direkam kamera untuk arsip pembuktian dewan etik, sekaligus agar kamu tidak curiga bahwa saya akan bebuat semena-mena denganmu. Sebagai gantinya, saya sediakan data primer utuh untuk skripsimu, dan saya bayar honor 5 juta per bulan."Mendengar nominal lima juta, dada Andin berdenyut kencang. Jumlah uang itu cukup untuk menebus paket obat rutin ibunya sekaligus melunasi tunggakan uang gedung sekolah Dimas tanpa perlu meminjam ke pihak lain.Dokter Javier mengulurkan tangan kanannya, menempelkan dua jarinya di bawah dagu Andin, lalu mengangkat wajah gadis itu ke atas. Sentuhan kulit jari pria itu terasa kasar dan hangat, membuat tarikan napas Andin tertahan di kerongkongan.Mendekatkan wajahnya ke teli

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   2. Tubuhku Jadi Bahan Percobaan?

    Menjauh dari pintu auditorium hotel, Andin bergegas menuju lorong tangga darurat yang sepi sambil menempelkan ponsel ke telinga kanan. Sambungan telepon berdering empat kali sebelum akhirnya suara Bagas terdengar membentak di seberang saluran."Kamu di mana, Bagas?" tanya Andin dengan napas terengah-engah dan jemari kiri yang meremas erat pegangan tangga besi."Jangan cari aku lagi, Din!" sergah Bagas kasar, diiringi suara deru knalpot motor dari kejauhan. "Kamu sengaja menjebakku, kan? Kamu bilang tadi cuma disuruh duduk mengisi kuesioner, tapi nyatanya namaku dipanggil ke depan panggung untuk diperiksa dokter itu! Kamu cuma memanfaatkan aku!""B-bukan begitu, Bagas... aku sendiri tidak tahu kalau nomor registrasi kita bakal dipanggil maju," sangkal Andin seraya menahan getaran di tenggorokannya.Mendengar sanggahan tersebut, tawa mencemooh terdengar dari corong telepon. "Persetan dengan alasanmu! Amplop honor lima ratus ribu ini sudah kuambil dan jangan pernah hubungi nomor ini lagi

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   1. Kamu Tidak Pernah Disentuh, Kan?

    "Pasangan nomor registrasi 019, Saudari Andin Paramita dan Saudara Bagas Mahendra," panggil Dokter Javier lewat mikrofon.Andin yang tidak tahu bahwa namanya dipanggil, seketika melihat ke arah Bagas, pria yang ia sewa untuk jadi peran suami.Sebagai juru ketik transkrip paruh waktu untuk konseling rumah tangga swasta, Andin terbiasa mendengarkan rekaman audio orang asing yang menangis mengadukan persoalan ranjang mereka. Gadis itu mengetik ratusan keluhan tentang keintiman yang hancur huruf demi huruf tanpa pernah memahaminya sendiri.Lewat rekaman audio itulah Andin pertama kali mendengar reputasi Dokter Javier sebagai pakar keintiman klinis dan dosen pembimbingnya meminta Andin untuk mencari materi dari dokter itu.Ia sebenarnya nekat menyusup ke seminar pranikah berbiaya 1.5 juta ini demi satu tujuan penting, yaitu mengambil data primer interaksi fisik pasangan untuk skripsinya yang terancam gugur sekaligus agar beasiswanya tidak dicabut."Gila kamu, Din! Perjanjiannya kita cuma d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status