แชร์

3. Dospemku, Musuhku

ผู้เขียน: NFLusica
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-11 15:08:04

"Bahan observasi ilmiah," ralat Dokter Javier cepat dengan suara bariton yang teratur.

Menggeser pandangannya ke lembar kontrak di tangan Andin, Dokter Javier melanjutkan penjelasannya. "Kamu datang ke klinik privat saya tiga kali seminggu untuk menjalani tahapan modul fisik. Seluruh sesi direkam kamera untuk arsip pembuktian dewan etik, sekaligus agar kamu tidak curiga bahwa saya akan bebuat semena-mena denganmu. Sebagai gantinya, saya sediakan data primer utuh untuk skripsimu, dan saya bayar honor 5 juta per bulan."

Mendengar nominal lima juta, dada Andin berdenyut kencang. Jumlah uang itu cukup untuk menebus paket obat rutin ibunya sekaligus melunasi tunggakan uang gedung sekolah Dimas tanpa perlu meminjam ke pihak lain.

Dokter Javier mengulurkan tangan kanannya, menempelkan dua jarinya di bawah dagu Andin, lalu mengangkat wajah gadis itu ke atas. Sentuhan kulit jari pria itu terasa kasar dan hangat, membuat tarikan napas Andin tertahan di kerongkongan.

Mendekatkan wajahnya ke telinga Andin, Dokter Javier berbisik dengan nada instruktif. "Tanda tangani kontrak ini besok sore pukul 17.00 WIB di klinik saya, jika kamu memang bersedia!"

Tangan kiri Dokter Javier terulur ke belakang tubuh Andin, memutar gerendel logam hingga mekanisme kunci pintu terbuka.

Mengambil kesempatan tersebut, Andin menekan gagang pintu lalu melangkah keluar menuju lorong berkarpet tebal tanpa menoleh lagi ke belakang. Kedua tangannya mendekap erat map biru tebal berisi lembar kontrak subjek uji klinis seharga Rp5.000.000 per bulan.

Menembus embusan angin malam, Andin berjalan kaki sejauh 200 meter menuju halte bus kota yang mulai lengang.

Andin duduk di bangku semen halte sambil menatap sampul map biru di pangkuannya. Bayangan sentuhan dua jari pria matang itu di bawah dagunya terasa masih membekas di kulit.

Tawaran uang sebesar 5 juta per bulan terus berputar di kepalanya, menuntut keputusan sebelum pukul 17.00 WIB esok sore. Begitu bus terakhir berhenti di hadapannya, gadis itu segera naik dan menatap jalanan aspal ibu kota yang basah oleh sisa hujan.

Setibanya di kamar kos berukuran 3x3 meter di kawasan gang sempit, Andin meletakkan map tebal itu di atas meja belajarnya yang reyot. Gadis itu duduk termenung di tepi kasur lipat, menatap langit-langit tripleks yang berjamur sambil menimbang risiko hukum dan rasa malunya akibat perlakuan Dokter Javier.

Sampai akhirnya, ia terlelap.

***

Keesokan paginya, Andin sudah duduk bersila di lantai semen kamar kosnya.

Kipas pendingin laptop tuanya berputar bising di atas meja rendah, menampilkan dokumen transkrip audio rekaman konseling yang baru terbuka setengah halaman. Upah mengetik audio 30 ribu per jam rekaman baru saja ditransfer pemilik klinik psikologi swasta ke rekeningnya.

Angka pada aplikasi perbankan ponselnya kini hanya menyisakan saldo sebesar 114 ribu.

Tak lama, ponsel murah Andin mendadak bergetar kencang di atas lantai dan terpampang nama bibinya. Andin pun berpikir, cobaan apalagi yang diberikan Tuhan padanya? Kenapa di saat ia bimbang dengan tawaran itu, justru malah muncul masalah lain?

"Andin, pihak apotek rumah sakit mengunci loket obat ibumu!" seru suara bibinya dari ujung panggilan telepon tanpa jeda basa-basi.

Andin menekan pelipisnya seraya mencondongkan badan ke dekat layar laptop. "K-kenapa bisa dikunci, Bi?"

Mendengar pertanyaan itu, bibinya mendengus kesal diiringi suara bising bangsal rawat inap. "Obat suntik pengencer darahnya habis total, dan kalau siang ini uang 2 juta tidak ditransfer, perawat menolak mengganti infus ibumu!"

Andin memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas pinggiran kaus oblongnya yang kusam. "I-iya, Bi... nanti Andin kirim uangnya, Andin usahakan cari pinjaman sekarang."

Sambungan telepon terputus sepihak dari seberang.

Selang 2 detik kemudian, layar ponselnya menyala kembali menampilkan notifikasi pesan masuk dari nomor adiknya, Dimas.

Sebuah foto surat peringatan bertanda tangan kepala sekolah terbuka di layar, menegaskan bahwa tenggat pelunasan uang gedung sekolah 1.5 juta, berakhir hari Selasa depan. Jika tunggakan tersebut gagal diselesaikan, Dimas dilarang mengikuti ujian akhir semester.

Andin menarik laci meja belajarnya yang macet. Di dalam kotak kayu kecil itu, tergeletak selembar surat bukti gadai cincin kawin emas milik almarhum ayahnya. Nilai taksiran cincin tersebut sudah mentok di angka sejuta, dan masa perpanjangan bunganya habis pekan ini.

Himpitan kemiskinan mengepung ruang gerak Andin dari segala penjuru.

Dirinya dibesarkan sebagai perempuan terhormat yang selalu menjaga batas kehormatan diri, terbukti dari sikap kaku yang membuatnya ditinggalkan sang mantan tunangan 2 tahun lalu. Kenyataan pahit di depan mata memaksa harga dirinya berlutut di hadapan lembar kontrak observasi seksual Dokter Javier.

Tuhan, kenapa hidup ini begitu berat? Dan apa memang Dokter Javier datang untuk memberiku jalan keluar?

Ratapan Andin akhirnya berhenti, karena ia harus mandi dan berangkat ke kampus.

Pukul 13.00 WIB, Andin sudah berdiri di lantai 2 gedung fakultas psikologi. Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu kayu bertuliskan nama dosen pembimbing skripsinya.

Di dalam ruangan berpendingin udara itu, Bu Ratna duduk di balik meja kerja kayu jati yang dipenuhi tumpukan berkas proposal. Perempuan berusia 42 tahun itu menjabat sebagai anggota dewan komite etik kampus sekaligus dosen senior yang terkenal paling keras menguji mahasiswanya.

Kacamata berbingkai emas bertengger di pangkal hidungnya, membingkai sepasang mata tajam yang sedang membaca draf bab 4 skripsi milik Andin.

Bu Ratna melempar bundel kertas skripsi itu ke atas meja hingga beberapa lembarnya terlepas dan jatuh berhamburan di lantai marmer. Spidol merah di tangan kanannya menorehkan coretan silang tebal di lembar metodologi penelitian.

"Tulisan sampah macam apa ini?!" semprot Bu Ratna dengan intonasi tinggi yang memenuhi ruangan kerja pribadinya.

Andin langsung berjongkok di lantai, memunguti kertas-kertasnya yang berserakan dengan jemari gemetar. "Sa-saya menyusun instrumen itu berdasarkan rujukan jurnal ilmiah internasional terakreditasi, Bu..."

Mendengar pembelaan mahasiswinya, Bu Ratna mendengus sinis seraya menyandarkan punggung ke kursi putar kulitnya. "Jurnal teori tidak laku di meja sidang dewan penguji! Kamu ini perempuan lajang yang belum pernah disentuh laki-laki, lalu berani mengajukan panduan kalibrasi keintiman fisik untuk pengantin baru?"

Andin merapikan tumpukan kertas di dekapannya seraya bangkit berdiri pelan. "Sa-saya menguasai konsep psikologisnya, Bu Ratna..."

"Teorimu kosong melompong tanpa validitas lapangan!" bentak Bu Ratna seraya mengetukkan ujung spidol merah ke atas meja.

"Saya anggota dewan etik klinis, dan saya paham betul cara menguji data sensitif semacam ini. Kalau proposalmu mau saya tanda tangani minggu ini, gunakan modul privat milik Dokter Javier di klinik Jalan Senopati untuk mengambil data primer!"

Andin mematung di depan meja kerja sang dosen. "D-Dokter Javier Wardhana, Bu?"

Mata Bu Ratna seketika membelalak lebar, lalu tubuh wanita berumur 42 tahun itu menegak kaku dengan sorot mata curiga. "An-Andin… Da-dari mana kamu tahu nama lengkap dia? Kamu pernah bertemu dengannya?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 18 Ja-jangan Berhenti

    Andin refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangan."Tangannya turun. Saya butuh kamu menjawab, dan jawabanmu harus terekam," ucap Javier sambil menunggu.Andin menurunkan kedua tangannya ke sisi matras. Jemarinya langsung mencengkeram kain putih di bawahnya."Satu instruksi tambahan. Tiap kali saya tanya, kamu sebutkan skala rasanya dari satu sampai sepuluh. Satu artinya hampir tidak terasa, sepuluh artinya kamu tidak sanggup menahan," terang Javier dengan suara pelan dan jelas."I-iya, Dok. Satu sampai sepuluh," ulang Andin."Jawab dengan suara jelas supaya kamera bisa merekamnya. Kalau kamu mau berhenti, bilang berhenti. Saya langsung berhenti.""Iya, Dok. Saya mengerti."Telapak tangan kanan Javier mendarat di lutut kiri Andin. Tangannya hangat, jauh lebih hangat daripada udara pendingin ruangan.Dari lutut, telapak itu turun pelan menyusuri paha bagian dalam. Javier bergerak sangat lambat, sampai Andin bisa merasakan tiap sentimeter kulitnya yang dilewati jemari pria itu."Paha

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 17 Buka Lututmu!

    "A-aku beneran pergi kayak gini? Kalau angkotnya ngerem mendadak terus rokku kesingkap, gimana?"Sepanjang jalan ke Jalan Senopati, Andin duduk dengan kedua lutut dirapatkan. Tiap kali angkot melewati polisi tidur, dia menahan ujung roknya dengan dua tangan. Wajahnya terasa panas, padahal penumpang lain sibuk dengan ponsel masing-masing.Andin berdiri di depan pintu ruang 01, lalu mengetuknya dua kali.Pintu itu terbuka. Javier berdiri di ambang pintu dengan lengan kemeja hitam yang sudah digulung sampai siku. Pria itu melirik rok span Andin sebentar, lalu kembali menatap matanya."Kamu ikuti instruksi saya?" tanya Javier dengan suara datar.Andin menunduk, lalu mengangguk pelan. Begitu ingat Javier tidak pernah menghitung anggukan, dia buru-buru menjawab dengan suara kecil. "I-iya, Dok."Javier menyingkir dari ambang pintu supaya Andin bisa masuk. Sesudah Andin melewatinya, pria itu memutar gerendel pintu dua kali.Lampu merah kecil di kamera plafon sudah menyala. Matras hitam di ten

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 16 Datang Tanpa Dalaman?

    Belum sempat Andin memikirkan jawabannya, pintu kamarnya diketuk tiga kali dari luar."Din! Kamu masih hidup, kan?" teriak Lina dari lorong.Andin buru-buru membalik ponselnya dan menutup laptop. Setelah itu, dia membuka pintu. Lina sudah berdiri di depan kamar sambil membawa panci kecil berisi mi rebus yang masih panas.Lina adalah teman sekos Andin, mahasiswi Desain Komunikasi Visual yang kamarnya persis di sebelah. Tiap malam gadis itu sibuk mengerjakan tugas akhir, dan tiap kali buntu, dia pasti memasak mi."Aku masak dua bungkus, tapi ternyata perutku cuma muat satu. Bantuin habisin, ya!" pinta Lina sambil mengangkat pancinya.Andin tidak menolak. Sejak pagi, perutnya baru terisi separuh mangkuk sup.Mereka duduk bersila di lantai lorong depan kamar. Lina menaruh panci di tengah, lalu menyerahkan satu garpu plastik ke tangan Andin."Semalem kamu nggak pulang. Mbak Wiwid sampai nanya ke aku, loh," ucap Lina sambil meniup mi di garpunya."Nginep di rumah temen, Lin. Ngerjain skrips

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 15 Bareng Dokter 

    Andin melepas tali tasnya lagi, lalu membungkuk ke arah celah laci tanpa berani menyentuh gagangnya. Di layar yang masih terkunci itu, pratinjau pesan terbaca jelas dari kontak bernama "Bu Ratna Psikologi".Saat dibaca, isinya hanya sebuah pesan. ‘Foto dan scan buku nikahnya sudah saya terima, simpan file aslinya, dan jangan dihapus sampai saya minta.’Ujung jari Andin mendadak dingin. Artinya, foto dirinya yang digandeng masuk ke tangga privat klinik sekaligus salinan buku nikah palsu itu sudah berpindah ke tangan dosen pembimbingnya sendiri."Sidangnya kan besok pagi. Kalau buktinya sudah cukup, ke-kenapa Bu Ratna masih butuh file aslinya disimpan? Buat apa lagi fotoku itu?"Belum sempat pertanyaan itu terjawab, bunyi langkah kaki terdengar dari ta

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 14 Ja-jangan Berhentii

    Mata Andin bertahan di mata Javier selama lima detik pertama. Begitu ibu jari pria itu menyentuh garis bawah bukit kenyal di sisi kanan, kelopak mata Andin jatuh menutup dan dagunya turun ke dada.Tangan Javier berhenti lagi, sebelum sesi 2 puncak ketika jemarinya menyentuh pucuk milik Andin."Ke-kenapa, Dok?" tanya Andin sambil membuka mata, bingung dengan tangan yang mendadak diam."Kamu menunduk. Angkat wajahmu, lalu kita ulang dari bahu!" jawab Dokter Javier tanpa menggerakkan jemarinya.Kedua telapak itu kembali ke bahu Andin, mengulangi jalur yang sama, lebih lambat lagi.Percobaan kedua bertahan lebih lama. Telapak tangan Javier menangkup penuh, memberi tekanan yang diatur, sedangkan ibu jarinya memutar satu lingkaran

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 13 Kamu Harus Bisa Nahann

    Andin mengapitkan kedua lututnya rapat-rapat mendengar pujian itu. Selama bersama Bagas, tak ada satupun pujian tulus dari mulutnya. Hanya ada cemoohan bahwa Andin terlalu kaku dan tidak layak menjadi seorang istri. Dingin, juga hambar, tak selayaknya perempuan yang memang mendahulukan perasaan.Tapi kali ini, rasanya jauh berbeda, bahkan hanya dengan pujian itu, bulu kuduk Andin meremang."Do-Dok..." panggil Andin dengan suara yang tersangkut di tenggorokan.Dokter Javier yang sadar bahwa Andin merespon nafasnya barusan, buru-buru menarik tangan gadis itu, lalu mengajaknya duduk. Javier kemudian menyandarkan kepala Andin di tepian ranjang.Andin pun duduk, memeluk lututnya, sedangkan napasnya justru memburu lebih cepat daripada waktu tangan pria itu masih menempel.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status