Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!

Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!

last updateLast Updated : 2026-09-11
By:  NFLusicaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Andin, seorang mahasiswi yang terancam beasiswanya dicabut akibat tidak mendapat sumber primer berupa resepsi sensorik gairah, akhirnya bertemu dr. Javier Wardhana, Author tunggal dari modul keintiman klinis yang menjadi sumber primer skripsi Andin, sekaligus statusnya masih dibekukan karena kurang prasyarat 1 subjek. Dan... subjek itu adalah Andin, gadis yang tak pernah disentuh siapapun dan tak pernah memiliki riwayat seksual sama sekali. "Aku beri uang dan bantu skripsiku, tapi bantu aku praktik, menggunakan tubuhmu!"

View More

Chapter 1

1. Kamu Tidak Pernah Disentuh, Kan?

"Pasangan nomor registrasi 019, Saudari Andin Paramita dan Saudara Bagas Mahendra," panggil Dokter Javier lewat mikrofon.

Andin yang tidak tahu bahwa namanya dipanggil, seketika melihat ke arah Bagas, pria yang ia sewa untuk jadi peran suami.

Sebagai juru ketik transkrip paruh waktu untuk konseling rumah tangga swasta, Andin terbiasa mendengarkan rekaman audio orang asing yang menangis mengadukan persoalan ranjang mereka. Gadis itu mengetik ratusan keluhan tentang keintiman yang hancur huruf demi huruf tanpa pernah memahaminya sendiri.

Lewat rekaman audio itulah Andin pertama kali mendengar reputasi Dokter Javier sebagai pakar keintiman klinis dan dosen pembimbingnya meminta Andin untuk mencari materi dari dokter itu.

Ia sebenarnya nekat menyusup ke seminar pranikah berbiaya 1.5 juta ini demi satu tujuan penting, yaitu mengambil data primer interaksi fisik pasangan untuk skripsinya yang terancam gugur sekaligus agar beasiswanya tidak dicabut.

"Gila kamu, Din! Perjanjiannya kita cuma duduk diam di barisan belakang sampai acara selesai, tanpa perlu maju ke depan begini!"

Andin menahan pergelangan tangan Bagas sebelum pemuda itu sempat bangkit dari kursinya. "B-Bagas, tolong... cuma lima menit di panggung untuk tanda tangan lembar evaluasi skripsiku."

Dua tahun lalu, Bagas membatalkan pertunangan mereka secara sepihak dengan satu alasan yang terus membekas di kepala Andin, yaitu mencintai sosok perempuan yang hambar dan tidak tahu bagaimana mengungkap perasaan.

"Batalkan sekarang! Aku menolak namaku masuk catatan klinik, lalu masuk rekam medis resmi!" Bagas menyentak tangannya hingga pegangan jemari Andin terlepas, melempar tali tanda pengenal peserta ke pangkuan gadis itu, lalu merenggut amplop honor di sela jarinya.

Tindakan kasar pemuda itu memancing perhatian beberapa pasangan di barisan depan.

Seorang wanita bergaun satin merah memutar kepalanya, mengamati keributan di sudut belakang dengan dahi berkerut sinis. Pria di sebelahnya turut menoleh, lalu membisikkan cibiran sambil memandang rendah ke arah kursi nomor 019.

Tatapan meremehkan dari puluhan orang berharta itu menghujam tepat ke arah Andin yang duduk membeku.

Bagas mengabaikan dengung bisik-bisik di sekitarnya. Pemuda itu membalikkan badan, melangkah tergesa-gesa menyusuri karpet lorong, lalu menerobos keluar lewat pintu darurat auditorium. Pintu besi berat itu menutup rapat dengan debuman keras, meninggalkan Andin duduk seorang diri di barisan belakang.

Seluruh peserta seminar kini memusatkan pandangan ke arah Andin yang tertinggal sendirian di kursinya.

Andin hanya bisa terpaku, mengingat kegagalan membawa pulang lembar evaluasi bertanda resmi Dokter Javier, bakal membuat hak sidangnya hangus serta beasiswa penuhnya dicabut di akhir semester.

Kondisi ekonomi keluarganya tidak memberi ruang sedikitpun untuk mundur.

Ibunya terbaring stroke di rumah sakit daerah sejak 9 bulan lalu dengan biaya perawat harian dan obat pengencer darah yang selalu jatuh tempo tiap tanggal 5 tanpa toleransi keterlambatan dari pihak administrasi.

Beban berat tersebut diperparah oleh nasib adik laki-lakinya yang duduk di bangku kelas 2 SMA. Remaja itu terancam dilarang mengikuti ujian kenaikan kelas akibat tunggakan uang gedung sekolah yang belum terbayar sepeser pun.

Lantaran himpitan ekonomi yang menuntut jalan pintas, Andin nekat membayar Bagas sebesar 500 ribu siang tadi. Uang sewa itu diserahkan demi meminjam kartu identitas Bagas dan memalsukan stempel buku nikah agar lolos seleksi pendaftaran kelas pasangan sah ini.

Andin menarik napas panjang untuk meredakan getaran di kedua lututnya.

Menolak panggilan terbuka itu berarti membongkar kepalsuan dokumennya di hadapan puluhan peserta seminar, sedangkan melangkah maju berarti menyerahkan diri ke hadapan pria matang di atas panggung.

Andin bangkit berdiri, merapikan lipatan rok span hitamnya yang kusut, lalu melangkah menuruni undakan karpet merah menuju bibir panggung.

Dokter Javier meletakkan mikrofon di atas meja kaca, lalu turun satu anak tangga untuk memangkas jarak. Pria matang itu berdiri kokoh menatap lurus ke arah Andin. Jarak mereka terpangkas menjadi 1 jengkal.

"Di mana suamimu, Nona Andin?" tanya Dokter Javier dengan suara sangat rendah yang terkurung rapat di antara mereka berdua saja.

Andin menundukkan kepala, menghindari tatapan mata pria di hadapannya sambil memandang ujung sepatu kulit yang berkilat bersih. "Su-suami saya... mendadak ada urusan darurat ke luar kota, Dok."

"Urusan darurat, atau kalian memang pasangan palsu yang bahkan belum pernah tidur satu ranjang?" Dokter Javier menarik map berkas batik dari dekapan Andin dengan gerakan dingin yang tak terbantahkan.

Mendengar tuduhan telak itu, Andin mendongak seraya menahan napas di tenggorokan. "M-maksud Dokter apa? Sa-saya sudah membayar penuh biaya administrasi seminar ini!"

Dokter Javier melangkah maju, lalu telapak tangan kanannya langsung melingkari pinggang kiri Andin, mengunci postur tubuh gadis itu di tempatnya. Bersamaan dengan itu, jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menekan arteri karotis di sisi leher kiri Andin, tepat di bawah sudut rahang.

Napas Andin seketika tersangkut di dada. Seluruh otot tubuhnya mengeras kaku, menolak tumpuan tangan kokoh yang mengurung pinggangnya.

Sambil mengunci pinggang Andin dengan telapak tangannya, Dokter Javier memproyeksikan suara ke seisi auditorium. "Perhatikan respons somatiknya, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak sekalian. Detak nadi arteri melonjak melewati 120 ketukan per menit dan otot panggul mengunci rapat. Ini adalah reaksi murni dari seorang wanita yang belum pernah merasakan gejolak gairah, bahkan tak pernah disentuh oleh suaminya."

Auditorium hotel seketika hening selama 2 detik sebelum bisik-bisik tajam mulai merambat dari barisan depan ke belakang.

Rasa malu membakar wajah Andin di bawah sorotan lampu peraga panggung. Pipi dan daun telinganya memerah padam. Seluruh harga dirinya runtuh karena dihakimi di depan puluhan pasang mata asing, tetapi kekuatan tangan Javier di pinggangnya menahan gadis itu tetap tegak di anak tangga panggung.

Andin mencoba menarik pinggulnya ke belakang seraya menggigit bibir bawah yang bergetar hebat. "T-tolong... l-lepaskan saya, Dok... j-jangan permalukan saya di depan umum begini."

Cengkeraman telapak tangan Dokter Javier di pinggang Andin justru menekan semakin rapat. Pria itu sedikit memiringkan kepala, mendekatkan bibirnya tepat di sisi leher Andin yang dingin oleh peluh ketakutan. Hembusan napas hangat sang dokter menyapu helaian anak rambut di pelipisnya.

"Selesaikan seminar ini, lalu datang ke kamar observasi 508 jam 9 malam nanti, Jika kamu tidak mau, berkas palsumu kuserahkan ke meja polisi."

Seusai mendesiskan ancaman itu, Dokter Javier menarik kedua tangannya dari tubuh Andin dalam satu gerakan tegas.

Kehilangan tumpuan mendadak membuat lutut Andin lemas hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Jemarinya mencengkeram tepi meja kaca peraga agar tidak jatuh tersungkur di lantai panggung.

Sementara itu, Dokter Javier sudah kembali berdiri tegak di balik mimbar kaca, meraih mikrofon, dan melanjutkan materi modul seolah tidak ada peristiwa pribadi yang baru saja terjadi di sudut panggung.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status