Sanjaya tidak memedulikan luka-lukanya yang belum sembuh. Setelah menyerahkan urusan kediaman secara singkat, dia membawa Fikri dan beberapa orang kepercayaannya, lalu bergegas menuju Jinggara.Selama tiga hari tiga malam, dia tidak tidur maupun beristirahat. Tiga ekor kuda terbaiknya bahkan mati karena dipacu tanpa henti.Setibanya di Sandam, Sanjaya tampak kurus dan lesu. Matanya cekung, bibirnya pecah-pecah hingga berdarah. Hanya sepasang matanya yang masih tampak begitu terang dan mengerikan, dengan obsesi yang membara di dalamnya.Sambil membawa gambar Inara, dia bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya, "Apa kalian pernah melihat perempuan ini?"Ketika anak buahnya akhirnya membawa kabar pasti, Sanjaya sedang bersandar di dinding dingin sebuah penginapan sambil terengah-engah."Tuan, kami sudah menemukannya. Nona Inara tiba di Sandam sepuluh hari lalu dan sekarang tinggal di Paviliun Teduh, di sebelah barat kota. Itu adalah kediaman Keluarga Jagapadi, keluarga terkaya di Jing
Read more