Pertanyaan Inara membuat hati Sanjaya bergetar. Dia buru-buru berkata, "Bukan mengorbankanmu! Ini ... ini cuma untuk sementara! Pertiwi benar-benar nggak akan sanggup menanggungnya!""Inara, kamu lebih kuat darinya. Kamu pasti bisa melewatinya. Setelah semuanya selesai, aku pasti akan menebusnya dan memperlakukanmu lebih baik. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuberikan."Inara menatap Sanjaya yang sibuk membela diri. Tiba-tiba, dia merasa begitu lelah sekaligus begitu konyol."Kalau bukan pengorbanan, lalu apa namanya?" tanyanya pelan, seolah sedang bertanya kepada dirinya sendiri. "Sanjaya, aku sudah lima tahun menikah denganmu. Di dalam hatimu ada Pertiwi, aku menerimanya. Kamu mengabaikan dan menelantarkanku demi dia, aku menerimanya.""Kamu menyuruhku menggugurkan anak kita demi dia, aku menerimanya. Kamu memilih meninggalkanku di tepi tebing demi dia, aku juga menerimanya ...."Inara mengangkat kepala dan menatapnya. Kali ini, akhirnya ada gejolak dalam matanya. Kesedihan dan kepu
Baca selengkapnya