Gia terdiam di tempatnya berdiri. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Padahal semalam ia sudah bersumpah tidak akan meminta apa pun lagi."Oh, iya. Maaf," ucap Gia pelan, dan sambungan diputus sepihak oleh Rafa sebelum ia sempat menambahkan apa pun. ‘Kenapa harus minta maaf?’ batinnya. Bahkan untuk bertanya pun ia sudah merasa bersalah.Ia menurunkan ponsel, menatap layar yang gelap. Hanya berselang tiga menit, benda itu bergetar hebat di genggamannya. Nama Rafa kembali tertera. Gia sempat tertegun sebelum mengangkatnya, dengan sisa harapan konyol yang kembali muncul."Halo, Raf?" tanyanya, suaranya serak.Bukan jawaban untuknya yang terdengar. Dari latar suara, samar-samar terdengar suara Renata yang manja. "Kak Rafa, aku bingung banget cara pengajuan cuti darurat ini," rengeknya."Bagian mana yang kamu bingung?" tanya Rafa. Nada suaranya jauh berbeda, sabar dan lembut, tidak ada lagi helaan napas berat."Semuanya," jawab Renata ringkih."Oke. Sekarang buka dokumen halaman perta
آخر تحديث : 2026-09-29 اقرأ المزيد