MasukMalamnya, hujan tipis turun di luar jendela kamar. Gia meringkuk di bawah selimut dengan segelas teh hangat di nakas, sisa rasa pahit obat masih menempel di lidahnya.
Perutnya sudah tak melilit seperti tadi siang, tapi nyeri samar itu masih tertinggal di hatinya. Kamar itu sunyi, hanya diisi suara rintik air dan dengung pendingin ruangan.
Lampu meja berpendar kuning temaram, memantulkan bayangan gorden yang bergoyang tertiup angin dari celah jendela.
Tepat pukul sepuluh, ponsel di atas nakas berdering nyaring. Layarnya menyala terang, menampilkan nama Rafael.
Gia menatap benda itu cukup lama sebelum menggeser tombol hijau. Diam-diam, ada secuil harapan yang ia benci karena masih bisa muncul di kondisi seperti ini.
Mungkin pria itu akhirnya menelepon untuk meminta maaf atas kejadian di rumah sakit tadi siang.
“Di mana?” Suara Rafael terdengar datar di ujung sambungan, tanpa ada rasa bersalah.
“Rumah.”
“Tadi langsung pulang?”
“Ke apotek dulu, tebus obat,” ucap Gia. Ia tadi sempat meminta pada sopir taksi untuk berbelok ke apotek sebelum pulang ke kediamannya sendiri.
Rafa? Sama sekali tidak muncul di hadapannya sekalipun tadi pria itu menjanjikan demikian.
"Begitu? Sekarang sudah diminum obatnya?”
Gia merapatkan selimut ke dadanya. "Sudah."
“Bagus,” balas Rafael cepat, seolah hanya mengatakan sesuatu yang sudah seharusnya. “Nah. Sebenarnya bisa sendiri, kan? Sudah besar, jangan kekanakan. Bersikaplah dewasa.”
Kalimat itu meluncur dari mulut Rafael tanpa beban. Dada Gia serasa dihantam palu tak kasat mata. Bukannya menanyakan kondisinya, pria itu malah menceramahinya soal kedewasaan.
"Dewasa?" ulang Gia pelan, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Iya. jangan cari drama," lanjut Rafael. "Semuanya kamu jadikan alasan buat cari perhatian."
"Raf, tadi siang aku beneran sakit.”
"Iya, iya. Terserah katamu," sahut Rafael tak sabar.
Gia nyaris tertawa. Lucu sekali bagaimana pria itu bisa begitu lancar menggampangkan masalahnya..
Berbeda dengan saat Renata kesulitan.
Ia ingat pagi itu, di hadapannya, Renata datang membawa selembar kertas jadwal penerbangan kepada Rafa.
"Kak Rafa, aku nggak ngerti cara baca roster ini," rengek Renata manja, bibirnya mengerucut dibuat-buat.
Padahal jelas-jelas di sana ada Gia dan staf lain.
Namun, tanpa pikir dua kali, Rafael menghentikan pekerjaannya. Ia mengambil kertas itu, lalu menjelaskan panjang lebar dengan telaten.
Tak cukup sampai di situ.
Rafael mengambil ponselnya, memotret jadwal tersebut, menandai bagian penting dengan bulatan merah, menuliskan instruksi rinci.
Saat juniornya itu pergi, Rafael sempat menelepon Renata selama sepuluh menit penuh demi memastikan juniornya benar-benar paham.
Beberapa rekan yang lewat tersenyum maklum, seolah pemandangan itu sudah biasa. Tak ada yang menoleh pada Gia, yang berdiri kaku di dekat pintu dengan jadwalnya sendiri di tangan.
Perlakuan yang begitu bertolak belakang. Gia, yang sudah bertahun-tahun mendampingi pria itu, harus mencari jalan keluar sendiri atas setiap kesulitannya. Sementara Renata, yang baru saja masuk, mendapat bimbingan penuh tanpa perlu diminta dua kali.
Kesadaran itu menghantam kepala Gia telak.
Selama ini, ia selalu mengira sikap cuek Rafael adalah akibat dari dirinya yang terlalu kekanak-kanakan.
Ternyata, masalahnya bukan pada caranya meminta tolong. Masalahnya adalah ia terus berharap kepada orang yang memang tidak pernah peduli padanya.
Rafael memang tidak pernah peduli. Dan mungkin, selama ini hanya Gia yang terlalu keras memaksakan harapan.
"Gia? Kamu masih dengerin aku nggak?" suara Rafael di seberang telepon memecah lamunannya.
Gia menatap langit-langit kamar. Tetesan hujan di luar terdengar seperti hitungan mundur.
"Dengar," jawab Gia singkat, suaranya datar dan dingin. “Aku mau tidur.”
"Hm, baiklah. Besok jangan bikin ulah lagi, ya. Aku sibuk," tambah Rafael, lalu memutus sambungan telepon begitu saja tanpa menunggu balasan.
***
Pagi itu, Gia berangkat dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Hujan semalam menyisakan udara lembap, aroma tanah basah, dan beberapa genangan kecil di pelataran parkir. Langit masih tampak kelabu.
Gia berhenti sejenak di depan lift. Ia menatap bayangannya sendiri di dinding logam. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya terlihat lebih jernih daripada biasanya.
Sayangnya, kebiasaan selama tiga tahun tidak bisa hilang hanya dalam satu malam.
Di sudut lorong markas Blue Air, Gia menekan layar ponselnya sambil mengernyit. Aturan administrasi baru yang diumumkan pagi itu membuat jadwal penerbangannya berantakan.
Ditambah lagi, bagian mengenai pengecualian ditulis dengan bahasa yang begitu rumit hingga sulit dipahami.
Lorong dipenuhi suara langkah kaki kru dan roda koper yang bergesekan dengan lantai. Dari pantry, aroma kopi sachet sesekali tercium di tengah dinginnya AC.
Gia mengembuskan napas pelan. Tanpa sadar, jarinya sudah membuka kontak Rafa.
Panggilan tersambung setelah dering kedua.
“Raf, aku mau tanya soal prosedur tukar jadwal ini,” kata Gia langsung. “Aku bingung di bagian aturan pengecualiannya.”
Helaan napas berat terdengar dari ujung sana.
Rafa menjawab dengan nada datar. “Gia, kamu ini bodoh ya? Begitu saja nggak bisa paham.”
Hai, pembaca setia kisah Gia-Gara... Semoga sehat selalu,Dengan ini, aku selaku author buku ini, pertama-tama ingin mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya karena harus memberi pengumuman ini...Pengumuman apa hayo? Penasaran nggak?heheDengan berat hati aku umumkan kalau buku ini sedang 'tertahan' (hold) untuk sementara waktu. Karena ada beberapa hal yang masih dalam proses editing.Sementara menunggu buku ini kembali ongoing, teman-teman bisa banget kok mampir di cerita aku yang lain.hehe Maap numpang promo sekalian. ^^Semoga teman-teman pembaca sehat selalu ya, Dan jangan lupa kalau buku ini udah ongoing lagi, kalian harus baca lanjutannya yaak ^^Atas pengertian teman-teman semua, aku ucapkan terima kasih banyak....Salam sayang from Author~Ellailaist~
Mata Gia perlahan terbuka. Langit-langit putih menyambut pandangannya, diiringi aroma antiseptik yang cukup tajam hingga membuat hidungnya sedikit mengernyit.Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu di ruangan itu. Kepalanya masih terasa berat, sementara tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga setelah berdiri terlalu lama.“Akhirnya kamu sadar juga.”Suara bariton itu membuat Gia menoleh ke samping. Matanya seketika membesar ketika mengenali pria yang berdiri di dekat tempat tidurnya.Pria berjas rapi yang tadi pagi bertabrakan dengannya di lobi kedatangan kini mengenakan jas putih. Sebuah stetoskop melingkar di lehernya, sementara papan laporan medis berada di tangannya. Penampilan itu membuat Gia sempat bertanya-tanya apakah ia masih setengah bermimpi.“Anda ... dokter?” tanyanya, masih sulit menyembunyikan keterkejutan.Pria itu tersenyum tipis sembari membetulkan letak stetoskopnya. Pada jas putih yang dikenakannya, sebuah tanda pengenal bertul
Langkah Gia menyusuri koridor terminal bandara semakin cepat. Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, sementara ia harus segera bergabung dengan kru penerbangannya di ruang briefing.Tidurnya yang tidak nyenyak semalam membuat kepalanya terasa berat. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan kelelahan itu. Seragam pramugarinya sudah rapi, topi terpasang sempurna, dan koper kabin kecilnya meluncur mengikuti langkah di atas lantai bandara.Meski berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan, pikirannya masih tertuju pada Audy dan Gara. Sejak malam sebelumnya, ia belum mendapat kesempatan untuk mengetahui perkembangan penyelidikan yang dilakukan Gara. Ia hanya bisa berharap kondisi Audy membaik dan perempuan itu bersedia memberikan keterangan yang dibutuhkan.Gia melirik jam tangannya, lalu memutuskan mengambil jalan pintas melalui lobi kedatangan internasional. Area itu cukup ramai oleh penumpang yang baru keluar dari pemeriksaan imigrasi dan bea cukai. Ia harus berh
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, tetapi Gia belum juga bisa tidur. Ia mondar-mandir di kamar tanpa alas kaki, sesekali berhenti di dekat jendela sebelum kembali berjalan ke sisi tempat tidur.Sejak Gara pergi beberapa jam lalu, pikirannya terus tertuju pada kabar buruk di kantor. Audy ditemukan tidak sadarkan diri setelah diduga keracunan obat, tepat ketika ia hendak memberikan keterangan lebih lanjut perihal penyebaran foto dirinya dan Rafa. Gia tidak tahu bagaimana kondisi perempuan itu sekarang, apalagi apa yang sedang dilakukan Gara untuk menyelidikinya.Ia meraih gelas di meja nakas dan meneguk air yang tersisa. Tenggorokannya terasa kering, sementara rasa cemas membuatnya sulit duduk tenang. Ponselnya tergeletak di samping bantal, tetapi layarnya tetap gelap. Tidak ada pesan dari Gara, bahkan sekadar kabar bahwa keadaan di kantor sudah terkendali.Gia kembali meletakkan gelas, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia baru saja berniat memaksa diri berbaring ketika dering pon
Gara segera mengangkat panggilan tersebut. “Ada perkembangan?”“Kapten, gawat.” Suara Arga terdengar tergesa-gesa. “Audy baru saja ditemukan tidak sadarkan diri di ruang arsip.”Gara menghentikan langkahnya. “Apa maksudmu tidak sadarkan diri? Apa yang terjadi?”“Kami belum tahu pasti bagaimana kejadiannya. Petugas keamanan menemukannya beberapa saat lalu, dan sekarang dia sedang diperiksa oleh dokter klinik perusahaan.”Gara menggenggam ponselnya lebih erat. “Kondisinya bagaimana?”“Dokter menduga dia mengalami keracunan obat, Kapten. Kejadiannya berlangsung tidak lama sebelum dia sempat memberikan keterangan lebih lanjut tentang uang yang diterimanya.”Gia yang berdiri tidak jauh dari Gara langsung menegang. Ia bisa mendengar setiap kata Arga, dan mendadak merasa sulit bernapas lega.Audy adalah satu-satunya orang yang sejauh ini mengakui keterlibatannya dalam penyebaran foto. Jika perempuan itu tidak bisa memberikan keterangan, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk mengetahui s
“Padahal dia bertemu langsung dengan Renata? Bukankah sudah jelas Renata dalangnya?” ucap Gia dengan alis berkerut.“Benar. Tapi dia mengaku Renata hanya menyerahkan amplop dan menyampaikan instruksi singkat. Menurut keterangannya, dia tidak tahu siapa yang sebenarnya berada di balik rencana itu.”Gara menatap angka lantai yang terus berubah, rahangnya mengeras. “Kamu percaya begitu saja?”“Tentu tidak, Kapten. Saya sedang memeriksa rekaman kamera dan riwayat komunikasinya. Masalahnya, Audy punya alasan untuk menutup mulut. Sejak tadi dia terus mengulang bahwa dia tidak akan memberikan keterangan tambahan tanpa didampingi pihak tertentu.”“Pihak tertentu siapa?”“Dia belum menyebutkan namanya. Tapi sebelum pemeriksaan selesai, seseorang dari bagian hukum menghubungi kantor dan meminta agar Audy tidak ditanyai lebih lanjut sampai ada arahan resmi.”Gara terdiam. Permintaan dari bagian hukum bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja, terlebih jika mereka belum mengetahui siapa yang m







