DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!

DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!

last updateÚltima actualización : 2026-09-29
Por:  EllailaistEn curso
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
6Capítulos
29vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Diabaikan oleh mantan yang toxic, Giana Halim memilih memulai hidup baru sebagai pramugari di Atmaja Air. Di sana, ia berurusan dengan Sagara Atmaja, kapten galak yang mendadak memberinya tawaran fantastis demi menghindari perjodohan keluarga. Siapa sangka, kehadiran Gara bukan sekadar kebetulan. Garis takdir masa lalu mempertemukan mereka kembali, mengubah Gara menjadi pelindung terkuatnya dari bayang-bayang masa lalu. Ketika hubungan palsu dan perasaan baru mulai bersatu, mampukah Gia menemukan kebahagiaan sejati di pelukan orang baru yang ditakdirkan untuknya?

Ver más

Capítulo 1

1. Dibilang Merepotkan

“Pasien antrean 13, atas nama Giana Halim.”

Gia mengangkat salah satu tangannya mendengar suara perawat itu, sementara tangannya yang lain menekan perutnya yang terasa seperti diremas dari dalam. Keringat dingin merembes di pelipisnya. 

Dipaksanya diri untuk bangkit perlahan, lalu melangkah menuju meja pendaftaran. 

“Tidak ada pendamping?” tanya perawat di meja pendaftaran. “Kamu harus tebus obat di apotek nanti. Letaknya agak jauh dari sini.”

Gia menggeleng pelan. “Pacar saya akan menyusul setelah ini,” ucapn gadis itu. Ponsel di tangannya tanpa sadar ia cengkeram lebih erat.

Pagi ini, saat Gia terbangun dengan rasa mual dan sensasi terbakar yang aneh di dalam perut, ia sudah langsung menghubungi nomor Rafa, kekasihnya. Seingatnya, pria itu minggu ini tidak ada jadwal penerbangan, jadi seharusnya ada di apartemen. 

Namun, setelah sepuluh kali tidak diangkat, panggilan Gia tetap tidak diangkat.

Pada akhirnya, Gia kemudian menyerah dan memaksakan dirinya sendiri untuk pergi ke klinik setelah mengirimkan satu pesan singkat:

[Rafa, tolong datang ke klinik segera setelah kamu baca pesan ini. Perutku sakit.]

Sayangnya, ketika Gia sudah selesai pemeriksaan, ia tidak melihat pria itu di sana.

Langkahnya sedikit limbung saat menyusuri lorong klinik menuju loket apotek. 

“Di sini kamu rupanya.”

Tiba-tiba Gia mendengar suara familier. Wajahnya penuh harap saat menoleh ke sumber suara, mengira kekasihnya, Rafa, akhirnya datang setelah membaca pesannya.

Namun, harapannya remuk seketika.

Beberapa meter darinya, Rafa berjalan pelan, setengah membungkuk ke arah seorang perempuan berseragam pramugari yang sedang memegangi perutnya. 

Renata Jelita, junior mereka di kabin sekaligus putri sahabat ibu Rafa, meringis kecil sambil bersandar di lengan Rafa dengan mesra. 

Gia melihat Rafa menuntun Renata duduk, lalu membantu Renata minum air mineral sebelum juniornya itu kembali bersandar di lengan Rafa. Tidak cukup sampai di sana, tangan Rafa bergerak mengelus puncak kepala Renata dengan lembut.

Gia menatap adegan itu seolah menonton film romansa yang pemeran prianya sangat perhatian pada sang wanita. Apalagi tatapan lembut itu….

Tiba-tiba pandangan Rafa bergeser, bertemu mata Gia. 

Sorot lembut itu langsung hilang. 

Namun, tak ada raut terkejut, tak ada rasa bersalah. Yang muncul justru kerutan di keningnya, seolah kehadiran Gia adalah gangguan.

"Gia?" Rafa melangkah mendekat, nada suaranya lebih terdengar seperti interogasi ketimbang kekhawatiran. "Ngapain kamu di sini?"

"Aku sakit," jawab Gia, suaranya parau. “Tadi aku menghubungimu, tapi tidak ada jawaban.”

“Lalu kenapa nggak menungguku saja?” balas Rafa. Nada suara pria itu naik sedikit. Gia sempat berpikir pria itu khawatir padanya, tapi detik berikutnya, Rafa melanjutkan, “Atau kamu memang sengaja ke sini sendirian agar rekan-rekan kita berpikir aku nggak perhatian padamu?”

Gia menatap kekasihnya itu dengan wajah pucat. Klinik ini memang terkoneksi langsung dengan Blue Air, maskapai tempat Gia dan Rafa bekerja sebagai pasangan pramugari-pilot selama bertahun-tahun. Letaknya cukup dekat dengan tempat tinggal Gia dan bandara.

Karenanya, Gia langsung datang ke sini begitu merasa sakit tadi.

Sama sekal tidak seperti yang dituduhkan Rafa padanya.

Baru saja, Gia hendak menyanggah, sebuah suara menyela, “Kak Rafa, Kak Gia, jangan bertengkar.”

Renata menyusul berdiri di belakang Rafa, meremas ujung roknya sendiri. Wajahnya yang polos dengan sengaja dibuat sememelas mungkin. 

"Maaf, Kak Gia. Karena aku, Kak Rafa jadi nggak bisa tahu kalau Kakak sedang sakit,” ucap Renata lirih. Ujung bibirnya berkedut pelan, seperti ingin tersenyum, tapi ditahan. “Tadi aku yang minta ditemani, soalnya sakit haidnya beneran nggak ketahan. Tolong jangan marah…."

Gia menatap juniornya itu. “Bukannya kamu ada keluarga di sini?” tanyanya. “Kenapa tidak menghubungi keluargamu?”

Mendengar itu, sepasang mata Renata langsung berkaca-kaca. “A-aku … keluargaku….”

“Sudahlah, Gia! Jangan kekanakan!” tukas Rafa. Ia mencengkeram pergelangan tangan Gia dan menarik gadis itu agar mengikutinya. 

“Rafa–”

“Pulang! Kupanggilkan taksi.” Rafa berucap tanpa bisa dibantah. Tubuh lemah Gia tak punya pilihan lain selain pasrah. 

Pria itu mendorong Gia masuk ke dalam sebuah taksi sembari menyebutkan alamat tempat tinggal Gia pada supir. 

Lalu pada Gia, ia menambahkan, "Pulang dulu, sana. Aku akan ke tempatmu setelah mengantar Renata pulang. Kalau memang kamu masih sakit, aku sendiri yang akan antar kamu periksa.”

Brak! Pintu taksi dibanting hingga tertutup.

“Paling nggak, nanti aku tahu kamu cuma pura-pura atau sakit sungguhan.”

Gia menatap pria itu dari balik kaca mobil. Sepasang matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang menetes.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia diperlakukan seperti ini. Saat ia benar-benar membutuhkan Rafa, pria itu selalu menuduhnya hanya mencari perhatian.

Sungguh ironis. Kepada kekasihnya sendiri, Rafa selalu berkata tajam. Bahkan memikirkan kemungkinan terburuk dari Gia. Namun, kepada junior mereka–Renata–Rafa rela menemani wanita itu periksa dan mengambilkan obat, bahkan memperlakukan wanita itu dengan lembut..

Saat Renata merintih, Rafa rela membatalkan seluruh jadwalnya, bahkan hari jadi mereka berdua pernah ia korbankan demi ‘tanggung jawab’ menjaga anak sahabat ibunya.

Orang yang tidak tahu pasti akan mengira Renata adalah kekasihnya, bukan Gia.

Giana Halim menghela napas. 

Dulu, Gia pasti sudah menangis di tempat, meminta maaf, lalu melakukan apa pun hingga pria itu mau bersikap sedikit manis padanya.

Tapi kali ini matanya terasa kering, hatinya sudah mati rasa. 

Ia menyalakan ponselnya, lalu melirik email lamaran kerja yang belum jadi ia kirim beberapa hari ini.

“Sepertinya memang lebih baik pergi,” gumam Gia. Ia memejamkan matanya. “Kalau sudah tidak bisa, buat apa dipaksakan?”

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
6 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status