INICIAR SESIÓNDiabaikan oleh mantan yang toxic, Giana Halim memilih memulai hidup baru sebagai pramugari di Atmaja Air. Di sana, ia berurusan dengan Sagara Atmaja, kapten galak yang mendadak memberinya tawaran fantastis demi menghindari perjodohan keluarga. Siapa sangka, kehadiran Gara bukan sekadar kebetulan. Garis takdir masa lalu mempertemukan mereka kembali, mengubah Gara menjadi pelindung terkuatnya dari bayang-bayang masa lalu. Ketika hubungan palsu dan perasaan baru mulai bersatu, mampukah Gia menemukan kebahagiaan sejati di pelukan orang baru yang ditakdirkan untuknya?
Ver más“Pasien antrean 13, atas nama Giana Halim.”
Gia mengangkat salah satu tangannya mendengar suara perawat itu, sementara tangannya yang lain menekan perutnya yang terasa seperti diremas dari dalam. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
Dipaksanya diri untuk bangkit perlahan, lalu melangkah menuju meja pendaftaran.
“Tidak ada pendamping?” tanya perawat di meja pendaftaran. “Kamu harus tebus obat di apotek nanti. Letaknya agak jauh dari sini.”
Gia menggeleng pelan. “Pacar saya akan menyusul setelah ini,” ucapn gadis itu. Ponsel di tangannya tanpa sadar ia cengkeram lebih erat.
Pagi ini, saat Gia terbangun dengan rasa mual dan sensasi terbakar yang aneh di dalam perut, ia sudah langsung menghubungi nomor Rafa, kekasihnya. Seingatnya, pria itu minggu ini tidak ada jadwal penerbangan, jadi seharusnya ada di apartemen.
Namun, setelah sepuluh kali tidak diangkat, panggilan Gia tetap tidak diangkat.
Pada akhirnya, Gia kemudian menyerah dan memaksakan dirinya sendiri untuk pergi ke klinik setelah mengirimkan satu pesan singkat:
[Rafa, tolong datang ke klinik segera setelah kamu baca pesan ini. Perutku sakit.]
Sayangnya, ketika Gia sudah selesai pemeriksaan, ia tidak melihat pria itu di sana.
Langkahnya sedikit limbung saat menyusuri lorong klinik menuju loket apotek.
“Di sini kamu rupanya.”
Tiba-tiba Gia mendengar suara familier. Wajahnya penuh harap saat menoleh ke sumber suara, mengira kekasihnya, Rafa, akhirnya datang setelah membaca pesannya.
Namun, harapannya remuk seketika.
Beberapa meter darinya, Rafa berjalan pelan, setengah membungkuk ke arah seorang perempuan berseragam pramugari yang sedang memegangi perutnya.
Renata Jelita, junior mereka di kabin sekaligus putri sahabat ibu Rafa, meringis kecil sambil bersandar di lengan Rafa dengan mesra.
Gia melihat Rafa menuntun Renata duduk, lalu membantu Renata minum air mineral sebelum juniornya itu kembali bersandar di lengan Rafa. Tidak cukup sampai di sana, tangan Rafa bergerak mengelus puncak kepala Renata dengan lembut.
Gia menatap adegan itu seolah menonton film romansa yang pemeran prianya sangat perhatian pada sang wanita. Apalagi tatapan lembut itu….
Tiba-tiba pandangan Rafa bergeser, bertemu mata Gia.
Sorot lembut itu langsung hilang.
Namun, tak ada raut terkejut, tak ada rasa bersalah. Yang muncul justru kerutan di keningnya, seolah kehadiran Gia adalah gangguan.
"Gia?" Rafa melangkah mendekat, nada suaranya lebih terdengar seperti interogasi ketimbang kekhawatiran. "Ngapain kamu di sini?"
"Aku sakit," jawab Gia, suaranya parau. “Tadi aku menghubungimu, tapi tidak ada jawaban.”
“Lalu kenapa nggak menungguku saja?” balas Rafa. Nada suara pria itu naik sedikit. Gia sempat berpikir pria itu khawatir padanya, tapi detik berikutnya, Rafa melanjutkan, “Atau kamu memang sengaja ke sini sendirian agar rekan-rekan kita berpikir aku nggak perhatian padamu?”
Gia menatap kekasihnya itu dengan wajah pucat. Klinik ini memang terkoneksi langsung dengan Blue Air, maskapai tempat Gia dan Rafa bekerja sebagai pasangan pramugari-pilot selama bertahun-tahun. Letaknya cukup dekat dengan tempat tinggal Gia dan bandara.
Karenanya, Gia langsung datang ke sini begitu merasa sakit tadi.
Sama sekal tidak seperti yang dituduhkan Rafa padanya.
Baru saja, Gia hendak menyanggah, sebuah suara menyela, “Kak Rafa, Kak Gia, jangan bertengkar.”
Renata menyusul berdiri di belakang Rafa, meremas ujung roknya sendiri. Wajahnya yang polos dengan sengaja dibuat sememelas mungkin.
"Maaf, Kak Gia. Karena aku, Kak Rafa jadi nggak bisa tahu kalau Kakak sedang sakit,” ucap Renata lirih. Ujung bibirnya berkedut pelan, seperti ingin tersenyum, tapi ditahan. “Tadi aku yang minta ditemani, soalnya sakit haidnya beneran nggak ketahan. Tolong jangan marah…."
Gia menatap juniornya itu. “Bukannya kamu ada keluarga di sini?” tanyanya. “Kenapa tidak menghubungi keluargamu?”
Mendengar itu, sepasang mata Renata langsung berkaca-kaca. “A-aku … keluargaku….”
“Sudahlah, Gia! Jangan kekanakan!” tukas Rafa. Ia mencengkeram pergelangan tangan Gia dan menarik gadis itu agar mengikutinya.
“Rafa–”
“Pulang! Kupanggilkan taksi.” Rafa berucap tanpa bisa dibantah. Tubuh lemah Gia tak punya pilihan lain selain pasrah.
Pria itu mendorong Gia masuk ke dalam sebuah taksi sembari menyebutkan alamat tempat tinggal Gia pada supir.
Lalu pada Gia, ia menambahkan, "Pulang dulu, sana. Aku akan ke tempatmu setelah mengantar Renata pulang. Kalau memang kamu masih sakit, aku sendiri yang akan antar kamu periksa.”
Brak! Pintu taksi dibanting hingga tertutup.
“Paling nggak, nanti aku tahu kamu cuma pura-pura atau sakit sungguhan.”
Gia menatap pria itu dari balik kaca mobil. Sepasang matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang menetes.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia diperlakukan seperti ini. Saat ia benar-benar membutuhkan Rafa, pria itu selalu menuduhnya hanya mencari perhatian.
Sungguh ironis. Kepada kekasihnya sendiri, Rafa selalu berkata tajam. Bahkan memikirkan kemungkinan terburuk dari Gia. Namun, kepada junior mereka–Renata–Rafa rela menemani wanita itu periksa dan mengambilkan obat, bahkan memperlakukan wanita itu dengan lembut..
Saat Renata merintih, Rafa rela membatalkan seluruh jadwalnya, bahkan hari jadi mereka berdua pernah ia korbankan demi ‘tanggung jawab’ menjaga anak sahabat ibunya.
Orang yang tidak tahu pasti akan mengira Renata adalah kekasihnya, bukan Gia.
Giana Halim menghela napas.
Dulu, Gia pasti sudah menangis di tempat, meminta maaf, lalu melakukan apa pun hingga pria itu mau bersikap sedikit manis padanya.
Tapi kali ini matanya terasa kering, hatinya sudah mati rasa.
Ia menyalakan ponselnya, lalu melirik email lamaran kerja yang belum jadi ia kirim beberapa hari ini.
“Sepertinya memang lebih baik pergi,” gumam Gia. Ia memejamkan matanya. “Kalau sudah tidak bisa, buat apa dipaksakan?”
Seminggu setelah kepergiannya dari Blue Air, Gia masih sering terbangun tengah malam dengan tangan otomatis meraih ponsel, mencari notifikasi dari nama yang sudah tidak lagi ia simpan. Kebiasaan lama memang tidak hilang secepat keputusan yang ia ambil. Tapi setiap pagi, saat ia mengenakan seragam baru berwarna biru tua bergaris emas milik Atmaja Air, ada rasa asing yang perlahan berubah menjadi kebanggaan kecil. Ia memulai dari nol, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, itu murni pilihannya sendiri.Udara pagi di bandara kota barunya terasa lebih tajam, mungkin karena belum terbiasa, atau mungkin karena Gia sendiri yang datang dengan tekad berbeda. Ia berjanji dalam hati, kali ini ia akan membangun kariernya dengan kepala tegak, tanpa perlu lagi menggantungkan harga dirinya pada belas kasihan siapa pun.Namun dunia penerbangan besar seperti Atmaja Air tidak semudah bayangannya.Di ruang briefing, suasana pagi itu terasa lebih tegang dari biasanya. Beberapa senior berbisik-bisi
Keesokan paginya, suasana ruang kru di kantor Blue Air terasa lebih ramai dari biasanya, dipenuhi obrolan pagi sebelum jam briefing dimulai."Untung ada Kak Rafa kemarin waktu aku nyeri haid," suara Renata melengking dari ujung ruang kru, sengaja dikeraskan hingga terdengar sampai ke sudut ruangan. "Serius, dia sabar banget. Nganterin aku sampai apotek, nungguin obatnya, bahkan sampai nemenin aku duduk sambil ngusap punggung karena sakitnya nggak nahan. Baik banget, deh, orangnya."Gia baru saja meletakkan tasnya di loker. Tangannya berhenti sejenak di tengah gerakan menutup pintu logam, jantungnya berdetak lebih keras dari seharusnya untuk sebuah kalimat sesederhana itu.Beberapa rekan kerja tertawa kecil. "Kapten Rafa emang beda kalau soal perhatian sama kru," celetuk salah satu dari mereka, memuji tanpa sadar sedang menyayat.Satu per satu mata mulai melirik ke arah Gia, yang masih berdiri kaku di depan lokernya. Tatapan mereka berubah canggung, campuran rasa kasihan dan rasa pe
Gia masih berdiri kaku di tengah koridor markas, ponsel menempel di telinga, saat suara Rafa kembali menyerbu. "Gia, kamu masih di sana?"Koridor itu sepi, hanya lampu neon yang berdengung pelan di atas kepalanya dan gema langkah kaki dari lantai bawah yang sesekali menembus dinding. Gia menghentikan langkahnya, napasnya memburu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun."Aku nggak baper, Rafa," jawab Gia dingin, suaranya terdengar bergetar meski ia berusaha menahannya."Kamu ini ya, selalu aja memperbesar masalah kecil," potong Rafa dari seberang sana, nadanya jengkel. "Sudahlah, jangan mulai drama lagi. Aku lagi sibuk."Mendengar kalimat itu, pertahanan terakhir dalam diri Gia runtuh seketika. Ia sempat menatap kalender kecil di layar ponselnya sebelum tersambung tadi, tanggal yang sudah ia lingkari sejak sebulan lalu. Hari ini hari jadi hubungan mereka yang ketiga.Gia tidak pernah menuntut hadiah mewah atau makan malam romantis di tempat mahal. Ia hanya berharap Rafa bisa mel
Gia terdiam di tempatnya berdiri. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Padahal semalam ia sudah bersumpah tidak akan meminta apa pun lagi."Oh, iya. Maaf," ucap Gia pelan, dan sambungan diputus sepihak oleh Rafa sebelum ia sempat menambahkan apa pun. ‘Kenapa harus minta maaf?’ batinnya. Bahkan untuk bertanya pun ia sudah merasa bersalah.Ia menurunkan ponsel, menatap layar yang gelap. Hanya berselang tiga menit, benda itu bergetar hebat di genggamannya. Nama Rafa kembali tertera. Gia sempat tertegun sebelum mengangkatnya, dengan sisa harapan konyol yang kembali muncul."Halo, Raf?" tanyanya, suaranya serak.Bukan jawaban untuknya yang terdengar. Dari latar suara, samar-samar terdengar suara Renata yang manja. "Kak Rafa, aku bingung banget cara pengajuan cuti darurat ini," rengeknya."Bagian mana yang kamu bingung?" tanya Rafa. Nada suaranya jauh berbeda, sabar dan lembut, tidak ada lagi helaan napas berat."Semuanya," jawab Renata ringkih."Oke. Sekarang buka dokumen halaman perta












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.