เข้าสู่ระบบKeesokan paginya, suasana ruang kru di kantor Blue Air terasa lebih ramai dari biasanya, dipenuhi obrolan pagi sebelum jam briefing dimulai.
"Untung ada Kak Rafa kemarin waktu aku nyeri haid," suara Renata melengking dari ujung ruang kru, sengaja dikeraskan hingga terdengar sampai ke sudut ruangan.
"Serius, dia sabar banget. Nganterin aku sampai apotek, nungguin obatnya, bahkan sampai nemenin aku duduk sambil ngusap punggung karena sakitnya nggak nahan. Baik banget, deh, orangnya."
Gia baru saja meletakkan tasnya di loker.
Tangannya berhenti sejenak di tengah gerakan menutup pintu logam, jantungnya berdetak lebih keras dari seharusnya untuk sebuah kalimat sesederhana itu.
Beberapa rekan kerja tertawa kecil. "Kapten Rafa emang beda kalau soal perhatian sama kru," celetuk salah satu dari mereka, memuji tanpa sadar sedang menyayat.
Satu per satu mata mulai melirik ke arah Gia, yang masih berdiri kaku di depan lokernya.
Tatapan mereka berubah canggung, campuran rasa kasihan dan rasa penasaran yang tidak nyaman, seperti orang yang menonton kecelakaan dari kejauhan tapi enggan menoleh langsung.
Gia menarik napas panjang, menahan panas yang menjalar di dadanya. Tiga tahun ia habiskan di ruangan ini, membangun karier sekaligus hubungan, dan sekarang harga dirinya diinjak-injak justru di tempat yang dulu ia banggakan.
Ia tidak menoleh. Tidak menanggapi. Hanya menutup loker, mengangkat tasnya, dan berjalan lurus menuju lift, meninggalkan gelak tawa itu menggantung di belakangnya.
Sesampainya di lantai administrasi, langkah Gia justru semakin mantap, seolah setiap sindiran barusan menyalakan sesuatu yang selama ini padam.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan map krem yang selama seminggu terakhir menjadi satu-satunya penopang harapannya.
Staf HRD menyambutnya dengan senyum ramah, sama sekali tidak menyadari betapa besar keputusan yang baru saja diserahkan ke tangannya.
"Efektif kapan, Kak Gia?" tanya staf itu sambil memeriksa berkas.
"Secepatnya," jawab Gia tenang. "Sudah ada yang menerima saya di tempat lain."
Proses administrasi berjalan lebih cepat dari yang ia kira.
Sore harinya semua sudah selesai, dan Gia keluar dari gedung Blue Air dengan langkah ringan, seolah beban yang lama menggantung di pundaknya perlahan menguap ke udara sore yang mulai jingga.
Malamnya, di apartemen yang selama ini ia bagi kenangan dengan Rafa meski secara teknis bukan tinggal serumah, Gia mengeluarkan koper besar dari lemari, membukanya di atas kasur.
Satu per satu pakaiannya ia lipat rapi, dimasukkan tanpa terburu-buru.
Tidak ada isak tangis yang pecah malam itu. Tidak ada dada sesak yang biasanya menyertai setiap keputusan besar dalam hidupnya.
Yang ada justru rasa lega yang aneh, seperti akhirnya bisa bernapas setelah lama menahan napas di dalam air.
Gia memandangi kamar itu sekali lagi. Semua momen yang dulu terasa berharga kini hanya menyisakan rasa hampa yang menenangkan. Rantai ketergantungan yang selama ini mengikatnya pada Rafa, akhirnya ia putus sendiri, tanpa perlu menunggu persetujuan siapa pun.
Ia menutup koper itu pelan-pelan, menarik retsletingnya sampai ujung.
"Selesai," gumamnya sendirian di kamar yang mulai terasa asing.
Pagi berikutnya, matahari baru saja menyapa langit ketika Gia menyusun kartu akses kantor Blue Air di atas meja kerjanya yang sudah kosong, bersanding rapi dengan selembar surat pengunduran diri yang sudah ia tanda tangani sejak kemarin. Ruangan itu sepi, hanya suara AC yang berdengung pelan, menemani langkah terakhirnya di sana.
Ia berdiri sejenak di ambang pintu, menatap meja kerja yang dulu penuh sticky note dan foto-foto kecil, kini polos tanpa jejak apa pun. Tidak ada yang perlu ia bawa dari sini selain kenangan yang sudah ia putuskan untuk tinggalkan.
Gia menarik koper besar keluar dari apartemen yang selama ini terasa seperti sangkar berhias, bukan rumah singgah yang nyaman. Di dalam tasnya, ponsel terus bergetar tanpa henti, deretan panggilan tak terjawab dari nama yang sama.
Rafa.
Gia melirik layar itu sekilas. Nama itu memanggil untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya pula ia membiarkannya berdering sampai habis sendiri.
"Maaf, Raf," bisiknya pelan, entah pada siapa. "Kali ini aku nggak akan nunggu kamu jemput."
Tanpa ragu, ia mematikan kartu SIM lamanya, menggantinya dengan yang baru yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari lalu. Kartu lama itu ia selipkan ke saku kecil di dalam dompet, bukan untuk dipakai lagi, hanya sebagai pengingat betapa jauh ia sudah melangkah.
Ia menyeret koper besar itu menuruni tangga apartemen, melewati lobi yang masih sepi di jam sepagi ini, lalu melangkah keluar menyongsong pagi yang asing namun terasa lebih jujur dari hari-hari sebelumnya.
Rafa belum tahu apa-apa.
Di seberang kota, di sebuah apartemen lain, ponsel Rafa masih terus berdering ke nomor yang sudah tidak aktif, tanpa satu pun jawaban.
Dan ketika pria itu akhirnya menyadari semuanya, Gia mungkin sudah berada jauh di luar jangkauannya.
Sisa penerbangan berjalan seperti biasa, penuh dengan rutinitas yang membuat Gia sedikit lupa pada kegelisahannya soal tawaran Gara. Kini, saat pesawat sudah melewati separuh perjalanan, lampu kabin diredupkan, dan sebagian besar penumpang memilih tidur atau menikmati film di layar kursi masing-masing. Suasana terasa tenang, hanya diselingi dengungan mesin pesawat dan sesekali suara pengumuman singkat dari kru.Gia mendorong troli makanan perlahan menyusuri lorong sempit, ditemani seorang rekan seniornya yang sibuk membagikan camilan ringan pada penumpang yang masih terjaga. Pikirannya sesekali melayang ke ponsel di saku seragam, masih menyimpan pesan yang belum ia balas, sebelum akhirnya kembali fokus pada pekerjaan di hadapannya.Tiba-tiba, seorang penumpang pria di kursi kelas bisnis bagian depan menggebrak meja lipatnya dengan kasar, membuat beberapa penumpang di sekitarnya tersentak dan menoleh. Pria itu berbadan besar, napasnya menyeruakkan bau alkohol yang menyengat hingga
Sepuluh menit yang diberikan Gara terasa seperti waktu tersingkat dalam hidup Gia. Ia duduk di sudut ruang briefing, mata menyusuri ulang setiap baris prosedur darurat yang tadi ditunjuk dengan jari Sagara, sambil sesekali melirik ponsel yang masih menampilkan pesan penawaran fantastis itu.Dua ratus juta rupiah. Angka itu terus berputar di kepalanya, bersaing dengan hafalan prosedur evakuasi yang harus ia kuasai sebelum penerbangan pagi ini dimulai. Uang sebanyak itu bisa langsung melunasi deposit apartemen barunya secara penuh, membuatnya benar-benar lepas dari segala hal yang masih berbau Rafa. Tapi ada satu pertanyaan yang terus mengganjal, kenapa harus dia? Baru sehari kerja, belum genap dikenal siapa pun di sini, kenapa kapten paling disiplin dan paling menakutkan seantero Atmaja Air justru memilihnya untuk jadi tameng perjodohan keluarganya?Belum sempat ia menemukan jawaban, suara salah satu senior memecah lamunannya."Gia, cepat sedikit. Kru lain udah mulai jalan ke garba
Seminggu setelah kepergiannya dari Blue Air, Gia masih sering terbangun tengah malam dengan tangan otomatis meraih ponsel, mencari notifikasi dari nama yang sudah tidak lagi ia simpan. Kebiasaan lama memang tidak hilang secepat keputusan yang ia ambil. Tapi setiap pagi, saat ia mengenakan seragam baru berwarna biru tua bergaris emas milik Atmaja Air, ada rasa asing yang perlahan berubah menjadi kebanggaan kecil. Ia memulai dari nol, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, itu murni pilihannya sendiri.Udara pagi di bandara kota barunya terasa lebih tajam, mungkin karena belum terbiasa, atau mungkin karena Gia sendiri yang datang dengan tekad berbeda. Ia berjanji dalam hati, kali ini ia akan membangun kariernya dengan kepala tegak, tanpa perlu lagi menggantungkan harga dirinya pada belas kasihan siapa pun.Namun dunia penerbangan besar seperti Atmaja Air tidak semudah bayangannya.Di ruang briefing, suasana pagi itu terasa lebih tegang dari biasanya. Beberapa senior berbisik-bisi
Keesokan paginya, suasana ruang kru di kantor Blue Air terasa lebih ramai dari biasanya, dipenuhi obrolan pagi sebelum jam briefing dimulai."Untung ada Kak Rafa kemarin waktu aku nyeri haid," suara Renata melengking dari ujung ruang kru, sengaja dikeraskan hingga terdengar sampai ke sudut ruangan. "Serius, dia sabar banget. Nganterin aku sampai apotek, nungguin obatnya, bahkan sampai nemenin aku duduk sambil ngusap punggung karena sakitnya nggak nahan. Baik banget, deh, orangnya."Gia baru saja meletakkan tasnya di loker. Tangannya berhenti sejenak di tengah gerakan menutup pintu logam, jantungnya berdetak lebih keras dari seharusnya untuk sebuah kalimat sesederhana itu.Beberapa rekan kerja tertawa kecil. "Kapten Rafa emang beda kalau soal perhatian sama kru," celetuk salah satu dari mereka, memuji tanpa sadar sedang menyayat.Satu per satu mata mulai melirik ke arah Gia, yang masih berdiri kaku di depan lokernya. Tatapan mereka berubah canggung, campuran rasa kasihan dan rasa pe
Gia masih berdiri kaku di tengah koridor markas, ponsel menempel di telinga, saat suara Rafa kembali menyerbu. "Gia, kamu masih di sana?"Koridor itu sepi, hanya lampu neon yang berdengung pelan di atas kepalanya dan gema langkah kaki dari lantai bawah yang sesekali menembus dinding. Gia menghentikan langkahnya, napasnya memburu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun."Aku nggak baper, Rafa," jawab Gia dingin, suaranya terdengar bergetar meski ia berusaha menahannya."Kamu ini ya, selalu aja memperbesar masalah kecil," potong Rafa dari seberang sana, nadanya jengkel. "Sudahlah, jangan mulai drama lagi. Aku lagi sibuk."Mendengar kalimat itu, pertahanan terakhir dalam diri Gia runtuh seketika. Ia sempat menatap kalender kecil di layar ponselnya sebelum tersambung tadi, tanggal yang sudah ia lingkari sejak sebulan lalu. Hari ini hari jadi hubungan mereka yang ketiga.Gia tidak pernah menuntut hadiah mewah atau makan malam romantis di tempat mahal. Ia hanya berharap Rafa bisa mel
Gia terdiam di tempatnya berdiri. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Padahal semalam ia sudah bersumpah tidak akan meminta apa pun lagi."Oh, iya. Maaf," ucap Gia pelan, dan sambungan diputus sepihak oleh Rafa sebelum ia sempat menambahkan apa pun. ‘Kenapa harus minta maaf?’ batinnya. Bahkan untuk bertanya pun ia sudah merasa bersalah.Ia menurunkan ponsel, menatap layar yang gelap. Hanya berselang tiga menit, benda itu bergetar hebat di genggamannya. Nama Rafa kembali tertera. Gia sempat tertegun sebelum mengangkatnya, dengan sisa harapan konyol yang kembali muncul."Halo, Raf?" tanyanya, suaranya serak.Bukan jawaban untuknya yang terdengar. Dari latar suara, samar-samar terdengar suara Renata yang manja. "Kak Rafa, aku bingung banget cara pengajuan cuti darurat ini," rengeknya."Bagian mana yang kamu bingung?" tanya Rafa. Nada suaranya jauh berbeda, sabar dan lembut, tidak ada lagi helaan napas berat."Semuanya," jawab Renata ringkih."Oke. Sekarang buka dokumen halaman perta







