เข้าสู่ระบบGia masih berdiri kaku di tengah koridor markas, ponsel menempel di telinga, saat suara Rafa kembali menyerbu. "Gia, kamu masih di sana?"
Koridor itu sepi, hanya lampu neon yang berdengung pelan di atas kepalanya dan gema langkah kaki dari lantai bawah yang sesekali menembus dinding.
Gia menghentikan langkahnya, napasnya memburu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Aku nggak baper, Rafa," jawab Gia dingin, suaranya terdengar bergetar meski ia berusaha menahannya.
"Kamu ini ya, selalu aja memperbesar masalah kecil," potong Rafa dari seberang sana, nadanya jengkel. "Sudahlah, jangan mulai drama lagi. Aku lagi sibuk."
Mendengar kalimat itu, pertahanan terakhir dalam diri Gia runtuh seketika.
Ia sempat menatap kalender kecil di layar ponselnya sebelum tersambung tadi, tanggal yang sudah ia lingkari sejak sebulan lalu. Hari ini hari jadi hubungan mereka yang ketiga.
Gia tidak pernah menuntut hadiah mewah atau makan malam romantis di tempat mahal. Ia hanya berharap Rafa bisa meluangkan waktu sebentar saja, pulang lebih awal, duduk berdua sambil makan mi instan sekalipun.
"Raf, hari ini kan anniversary kita," ucap Gia lirih, suaranya parau menahan sesak. "Kamu bisa pulang lebih cepat sebentar aja? Kita nggak perlu pergi ke mana-mana."
Di ujung sambungan, terdengar embusan napas kasar. Rafa mendengus seolah permintaan itu adalah beban terberat di dunia.
"Gia, jangan egois," tukas Rafa tajam, tanpa berpikir dua kali. "Aku nggak bisa pulang cepat. Aku harus nemenin Renata malam ini."
Gia tertegun, matanya memanas. "Kenapa? Tapi hari ini hari anniversary kita, Raf?"
"Karena Renata nggak punya siapa-siapa di kota ini," jawab Rafa enteng, tanpa rasa bersalah. "Dia baru di sini, jadi dia butuh banyak bantuan."
Mendengar alasan itu, dada Gia terasa seperti ditusuk belati. Air matanya akhirnya tumpah, tak bisa lagi ia cegah.
"Aku juga pacarmu, Raf!" ucap Gia setengah putus asa, melupakan rasa malunya di koridor markas yang untungnya masih sepi. "Aku pacarmu yang udah nemenin kamu selama tiga tahun ini!"
Jawaban Rafa meluncur dingin tanpa jeda, menghancurkan sisa pertahanan Gia.
"Justru karena kamu pacarku, kamu seharusnya bisa ngerti," ucapnya dingin. "Kamu udah dewasa, Gia. Jangan bersikap kekanak-kanakan gini."
Kalimat itu berputar keras di kepala Gia seperti rekaman rusak. Selama bertahun-tahun ia terus dipaksa mengerti.
Mengerti kesibukan Rafa. Mengerti urusan pekerjaannya. Mengerti kehadiran Renata. Mengerti semuanya, tanpa pernah sekali pun dipedulikan balik.
Tak pernah ada satu detik dalam hubungan mereka di mana Rafa berusaha mengerti Gia. Seluruh kesabaran yang tersisa habis terkuras hari ini.
"Oh, aku harus ngerti, ya," bisik Gia pelan, suaranya berubah datar dan menakutkan bahkan bagi dirinya sendiri.
"Iya. Belajarlah jadi perempuan yang mandiri dan nggak banyak nuntut," kata Rafa, terdengar puas karena merasa menang.
Gia menyeka air matanya kasar dengan punggung tangan.
Anehnya, tidak ada lagi sisa sakit atau sedih di dadanya. Yang tersisa hanya kekosongan yang perlahan berubah menjadi tekad bulat.
"Baiklah, kalau itu maumu," ucap Gia lirih.
"Apa maksudmu?" tanya Rafa di ujung telepon, mulai merasa ada yang tidak beres dari nada suara Gia.
"Aku nggak akan minta waktumu lagi, Raf," kata Gia tegas. "Aku nggak akan pernah ngerepotin kamu lagi. Selamanya."
"Gia, jangan mulai ngancam-ngan..."
Gia memutus sambungan telepon itu tanpa ragu, sebelum Rafa sempat menyelesaikan kalimatnya.
Ia menekan tombol daya hingga layar gelap total, lalu melempar ponsel itu begitu saja ke dalam tas kerjanya.
Ia berdiri sebentar di tengah koridor yang masih sepi, membiarkan dadanya naik turun mengatur napas.
Lampu neon di atas kepalanya masih berdengung pelan, seolah dunia tidak tahu bahwa satu keputusan besar baru saja diambil di bawahnya.
Malam itu, langit di luar apartemen Gia gelap tanpa bintang, hanya lampu jalan yang berkelip pucat lewat celah gorden yang belum sempat ia tutup.
Ponselnya berdering di atas meja nakas, layar menyala menampilkan nama Rafa. Gia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol jawab.
"Halo," suaranya datar. Berbeda dari biasanya yang manja.
"Kamu udah makan malam belum?" Suara Rafa terdengar formal dan kaku, nyaris seperti sedang menanyakan jadwal penerbangan besok, bukan menanyakan kabar kekasihnya yang tadi siang ia tinggalkan sendirian di rumah sakit.
"Sudah," jawab Gia singkat.
Hening sesaat di ujung telepon. Lalu Rafa berdecak pelan, seolah jawaban satu kata itu adalah pelanggaran.
"Nada bicaramu kenapa begitu?" Suaranya mulai meninggi.
"Kalau kamu terus bersikap dingin dan kekanak-kanakan kayak gini, kapan kamu bisa dewasa, Gia? Aku capek terus-terusan disalahin padahal aku udah kerja keras buat kita berdua."
Gia menatap langit-langit kamarnya, tersenyum hambar sendirian di ruangan yang kosong.
Kerja keras buat kita berdua, katanya. Tapi kenapa yang paling sering ia korbankan justru waktu untuk Gia.
Ia mengingat kembali, berapa kali ia bertanya soal jadwal ganti pesawat lewat pesan singkat, hanya dibalas,
‘Cari tahu sendiri, kan udah kerja lama, masa gitu aja nggak paham.’ Sementara Renata, yang baru dua bulan bergabung, bisa mendapat penjelasan panjang lebar dari Rafa, lengkap dengan capture layar dan tanda panah penjelas, dikirim sabar satu per satu meski sudah larut malam.
Ini bukan lagi hubungan yang setara. Ini penjajahan berkedok tuntutan kedewasaan, dan Gia baru menyadarinya setelah tiga tahun.
"Aku ngantuk, Raf. Aku mau tidur," ucap Gia, lalu menjauhkan ponselnya hendak menutup pembicaraan.
“Gia… jangan bohong.” sergah Rafa cepat yang masih dapat didengar Gia. “Kita belum selesai bicara. Kita selesaikan masalah ini sekarang.”
“Kapten Rafael, aku beneran ngantuk, mungkin efek obat. Jadi aku mau tidur cepat. Kalau mau ceramah, lain kali saja.”
Klik.
Gia segera menekan tombol tutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Rafa. Rasanya hatinya masih sesak mengingat perlakuan Rafa padanya yang sangat kontras dengan perlakkuannya pada Renata.
Sisa penerbangan berjalan seperti biasa, penuh dengan rutinitas yang membuat Gia sedikit lupa pada kegelisahannya soal tawaran Gara. Kini, saat pesawat sudah melewati separuh perjalanan, lampu kabin diredupkan, dan sebagian besar penumpang memilih tidur atau menikmati film di layar kursi masing-masing. Suasana terasa tenang, hanya diselingi dengungan mesin pesawat dan sesekali suara pengumuman singkat dari kru.Gia mendorong troli makanan perlahan menyusuri lorong sempit, ditemani seorang rekan seniornya yang sibuk membagikan camilan ringan pada penumpang yang masih terjaga. Pikirannya sesekali melayang ke ponsel di saku seragam, masih menyimpan pesan yang belum ia balas, sebelum akhirnya kembali fokus pada pekerjaan di hadapannya.Tiba-tiba, seorang penumpang pria di kursi kelas bisnis bagian depan menggebrak meja lipatnya dengan kasar, membuat beberapa penumpang di sekitarnya tersentak dan menoleh. Pria itu berbadan besar, napasnya menyeruakkan bau alkohol yang menyengat hingga
Sepuluh menit yang diberikan Gara terasa seperti waktu tersingkat dalam hidup Gia. Ia duduk di sudut ruang briefing, mata menyusuri ulang setiap baris prosedur darurat yang tadi ditunjuk dengan jari Sagara, sambil sesekali melirik ponsel yang masih menampilkan pesan penawaran fantastis itu.Dua ratus juta rupiah. Angka itu terus berputar di kepalanya, bersaing dengan hafalan prosedur evakuasi yang harus ia kuasai sebelum penerbangan pagi ini dimulai. Uang sebanyak itu bisa langsung melunasi deposit apartemen barunya secara penuh, membuatnya benar-benar lepas dari segala hal yang masih berbau Rafa. Tapi ada satu pertanyaan yang terus mengganjal, kenapa harus dia? Baru sehari kerja, belum genap dikenal siapa pun di sini, kenapa kapten paling disiplin dan paling menakutkan seantero Atmaja Air justru memilihnya untuk jadi tameng perjodohan keluarganya?Belum sempat ia menemukan jawaban, suara salah satu senior memecah lamunannya."Gia, cepat sedikit. Kru lain udah mulai jalan ke garba
Seminggu setelah kepergiannya dari Blue Air, Gia masih sering terbangun tengah malam dengan tangan otomatis meraih ponsel, mencari notifikasi dari nama yang sudah tidak lagi ia simpan. Kebiasaan lama memang tidak hilang secepat keputusan yang ia ambil. Tapi setiap pagi, saat ia mengenakan seragam baru berwarna biru tua bergaris emas milik Atmaja Air, ada rasa asing yang perlahan berubah menjadi kebanggaan kecil. Ia memulai dari nol, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, itu murni pilihannya sendiri.Udara pagi di bandara kota barunya terasa lebih tajam, mungkin karena belum terbiasa, atau mungkin karena Gia sendiri yang datang dengan tekad berbeda. Ia berjanji dalam hati, kali ini ia akan membangun kariernya dengan kepala tegak, tanpa perlu lagi menggantungkan harga dirinya pada belas kasihan siapa pun.Namun dunia penerbangan besar seperti Atmaja Air tidak semudah bayangannya.Di ruang briefing, suasana pagi itu terasa lebih tegang dari biasanya. Beberapa senior berbisik-bisi
Keesokan paginya, suasana ruang kru di kantor Blue Air terasa lebih ramai dari biasanya, dipenuhi obrolan pagi sebelum jam briefing dimulai."Untung ada Kak Rafa kemarin waktu aku nyeri haid," suara Renata melengking dari ujung ruang kru, sengaja dikeraskan hingga terdengar sampai ke sudut ruangan. "Serius, dia sabar banget. Nganterin aku sampai apotek, nungguin obatnya, bahkan sampai nemenin aku duduk sambil ngusap punggung karena sakitnya nggak nahan. Baik banget, deh, orangnya."Gia baru saja meletakkan tasnya di loker. Tangannya berhenti sejenak di tengah gerakan menutup pintu logam, jantungnya berdetak lebih keras dari seharusnya untuk sebuah kalimat sesederhana itu.Beberapa rekan kerja tertawa kecil. "Kapten Rafa emang beda kalau soal perhatian sama kru," celetuk salah satu dari mereka, memuji tanpa sadar sedang menyayat.Satu per satu mata mulai melirik ke arah Gia, yang masih berdiri kaku di depan lokernya. Tatapan mereka berubah canggung, campuran rasa kasihan dan rasa pe
Gia masih berdiri kaku di tengah koridor markas, ponsel menempel di telinga, saat suara Rafa kembali menyerbu. "Gia, kamu masih di sana?"Koridor itu sepi, hanya lampu neon yang berdengung pelan di atas kepalanya dan gema langkah kaki dari lantai bawah yang sesekali menembus dinding. Gia menghentikan langkahnya, napasnya memburu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun."Aku nggak baper, Rafa," jawab Gia dingin, suaranya terdengar bergetar meski ia berusaha menahannya."Kamu ini ya, selalu aja memperbesar masalah kecil," potong Rafa dari seberang sana, nadanya jengkel. "Sudahlah, jangan mulai drama lagi. Aku lagi sibuk."Mendengar kalimat itu, pertahanan terakhir dalam diri Gia runtuh seketika. Ia sempat menatap kalender kecil di layar ponselnya sebelum tersambung tadi, tanggal yang sudah ia lingkari sejak sebulan lalu. Hari ini hari jadi hubungan mereka yang ketiga.Gia tidak pernah menuntut hadiah mewah atau makan malam romantis di tempat mahal. Ia hanya berharap Rafa bisa mel
Gia terdiam di tempatnya berdiri. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Padahal semalam ia sudah bersumpah tidak akan meminta apa pun lagi."Oh, iya. Maaf," ucap Gia pelan, dan sambungan diputus sepihak oleh Rafa sebelum ia sempat menambahkan apa pun. ‘Kenapa harus minta maaf?’ batinnya. Bahkan untuk bertanya pun ia sudah merasa bersalah.Ia menurunkan ponsel, menatap layar yang gelap. Hanya berselang tiga menit, benda itu bergetar hebat di genggamannya. Nama Rafa kembali tertera. Gia sempat tertegun sebelum mengangkatnya, dengan sisa harapan konyol yang kembali muncul."Halo, Raf?" tanyanya, suaranya serak.Bukan jawaban untuknya yang terdengar. Dari latar suara, samar-samar terdengar suara Renata yang manja. "Kak Rafa, aku bingung banget cara pengajuan cuti darurat ini," rengeknya."Bagian mana yang kamu bingung?" tanya Rafa. Nada suaranya jauh berbeda, sabar dan lembut, tidak ada lagi helaan napas berat."Semuanya," jawab Renata ringkih."Oke. Sekarang buka dokumen halaman perta







