Sinar matahari pagi di ruang VIP New York Presbyterian Hospital membiaskan pendar hangat di wajah Ava. Begitu daun pintu terkatup rapat dan langkah kaki tegas dr. Vance menghilang di sepanjang koridor, Ava langsung mengubah posisi duduknya. Meski gerakan itu memicu nyeri tumpul di paha kanannya, rasa penasaran yang membakar jauh lebih dominan. "Chloe, Suster Maria, kemari!" panggil Ava setengah berbisik. Tangannya mengayun, memberi isyarat agar kedua wanita itu mendekati brankarnya. Chloe menghela napas panjang seraya menyilangkan tangan di dada. "Ava, jujur ya, aksi godaanmu tadi benar-benar memalu—" "Lupakan soal itu!" potong Ava cepat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Beri tahu aku segala hal tentang dokter bedah kaku itu. Siapa sebenarnya dr. Adrian Vance?" Suster Maria, yang sedang mengganti kantung cairan infus di samping brankar, tersenyum geli melihat binar di mata sang top model. Sebagai perawat senior di ruang VIP, ia sudah terbiasa melihat respon para pasien
Last Updated : 2026-10-07 Read more