LOGINTragedi naas di Fifth Avenue hampir merenggut segalanya dari Aveline "Ava" Rosier—kariernya sebagai top model papan atas New York, hingga kemampuannya melangkah di panggung runway. Namun, takdir mempertemukannya dengan dr. Adrian Vance, seorang dokter bedah ortopedi jenius berdarah dingin yang dijuluki Pangeran Es. Bagi Adrian, Ava hanyalah pasien VIP yang bising dan penuh drama. Namun bagi Ava, mata tajam dan perhatian terselubung sang dokter kaku adalah satu-satunya kehangatan yang menggetarkan dadanya. Demi tetap dekat, Ava nekat menjalankan taktik berpura-pura sakit demi jadwal kontrol medis yang tak ada habisnya. Mampukah Ava meluluhkan Adrian?
View MoreSuara deru mesin New York di pagi hari selalu punya ritme tersendiri. Di dalam mobil Mercedes-Benz Sprinter bernuansa hitam legam yang melaju membelah kawasan Manhattan, suasana tak kalah riuh. Lampu-lampu rias yang melingkari cermin besar memantulkan pendar hangat, menyinari wajah seorang wanita yang tengah membiarkan jemari lincah para penata rias bekerja di atas kulit mulusnya.
Lampu kamar VIP 701 di lantai tujuh New York Presbyterian Hospital sudah diredupkan, membiarkan pendar kekuningan yang lembut menghiasi ruangan. Namun, suasana di atas ranjang pasien justru jauh dari kata tenang. Aveline Rosier memeluk ponselnya erat-erat ke depan dada, melompat-lompat kecil di atas kasur dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan luar biasa. Pesan singkat dari dokter Adrian Vance yang baru saja mendarat di layar ponselnya bukan sekadar ucapan terima kasih biasa; itu adalah sinyal pembuka dari dinding pertahanan sang Pangeran Es Manhattan. Ting! Sebuah pesan baru kembali masuk, membuat jantung Ava berdegup kencang. Adrian: "Sudah waktunya istirahat, Ava. Jangan begadang membaca naskah agensi, atau pemulihan otot kakimu terhambat besok." Ava terkekeh geli, jemari lentiknya segera menari di atas layar ponsel untuk membalas pesan tersebut. Ava: "Siap, Dokter Galak! Tapi ingat, kau juga harus tidur. Jangan sampai ada operasi darurat tengah malam yang membu
Lampu meja berona kuning temaram memancarkan pendar hangat di atas permukaan meja kerja kayu mahoni yang luas. Di dalam ruang Kepala Spesialis Bedah Ortopedi New York Presbyterian Hospital yang sunyi, dr. Adrian Vance duduk bersandar di kursi kulit hitamnya. Jarum jam dinding menunjuk pukul sebelas malam. Kesibukan bangsal rumah sakit berangsur-angsur reda, menyisakan keheningan pekat yang biasanya dinikmati Adrian untuk menelaah jurnal medis. Namun malam ini, perhatian pria itu sama sekali tidak tertuju pada tumpukan literatur ilmiah di sisi kiri mejanya. Pandangan mata abu-abu gelapnya terkunci lurus pada sebuah bingkisan kotak persegi berbalut kertas kado berwarna biru gelap dengan pita perak elegan yang terletak tepat di tengah meja. Kotak itu adalah pemberian pribadi dari Aveline Rosier usai perayaan ulang tahun sederhana di ruang istirahat sore tadi. Adrian menarik napas perlahan. Jemari panjangnya yang terbiasa memegang instrumen bedah dengan presisi tinggi kini terulur m
Matahari sore baru saja tenggelam di balik cakrawala Manhattan, menyisakan bias cahaya jingga yang menyelinap lewat jendela-jendela koridor New York Presbyterian Hospital. Di ruang istirahat dokter lantai lima, suasana yang biasanya sunyi dan steril mendadak dihiasi oleh bisikan-bisikan tertahan dan gemerincing benda kecil. "Awas, Suster Maria, pita perak itu jangan terlalu miring ke kiri!" bisik Aveline Rosier setengah tertahan. Meski langkahnya masih membutuhkan sepasang kruk siku, wanita itu bergerak lincah mengarahkan para perawat mendekorasi sudut ruangan. Berkat "investigasi rahasia" yang dilakukannya bersama dokter Julian dan Suster Maria dua hari lalu, Ava akhirnya mengetahui sebuah rahasia yang tidak pernah tercantum di papan rekam medis mana pun: hari ini adalah ulang tahun ke-30 dokter Adrian Vance. Pria yang selama ini mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain itu tidak pernah sekalipun merayakan hari kelahirannya sendiri. "Nona Rosier, kue re
Sore itu, koridor lantai tujuh New York Presbyterian Hospital terasa berbeda. Tidak ada papan rekam medis di tangan dokter Adrian Vance, melainkan sebuah jaket tebal berbulu domba yang ia sampirkan di bahu Aveline Rosier. Setelah berminggu-minggu terkurung di balik dinding steril kamar VIP, izin khusus akhirnya keluar dari sang kepala spesialis bedah, jalan-jalan sore di taman rumah sakit. "Aku bersumpah, bau pohon dan angin asli Manhattan ini rasanya seperti surga setelah berabad-abad menghirup udara antiseptik," seru Ava riang. Ia berdiri tegak di atas jalan setapak berbatu, mencengkeram sepasang kruk sikunya dengan mantap. Langkah demi langkah iaayunkan ke depan di atas permukaan rumput hijau yang luas, didampingi langsung oleh Adrian yang berjalan di sisi kanannya. Taman rumah sakit yang terletak di bagian belakang gedung itu cukup tenang, dinaungi pepohonan mapel tua yang daun-daunnya mulai menguning menyambut musim gugur. Sinar matahari keemasan menyapu lembut paras cantik A


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.