Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku

Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku

last updateLast Updated : 2026-11-05
By:  kopilatteUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
38Chapters
53views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

​Tragedi naas di Fifth Avenue hampir merenggut segalanya dari Aveline "Ava" Rosier—kariernya sebagai top model papan atas New York, hingga kemampuannya melangkah di panggung runway. Namun, takdir mempertemukannya dengan dr. Adrian Vance, seorang dokter bedah ortopedi jenius berdarah dingin yang dijuluki Pangeran Es. ​Bagi Adrian, Ava hanyalah pasien VIP yang bising dan penuh drama. Namun bagi Ava, mata tajam dan perhatian terselubung sang dokter kaku adalah satu-satunya kehangatan yang menggetarkan dadanya. Demi tetap dekat, Ava nekat menjalankan taktik berpura-pura sakit demi jadwal kontrol medis yang tak ada habisnya. ​ Mampukah Ava meluluhkan Adrian?

View More

Chapter 1

1. Kilau Runway Manhattan

Suara deru mesin New York di pagi hari selalu punya ritme tersendiri. Di dalam mobil Mercedes-Benz Sprinter bernuansa hitam legam yang melaju membelah kawasan Manhattan, suasana tak kalah riuh. Lampu-lampu rias yang melingkari cermin besar memantulkan pendar hangat, menyinari wajah seorang wanita yang tengah membiarkan jemari lincah para penata rias bekerja di atas kulit mulusnya.

Aveline Rosier—atau yang lebih dikenal dunia dengan nama Ava—menyandarkan punggungnya pada kursi kulit nan empuk. Matanya yang indah menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin. Bibirnya tersenyum tipis, memancarkan rasa percaya diri alami dari seorang top model papan atas yang telah menaklukkan panggung-panggung busana kelas dunia. Bagi Ava, panggung runway bukan sekadar tempat berjalan; itu adalah medan tempurnya, panggung di mana ia memegang kendali penuh atas pandangan semua orang.

"Ava, kumohon, fokus sebentar!" suara melengking Chloe, manajer sekaligus sahabat karibnya sejak awal karier, memecah kesenangan Ava yang sedang bersenang-senang mengamati pantulan dirinya. Chloe melangkah mendekat sembari mengetukkan jemarinya pada layar iPad yang dipenuhi jadwal berwarna-warni. "Setelah peragaan jam sembilan di Fifth Avenue, kau punya waktu persis dua puluh menit untuk touch-up, lalu langsung meluncur ke studio Vogue di Soho. Jangan berani-berani bernapas lega dulu!"

Ava tertawa renyah, sebuah nada riang yang begitu akrab dan selalu sanggup mencairkan ketegangan di sekitarnya. Ia berbalik sedikit, menatap Chloe dengan binar mata jahil. "Kau ini panik sekali, Chloe. Tenanglah sedikit. Kalau kau cemas terus begitu, kerutan di dahimu bakal mengalahkan lipatan kain gaun haute couture yang akan kupakai nanti."

"Kau bercanda di saat yang sangat tidak tepat, Aveline!" seru Chloe, walau sudut bibirnya menahan senyum. Ia menarik napas panjang, mencoba menata deretan angka dan jam di kepalanya. "Ini New York Fashion Week, Ava. Semua mata dunia tertuju padamu. Desainer utama kita bahkan hampir pingsan di belakang panggung karena gaun utamanya baru selesai dijahit setengah jam yang lalu."

"Dan itulah fungsinya aku ada di sini, Sayang," potong Ava mantap, menyelipkan nada percaya diri yang begitu memikat. Ia memiringkan kepalanya, membiarkan penata rambut menyemprotkan sedikit hairspray terakhir. "Apapun gaunnya, seberapa terlambat pun kain itu selesai dijahit, begitu aku melangkah keluar menembus tirai panggung, mereka tidak akan peduli pada masalah di belakang layar. Mereka hanya akan melihat mahakarya."

Chloe menggeleng-gelengkan kepala, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Terkadang aku heran dari mana kau dapat rasa percaya diri sebesar itu."

"Dari kerja keras bertahun-tahun, rasa cinta mati pada profesi ini, dan tentu saja..." Ava mengedipkan sebelah matanya centil, "...dua cangkir espresso tanpa gula yang kau belikan tadi pagi."

Gelak tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Chloe. Ketegangan yang tadinya membumbung tinggi mendadak menguap. Itulah pesona Ava yang tak pernah gagal membuat orang-orang di sekitarnya luluh. Di balik gemerlap dunia fashion yang serba kaku, dingin, dan penuh tekanan, Ava tetaplah sosok yang hangat, ceria, dan sangat membumi bagi orang-orang terdekatnya. Ia tidak pernah menganggap pekerjaannya sebagai beban, melainkan sebuah gairah hidup yang membakar semangatnya setiap hari.

Van mewah itu mendadak melambat saat melintasi persimpangan Times Square. Ava menoleh ke luar jendela kaca bernuansa gelap. Di sana, di antara hiruk-pikuk lalu lintas dan lalu lalang manusia yang tergesa-gesa, sebuah baliho digital raksasa menjulang tinggi di antara gedung-gedung pencakar langit.

Di atas papan reklame megah itu, wajah Ava terpampang sangat jelas. Ia mengenakan gaun sutra merah darah, memamerkan tatapan mata yang tajam nan memikat, diapit oleh tulisan nama merek busana mewah Prancis ternama.

Ava terpaku sejenak. Setiap kali melihat dirinya bertengger di sudut-sudut paling strategis kota ini, ada kepuasan membuncah yang membakar dadanya. Ia teringat betapa keras perjuangannya dari seorang gadis biasa hingga menjadi impian para desainer dunia. Rasa bangga yang membakar itu bukan karena rasa sombong, melainkan bukti nyata bahwa ia berhasil menaklukkan impian besarnya di kota paling keras di dunia ini.

"Indah, bukan?" gumam Chloe lembut, menyadari arah pandangan sahabatnya. Nada bicaranya kini berubah menjadi kehangatan seorang sahabat sejati. "Kau pantas mendapatkan setiap inci dari panggung itu, Ava."

Ava tersenyum tulus, memantulkan pendar lampu kota di matanya. "Aku mencintai hidupku yang sekarang, Chloe. Aku tidak bisa membayangkan hidup di dunia lain selain dunia yang penuh warna ini."

"Baguslah, karena dunia penuh warnamu sudah menanti di depan mata," sahut Chloe sambil menunjuk ke arah kaca depan mobil.

Mobil van mewah yang mereka tumpangi perlahan berbelok, memasuki jalur utama Fifth Avenue. Hawa dingin musim gugur merayap masuk perlahan lewat celah ventilasi. Jalanan aspal New York tampak berkilau basah, memantulkan bayangan lampu-lampu kota akibat gerimis tipis yang baru saja mengguyur kawasan tersebut.

Hanya berjarak beberapa blok di depan sana, panggung runway paling bergengsi musim ini telah berdiri megah. Ratusan fotografer, wartawan, dan tamu VIP telah berkumpul di balik pintu-pintu kaca yang menjulang. Ava membetulkan posisi duduknya, menarik napas dalam-dalam untuk menata detak jantungnya yang berdebar antusias, lalu mengumbar senyuman tercantik yang ia miliki. Sang top model siap melangkah menembus kilatan kamera dan menaklukkan New York sekali lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
38 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status