Cahaya matahari pagi menyelimuti kamar VIP New York Presbyterian Hospital, membiaskan pendar hangat di atas sprei tempat Ava berbaring. Tepat pukul delapan pagi, ketukan pintu yang teratur berbunyi dua kali sebelum sosok dr. Adrian Vance melangkah masuk. Seperti biasa, jas putihnya bersih tanpa kerut, membalut tubuh tegapnya yang menjulang. Di tangannya, papan rekam medis tersusun rapi. "Selamat pagi, Nona Rosier," sapa Adrian dengan nada datar, langsung mengarahkan pandangannya pada grafik perkembangan suhu dan tekanan darah di ujung brankar. Ava menghentikan jemarinya yang sedang menggeser layar tablet. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada, memasang raut wajah cemberut yang dibuat-buat. "Pemeriksaan pagi ini dibatalkan sampai Dokter memperbaiki kesalahan fatal itu." Langkah Adrian terhenti. Dahi sang dokter bedah berkerut tipis. Manik mata abu-abu gelapnya beralih dari papan medis, menatap lurus ke arah pasiennya. "Kesalahan fatal? Apakah ada peningkatan rasa nyeri di pa
Last Updated : 2026-10-09 Read more