"Naura, kenapa kamu sekarang jadi kayak gini?"Naura tertawa dingin. "Aku aja yang dulunya terlalu nggak guna, makanya bisa terus Ibu bohongi. Cuma sekarang aku nggak mau jadi orang bodoh lagi."Naura mendengar sepertinya ada suara ayah tirinya dari seberang sana, raut wajahnya tampak datar.Benar saja, detik berikutnya, suara Faris terdengar dari gagang telepon. "Naura, ini Om Faris. Ibumu mungkin emosinya agak nggak stabil, Om minta maaf ke kamu mewakili ibumu.""Coba lihat begini gimana, karena urusan pernikahan kamu sama Keluarga Pratama udah pasti, Sabtu minggu ini kedua keluarga kita janjian keluar buat membicarakan urusan pernikahan kalian. Om janji sama kamu, apa yang seharusnya jadi milikmu, nggak bakal kurang satu pun.""Oke, kalau gitu sampai ketemu Sabtu nanti."Setelah mematikan telepon, Faris menatap istrinya dengan kesal."Gimana sih kamu, ngurus anak satu aja nggak becus!"Alia kehabisan kata-kata. "Aku, aku juga nggak nyangka Naura sekarang jadi kayak gini."Wajah Fari
Leer más