Share

Bab 11

Author: Wuri Jiang
"Naura, kenapa kamu sekarang jadi kayak gini?"

Naura tertawa dingin. "Aku aja yang dulunya terlalu nggak guna, makanya bisa terus Ibu bohongi. Cuma sekarang aku nggak mau jadi orang bodoh lagi."

Naura mendengar sepertinya ada suara ayah tirinya dari seberang sana, raut wajahnya tampak datar.

Benar saja, detik berikutnya, suara Faris terdengar dari gagang telepon. "Naura, ini Om Faris. Ibumu mungkin emosinya agak nggak stabil, Om minta maaf ke kamu mewakili ibumu."

"Coba lihat begini gimana, karena urusan pernikahan kamu sama Keluarga Pratama udah pasti, Sabtu minggu ini kedua keluarga kita janjian keluar buat membicarakan urusan pernikahan kalian. Om janji sama kamu, apa yang seharusnya jadi milikmu, nggak bakal kurang satu pun."

"Oke, kalau gitu sampai ketemu Sabtu nanti."

Setelah mematikan telepon, Faris menatap istrinya dengan kesal.

"Gimana sih kamu, ngurus anak satu aja nggak becus!"

Alia kehabisan kata-kata. "Aku, aku juga nggak nyangka Naura sekarang jadi kayak gini."

Wajah Faris tampak muram. "Anak udah besar, pikirannya makin dalam, itu wajar aja."

"Jangan terburu-buru musuhan dulu, tunggu sampai urusan pernikahan udah dipastikan baru kita bahas lagi."

"Masalah ini jangan kasih tahu Freya dulu."

Alia menyunggingkan bibir. "Iya, paham."

…

Naura membawa suplemen kesehatan ke panti jompo.

Kakek meninggal dunia tiga tahun lalu, nenek menderita stroke, awalnya Naura ingin menyewa seorang perawat khusus di rumah untuk merawat beliau.

Namun, nenek sendiri yang meminta untuk tinggal di panti jompo saja agar tidak merepotkan.

Naura memilihkan panti jompo yang cukup bagus dari segala aspek, biasanya saat akhir pekan dia akan datang menjenguknya.

Urusan pernikahannya selalu menjadi hal yang paling dikhawatirkan oleh nenek.

"Nenek, cucu Nenek datang jenguk Nenek lagi nih."

Naura berjalan mendekati nenek seraya tersenyum.

Wanita tua yang ramah itu menatap cucunya sambil tersenyum manis. "Naura, kamu datang."

"Nenek, beberapa hari ini kakinya masih sakit nggak? Mau dipanggilkan tabib akupunktur buat obati Nenek nggak?"

Nenek Naura, Bu Reni tersenyum seraya mengibaskan tangan. "Nggak usah, badan sama kaki Nenek udah tua begini, mau diakupunktur buat apa lagi!"

Pada akhirnya Naura mengeluarkan akta nikah berwarna merah itu. "Nenek, aku udah nikah."

Bu Reni tertegun sejenak, lalu seketika berujar gembira, "Apa pacarmu yang tubuhnya tinggi besar dulu itu?"

Binar mata Naura mendadak redup.

Soal hubungannya dengan Kenzo, dia memang hanya pernah menyebutkannya sekilas kepada nenek.

Dia tidak berani memperlihatkan wajah depannya kepada nenek, hanya mengambil foto wajah Kenzo dari samping secara diam-diam untuk diperlihatkan sekilas kepada nenek.

Dia tidak ingin nenek khawatir. "Iya, Nenek, kami udah nikah."

"Pesta pernikahannya nggak mau aku buat meriah, semuanya serba sederhana aja, nanti kalau dia udah selesai sibuk, aku bawa dia ke sini buat ketemu Nenek."

"Bagus! Ini kabar gembira yang sangat besar!"

Bu Reni menarik Naura masuk ke dalam kamar, lalu dari tumpukan pakaian yang terbungkus berlapis-lapis, dia mengeluarkan sebuah kotak.

"Kemari, Naura, di sini semuanya yang Nenek simpan buat kamu."

"Nenek tua ini nggak punya banyak uang, ini semua pemberian kakekmu dan ayahmu dulu buat Nenek."

Naura menatap kartu bank yang dikeluarkan neneknya dengan hati-hati, hingga rasa perih menyerang hidungnya. "Nenek, aku nggak mau, ini simpan aja buat biaya hidup Nenek."

Bu Reni mendelik menatap cucunya. "Nenek tiap hari di panti jompo ini, mana butuh uang banyak! Kartu ini dikirimkan ayahmu tiap tahun baru dulu, kalau dihitung-hitung ada sekitar 10 miliar, kamu simpan baik-baik."

"Hotel ayahmu itu, kamu mau balik kerja di sana nggak? Kalau kamu mau balik, Nenek yang bakal bicara sama ibumu!"

Naura memegang tangan wanita tua itu. "Nenek, nggak usah terburu-buru. Soal hotel pasti bakal balik kok, nanti kalau butuh bantuan Nenek, baru aku bilang lagi sama Nenek!"

"Ya udah, semuanya ikut kamu aja."

"Pak Davin, Keluarga Pratama sama Keluarga Jasma udah menjadwalkan pertemuan Sabtu minggu ini."

Davin memicingkan matanya. "Dijadwalkan di resto yang mana?"

"Dijadwalkan di Ruang Kaisar milik grup kita."

Pria itu menyunggingkan senyum penuh arti. "Batalkan semua jadwalku di hari itu."

"Sekalian pesankan satu ruangan di sebelah ruangan mereka buat aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status