Share

Bab 12

Author: Wuri Jiang
Freya pada akhirnya tetap mengetahui masalah Naura yang akan dijodohkan dengan pria playboy dari Keluarga Pratama tersebut.

"Freya, dengar-dengar keluargamu mau dijodohkan sama Keluarga Pratama ya?"

Freya tertawa mengejek. "Nggak bisa dibilang keluargaku juga sih. Itu 'kan kakak tiriku."

"Oh, kakak dari ibu tirimu sama mantan suaminya itu ya!"

Saat masih kecil dulu, beberapa teman dekat Freya tidak jarang membuat Naura menderita.

Saat pesta ulang tahun Freya, semua orang berdandan dengan sangat cantik dan mewah, sementara Naura justru datang memakai seragam sekolah.

Freya tersenyum seraya memperkenalkannya kepada semua orang, tapi dengan cepat dia tidak lagi menghiraukannya.

Naura yang seperti orang kampungan itu merasa sangat gugup hingga tidak berani bicara, lalu bersembunyi di sudut ruangan dan duduk dengan patuh.

Belakangan Freya sangat suka membawanya ikut serta dalam acara kumpul-kumpul seperti ini.

Dengan latar belakang keluarga mereka, acara kumpul-kumpul antar teman dekat seperti ini, pesta minum kecil, atau makan malam resmi, sudah biasa mereka jalani sejak kecil.

Sedangkan tata krama sosial seperti itu sudah dipelajari Freya sejak kecil.

Namun Naura, meskipun diberi gaun yang cantik, dia tetap saja tidak cocok dengan suasana seluruh pesta.

Baru beberapa kali saja, Naura sudah tidak mau lagi pergi bermain dengannya, bahkan mengusulkan sendiri untuk kembali tinggal di rumah tuanya yang sempit.

Freya berpikir, meskipun wajahnya sangat cantik, meskipun dia menikah dengan Handi si pria playboy itu, apa dia pikir bisa melangkah masuk ke dalam keluarga kaya raya?

"Siapa di antara kalian yang akrab sama Vina, ajak dia keluar buat kumpul bareng. Jangan bilang ada aku, paling bagus suruh dia bawa sahabatnya itu sekalian!"

Akses Naura untuk mendekati kalangan kelas atas hanyalah melalui sahabat baiknya itu, yang juga merupakan keponakan Kenzo.

Freya ingin melihat, setelah dia menghancurkan mimpi keluarga kayanya dengan tangannya sendiri, apakah wanita itu akan tetap menikah atau tidak!

....

Vina mengetahui kalau Naura sudah mengundurkan diri dari perusahaan omnya.

"Naura, kamu kerjanya udah bagus, kenapa malah mau keluar sih?"

Naura tidak berniat memberi tahu Vina soal hubungan rahasianya dengan Kenzo. Kalau memberi tahu Vina, kelak dia mungkin bahkan tidak sanggup menghadapi sahabatnya lagi.

Hubungan yang tidak bernilai untuk dibahas ini, cukup dia lupakan dalam diam saja.

"Iya, mau cari suasana baru aja. Aku udah nggak mau jadi sekretaris lagi."

Vina berpikir sejenak. "Terus kamu mau kerja apa?"

"Eh, Naura, besok kebetulan ada acara kumpul-kumpul nih, aku bawa kamu buat kenal sama lebih banyak orang ya. Siapa tahu di perusahaan mereka ada posisi yang cocok."

Naura ingin menolak, tapi Vina sepertinya sudah menebak kata-katanya duluan. "Nggak boleh nolak aku ya. Naura, aku 'kan bukan mau kasih kamu jalur belakang, cuma mau kasih kesempatan wawancara aja."

"Benar 'kan kataku?"

Naura tersenyum manis. "Iya, kamu benar kok."

Rencananya untuk kembali ke hotel belum dipastikan, jadi dia tidak buru-buru memberi tahu sahabatnya.

Dia juga memang tidak sanggup menolak niat baik dari sahabatnya itu.

....

Klub malam kelas atas.

Handi merangkul seorang gadis bergaun putih di pelukannya. Dia sudah terbiasa dengan wanita yang seksi, jadi sesekali menikmati wanita polos juga terasa lumayan.

Saat Freya melangkah masuk, dia melihat Handi sedang menggoda pasangan wanita di pelukannya.

Bibir wanita yang merah muda itu saling bertautan dengan Handi tanpa rasa malu sama sekali.

Matanya dipenuhi dengan ejekan dan rasa jijik.

Nanti saat Naura datang, pertunjukan bagus baru akan dimulai.

"Tuan Handi, Freya datang nih."

Handi melepaskan bibir wanita itu dengan enggan, lalu mengangkat alisnya. "Oh, bukannya ini putri dari Keluarga Jasma."

"Kamu tahu nggak soal urusan aku kencan buta sama kakak kandung kamu minggu lalu?"

Freya menyunggingkan senyum. "Nggak bisa dibilang kakak kandung juga sih."

Handi tentu saja tahu, wanita itu hanyalah kakak tiri Freya.

Namun, dia tidak menyangka kakak tirinya akan seantusias itu.

Baru pertama kali bertemu saja, sudah mau pergi sewa kamar bersamanya di luar.

Tapi, sayang sekali, kakak tirinya bukan tipe wanita yang dia sukai.

Cuma buat coba-coba rasa baru sih boleh saja, tapi kalau mau jadi pasangan tetapnya, masih belum cukup memenuhi syarat.

Tapi, lumayan cocok kalau cuma ditaruh di rumah buat menjaga anak-anaknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status